Jaga Lahan Basah, Jaga Ekosistem dari Bahaya Nitrat

Penulis: Administrator Pada: Sabtu, 03 Feb 2018, 15:15 WIB Humaniora
Jaga Lahan Basah, Jaga Ekosistem dari Bahaya Nitrat

ANTARA/RAISAN AL FARISI

PENGGUNAAN pupuk secara berlebihan akan membawa nitrat, salah satu senyawa yang terkandung dalam pupuk masuk ke aliran sungai.

Penelitian terbaru dari Universitas Minnesota memberikan wawasan baru yang menunjukkan beberapa lahan basah di daerah aliran sungai (DAS) sangat efektif mengurangi nitrat di sungai.

Bahkan lima kali lebih efisien per satuan luas dalam mengurangi konsentrasi nitrat dibandingkan strategi mitigasi berbasis lahan lainnya.

Riset yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah Nature Geoscience dipimpin periset dari University of Minnesota College of Science and Engineering's St Anthony Falls Laboratory dan the University's College of Biological Sciences.

Dalam riset itu, peneliti menggunakan contoh air yang dikumpukan sejak empat tahun berasal lebih dari 200 saluran air di wilayah Sungai Minnesota seluas 7.100 mil persegi. Kemudian dilengkapi juga dengan informasi geospasial tentang penggunaan lahan di DAS.

Sebelumnya, di daerah pertanian, seperti pada wilayah midwest Amerika Serikat, kelebihan nitrat yang berasal dari pupuk tanaman lantas masuk ke sungai melalui parit ataupun sistem drainase.

Begitu konsentrasi nitrat tinggi, itu akan berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan manusia. Seperti pencemaran air minum dan zona mati di Teluk Meksiko.

"Restorasi lahan basah bisa menjadi salah satu metode paling efektif untuk peningkatan kualitas air secara menyeluruh, kaitannya dalam menghadapi perubahan iklim dan meningkatnya permintaan pangan global," ujar salah satu penulis di tim penelitian, Jacques Finlay dari Departemen Ekologi, Evolusi, dan Perilaku di Fakultas Ilmu Biologi Universitas Monnesota, seperti dilansir pada laman Sciencedaily.

Hasil penelitian itu tidak hanya membantu memajukan ilmu pengetahuan tentang lahan basah dan pengendalian pencemaran, tetapi juga dapat memberikan aplikasi praktis bagi para praktisi yang ingin mengembangkan panduan tentang tapak restorasi lahan basah, potensi, serta manfaatnya.

Tom Torgersen, Direktur program Air, keberlanjutan dan Iklim dari National Science Foundation (NSF) yang mendanai penelitian tersebut mengatakan studi itu menunjukkan, mempertahankan, atau memulihkan lahan basah di daerah DAS dekat lahan pertanian yang dikelola secara intensif akan mengurangi nitrat di sungai dan memperbaiki kualitas air setempat, juga mengurangi ekspor nitrat ke zona hipoksia Teluk Meksiko.

Nutrien bagi tanaman air

Bagaimana proses reduksi terjadi? Apabila tanaman di dalam lahan basah terjaga, nitrat tersebut akan terserap sebagai nutrien oleh algae, plankton, atau tanaman air lainnya.

Proses nitrifikasi juga bisa terjadi, sehingga senyawa nitrat berubah menjadi nitrit lalu menjadi N2O dan N2, barulah terlepas ke atmosfer.

"Banyaknya N2 di atmosfer tidak masalah, sedangkan kalau nitrat terlalu banyak di air akan timbul eutrofikasi, alga tumbuh subur, lalu air menjadi hijau. Kalau sungai banyak nitrat, dampaknya terlihat saat air masuk ke danau. Danau jadi dipenuhi tumbuhan eceng gondok," ujar Head of Office Wetlands International Indonesia, I Nyoman Suryadiputra, Jumat(2/2).

Lahan basah sendiri beragam jenisnya, mulai dari rawa, danau, hutan mangrove, hingga lahan gambut. Selain berfungsi mereduksi nitrat, lahan basah, seperti mangrove berperan sebagai penyimpan karbon, penahan abrasi pantai, serta tempat yang nyaman bagi perkembangan kepiting juga ikan.

Sementara gambut, besar manfaatnya sebagai penyimpan karbon juga hidup keanekaragaman hayati di dalamnya. (Sciencedaily.com/X-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More