Wajah Baru Area PKL dengan Desain Elok

Penulis: Dede Susianti Pada: Jumat, 02 Mar 2018, 08:09 WIB Megapolitan
Wajah Baru Area PKL dengan Desain Elok

Petugas Satpol PP menggunakan alat berat membongkar lapak PKL dan kios liar di sepanjang Jalan Raya Puncak, Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/9/2017)---ANTARA/Yulius Satria Wijaya

PEMERINTAH pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-Pera) merancang perluasan area relokasi pedagang kaki lima (PKL) di kawas­an Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Sebuah desain baru disiapkan untuk membantu Pemerintah Kabupaten Bogor menata PKL Puncak.

Sesuai instruksi Presiden Joko Widodo dan hasil sidang kabinet beberapa waktu lalu, penertiban dan relokasi PKL dilakukan dalam rangka penataan jalan dan kawasan Puncak. Sebagai tindak lanjut, Kemen PU-Pera menawarkan desain area relokasi PKL yang diperluas menjadi 5 hektare.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Pengembangan Penelitian Kabupaten Bogor Syarifah Sopiah menyambut baik bantuan desain itu. Apalagi desainnya mempertimbangkan lingkung-an, budaya, dan kebutuhan.

“Dari Kemen PU-Pera membantu kita membuat rest area atau tempat relokasi PKL. Yang tadinya kemampuan kita hanya 1 hektare, tapi nanti kita buat 5 hektare,” kata Syarifah seusai rapat di ruang rapat Bupati Bogor di Cibinong, kemarin sore.

Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bogor Dace Supriadi, yang juga berperan selaku Ketua Tim Penataan PKL Puncak mengatakan, dalam rancangan Kemen PU-Pera itu area relokasi baru memiliki kapasitas 216 lapak PKL. Adapun kebutuhan yang belum terakomodasi, mulai dari area Puncak bawah hingga perbatasan Cianjur, mencapai lebih dari 300 lapak PKL.

Secara keseluruhan jumlah PKL yang ada di sepanjang jalur Puncak kurang lebih 1.200. Sebanyak kurang lebih 700 di antaranya ialah pedagang asli Kabupaten Bogor. Sebagian besar dari mereka sudah berhasil ditempatkan. “Dan sebagian lainnya sudah ada yang beralih. Nah, sisanya yang juga pedagang asli atau warga Kabupaten Bogor ada 300-an lagi,” terang Dace.

Untuk itu, pihaknya meminta revisi desain agar bisa menampung seluruh PKL yang ada. “Khususnya terkait dengan jumlah lapak. Kami minta direvisi lagi. ­Karena belum ada kesepakatan,” ­ungkapnya.

Meski ada revisi dia memastikan, program penataan PKL kawasan Puncak itu akan rampung pada tahun ini. “Ini program gerak cepat. Kalau sudah matang desainnya, sudah bisa ditindaklanjuti dengan cut and field yang 4 hektare, lelang dan pengerjaan fisik. Kita sepakat target selesai Oktober 2108,” tegasnya.

Dengan penambahan luasan area itu, perlu dilakukan penghitungan ulang sesuai dengan luas lapak baru. Sebelumnya atau dengan lahan satu hektare, lapak hanya seluas 1x2 meter. Dengan rancangan 5 hektare, luasannya jadi 2x3 meter.

Kepala Balai Litbang Perumahan dan Permukiman Kementerian PU-Pera Kuswara menegaskan, penghitungan itu tengah dilakukan dengan saksama karena kita tidak mau mengubah wajah Puncak.

“Puncak itu alam. Kita ­jangan sampai buat kerusak­an di sana. Tentu ada titik temu antara kebutuhan pembangunan, PKL, dan alam. ­Tidak ingin ego, alam terus. PKL ­tidak tertampung, alam rusak. Keseimbang-an itu di­atur,” paparnya.

Untuk mengejar target penyelesaian, pihaknya melakukan pertemuan secara maraton dengan Pemkab Bogor.

Desain baru
Meski masih perlu revisi, ketua tim penataan tersebut mengakui desain baru lebih bagus ketimbang desain ketika area masih seluas satu hektare hasil rancangan pemkab.

“Mereka (Kementerian PU-Pera) juga siap untuk membia-yai. Jadi anggarannya anggaran kementerian. Jadi tidak pusing lagi, karena diambil alih kementerian,” kata Dace.

Pemkab, ujarnya, hanya perlu membiayai sewa lahan dan tanaman saja. Sebelumnya, pemkab menganggarkan Rp560 juta untuk tanaman di lahan satu hektare yang saat ini sudah masuk tahap cut and field dan siap menuju tahap pengerjaan fisik.

Balai Litbang Perumahan dan Permukiman ­Kementerian PU-Pera menggunakan konsep khusus untuk desain baru yakni Anjungan Cerdas. Ini ialah kali ketiga Kemen ­PU-Pera menggunakan konsep tersebut. Anjungan Cerdas sebelumnya juga digunakan di Trenggalek dan Bali.

“Yang namanya cerdas itu, ada pendidikan, ada pusat ekonomi, ada pariwisata. Perpaduan budaya dan alam,” kata Kuswara. Sejumlah fasiitas itu, menurutnya, akan dibangun secara terintegrasi. (J-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More