Tarawangsa, Pemanggil Dewi Sri

Penulis: MI/IWAN J KURNIAWAN Pada: Minggu, 15 Mar 2015, 00:00 WIB Weekend
Tarawangsa, Pemanggil Dewi Sri

GRAFIS/EBET

LANGIT sedikit mendung di kawasan Kampung Cijere, Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, siang itu. Anak-anak bertelanjang kaki asyik bermain bola sepak di selingkung lapangan kampung berbecek.

Aktivitas warga di kampung sangat beragam. Mulai dari berdagang hingga bertani. Sebagai daerah pertanian, Rancakalong masih menyimpan mitos dan legenda. Berakar kuat dalam tatanan kehidupan masyarakatnya hingga kini. Mereka menjaga ajaran-ajaran adiluhung lewat hidup berkesenian bersama.

Penghormatan pada pare (padi) dalam falsafah Sunda Buhun sangat penting. Warga menempati kedudukannya sangat tinggi. Luapan kebahagian pun kerap kali para petani lakukan. Berawal dari padi mereka ambil di leuit (lumbung) hingga penanaman di sawah saat musim tanam kembali datang.

Sumedang merupakan sebuah kota kecil. Berada di antara dua kota besar, yaitu Bandung dan Cirebon. Kota ini sering dikenal sebagai tempat persinggahan sementara waktu bagi pelawat, terutama yang melakukan perjalanan darat antara Bandung dan Cirebon.

Kekhasan tempat ini ialah makanannya. Tahu sumedang sangat tersohor hingga ke berbagai pelosok Tanah Air. Citarasa gurih bisa membuat para pelancong ketagihan. Namun, tidak hanya itu, tradisi leluhur pun masih kuat warga jaga.

Di balik kehidupan masyarakat agraris di Rancakalong. Ada tradisi yang sudah bertahan sejak lama. Itu menjadi bagian kehidupan masyarakat suku Sunda di kawasan tersebut. Tak mengherankan, ada keuletan mengolah pertanian. Itu membuat orang Sunda diyakini memiliki etos, watak, dan karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup.

Watak orang Sunda memiliki ciri khas, yaitu cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/cerdas). Itu sudah melekat erat pada masyarakat di Rancakalong. Berlangsung sejak zaman Salaka Nagara sekitar 150 Masehi hingga ke zaman Sumedang Larang pada abad ke-17.

Di balik kehidupan perdesaan, masyarakat Kampung Cijere kini masih mewarisi petuah leluhur. Itu bisa kita temukan lewat suguhan kesenian tarawangsa.

Secara harfiah, tarawangsa merupakan kesenian tradisi upacara adat. Biasanya, warga lakukan untuk peringatan muludan (Maulid Nabi) dan ngabubuy pare (panen padi). Semuanya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen padi yang melimpah.

Tradisi kesenian tarawangsa menjadi kekhasan tersendiri. Kesenian itu masih memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan, banyak peneliti mengkaji adanya hubungan masa lalu dan masa kini. Tujuannya untuk menjaga nilai-nilai dan kearifan lokal.

"Tarawangsa tidak bisa dilepaskan dari tradisi padi sebagai sumber kehidupan. Unsur kesenian yang ada hanya sebagai bagian pelengkap masyarakat adat, terutama dalam melaksanakan kegiatan pertanian. Kompleksitas dalam kesenian membuat semuanya merasa sepenanggungan untuk menjaganya," ujar dosen Sastra Sunda, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Tedi Muhtadin, pertengahan pekan ini.

Ia menilai keberadaan kesenian tarawangsa memiliki hubungan dengan kepercayaan pada Sunda Wiwitan. Untuk itulah, Tedi tak menampik telah terjadi sinkritisme dalam budaya setempat. "Sinkritisme sebagai bagian eksistensi. Di sini ada strategi untuk mempertahankan kesenian leluhur itu sendiri," jelas Tedi.

Alat musik tarawangsa berbentuk mirip seperti alat musik rebab. Resonatornya terbuat dari kayu. Memiliki leher panjang dan bersenar dua utas. Di masa lalu, para petani menggunakannya sebagai alat pengusir hama. Sebut saja, burung dan tikus.

Ada alat musik lain, yaitu sondari. Terbuat dari bambu yang dilubangi. Untuk senarnya, menggunakan sembilu yang dicungkil sebagai tali. Tak lupa, ada pengganjal di tengah untuk mengeluarkan bunyi. Cara memainkannya dipukul. Sehingga, mengeluarkan bunyi yang disebut celempung. Alat musik itu kemudian warga kembangkan, terutama menggunakan bahan kayu dan kawat. Penambahan tujuh senar membuat alat musik petik itu lambat-laun disebut kacapi. Setelah petikan, kacapi disetel. Resonansinya mampu mengeluarkan bunyi merdu.

Lewat musik itu, warga pun terus berinovasi. Mereka membuat lagi alat musik yang lain. Mereka menyiapkan kayu berbentuk kotak persegi panjang. Lalu, mereka bubuhi dua kawat (senar) di kotak tersebut. Ada penyetel untuk melaraskan suara. Cara membunyikannya pun dengan cara digesek. Hasil suara musik itulah yang warga sebut tarawangsa hingga kini.

Seni jentreng
Pada setiap pementasan, warga selalu melantunkan lagu-lagu wajib. Tentu saja, semuanya berbahasa Sunda. Penggabungan antara musik dan lagu itulah menjadi seni jentreng. Pementasan pun berlangsung pada saat syukuran hasil panen tiba.

Tak mengherankan, pekan lalu, masyarakat di Kampung Cijere masih memainkan kesenian tarawangsa. Setiap pementasan pun tidak harus dalam acara pesta raya. Bisa kita temukan setiap saat karena sudah berakar dalam masyarakat agraris tersebut.

Bila kita susuri secara rinci, ada tujuh lagu dalam seni jentreng. Para pemain pun orang-orang tua. "Anak-anak juga suka, namun mungkin mereka malu sehingga tidak begitu peduli pada kesenian sendiri," tutur Yulianto, salah satu warga Sumedang.

Dalam seni jentreng, lagu-lagu yang pun bercorak santai dan ritmis. Semua prosesi itu sebagai kisah dalam proses menjemput dan mengantar kembali Dewi Sri. Ia sebagai dewi padi dalam kepercayaan masyarakat setempat.

Ketujuh lagu dan tarian, yaitu pengambat (mengundang), pengapungan (menembang), pemapak (menjemput), penganginan (beristirahat), panimang (menimang-nimang), lalayaran (mengadakan penghormatan), dan pangbalikan (mengantar kembali).

Semua proses itu berpaku pada kepercayaan akan kehadiran Dewi Sri. Warga menggelar kesenian tarawangsa agar hasil padi di tahun-tahun mendatang pun kembali bagus dan banyak seperti sedia kala.

Inilah kesenian adiluhung. Berakar pada kepercayaan langit yang masih kuat di Rancakalong. Mereka menggelar tradisi secara turun-temurun. Tujuannya hanya satu. Sebagai bentuk penghormatan atas hasil pertanian yang berlimpah ruah.(M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More