Selasa 09 Januari 2018, 14:34 WIB

Seluruh Pedagang Wajib Jual Beras Medium dari OP

Gabriela Jessica Restiana Sihite | Ekonomi
Seluruh Pedagang Wajib Jual Beras Medium dari OP

ANTARA

 

PEMERINTAH memperluas titik operasi pasar (OP) beras medium di berbagai wilayah Indonesia guna meredam kenaikan harga. Pedagang pasar tradisional yang disasar oleh pemerintah wajib menjual beras medium yang digelontorkan Perum Bulog tersebut.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan pedagang yang enggan menjual beras Bulog patut dicurigai sebagai spekulan. Bila terbukti pedagang tersebut hanya ingin menjual jenis beras di atas HET, pemerintah melalui Satgas Pangan akan menindak secara hukum.

"Bagi para pedagang yang tidak bersedia menjual beras ini, patut diduga bahwa dia menikmati kenaikan harga yang tidak wajar. Bila terbukti, ya tangkap. Kami ada Satgas Pangan dan kami akan keras karena itu adalah upaya spekulasi yang merugikan rakyat," ucap Enggar usai melepas OP beras medium di gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Jakarta, Selasa (9/1).

Adapun beras medium yang dilepas selama OP merupakan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang disalurkan melalui Bulog. Pemerintah mematok HET untuk beras OP sebesar Rp9.300 per kilogram (kg).

Menurut Enggar, harga tersebut sudah menguntungkan bagi pedagang, di samping stoknya yang tersedia dari pemerintah. Karena itu, menurut dia, tidak ada alasan bagi pedagang untuk menolak beras medium milik Bulog.

Pemerintah, lanjut Enggar, memperluas OP agar pasokan beras medium makin menjangkau masyarakat. Pasokan yang kurang di pasaran telah membuat harga beras medium yang kian merangkak. Menurut pantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga beras medium saat ini berkisar Rp11 ribu-Rp12 ribu per kg, atau di atas HET yang ditetapkan sebesar Rp9.450 per kg di wilayah produsen beras.

Sebagaimana diketahui, OP beras medium dimulai sejak Oktober 2017 untuk wilayah Jabodetabek karena stok menipis. Lalu, pemerintah memperluas OP ke berbagai daerah yang membutuhkan beras medium lebih banyak menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2018.

"Desember juga sudah mulai OP di seluruh wilayah, tetapi belum masif. Yang dimulai hari ini akan masif, semua titik kita masukin hingga 31 Maret 2018. Sebab, kalau tidak masif, orang belum melihat ketersediaan beras medium," papar Enggar.

Pemerintah meyakini perluasan OP akan segera menurunkan harga beras medium menjadi sesuai HET. Enggar memprediksi harga akan mulai turun dalam dua hari ke depan.

Di kesempatan yang sama, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengaku siap mengguyur stok beras yang ada ke seluruh pasar yang membutuhkan. Saat ini, stok CBP di Bulog sekitar 250 ribu ton.

"Tapi CBP itu adalah angka milik pemerintah. Bulog juga milik pemerinah. Artinya, kalau CBP tidak cukup, kewajiban kami melakukan penggeseran beras yang dimiliki Bulog untuk stabilisasi harga," ucapnya.

Sepanjang periode OP, Bulog mencatat sebanyak 91.149 ton beras medium yang sudah disalurkan. Selama Oktober-Desember 2017 tercatat sebanyak 53.241 ton, sedangkan pada 2-8 Januari 2018 penyaluran beras mencapai 37.908 ton dan meningkat setiap harinya.

Djarot menyebut pihaknya juga terus menambah mitra pedagang untuk menjual beras OP. Pada Desember 2017, sebanyak 1.172 mitra pedagang yang bekerja sama dengan Bulog. Jumlah tersebut meningkat menjadi 1.838 mitra pada Januari 2018.

"Sejak Januari ini kami dibantu pedagang, terutama di pasar tradisional. Posisi pada 8 Januari 2018, ada 666 pedagang yang menjualkan beras medium dari kami. Insa Allah kita tumbuhkan terus jumlahnya yangg intinya kami sepakat membantu pemerintah menyalurkan beras dengan harga yang wajar," imbuh Djarot. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More