Senin 18 Desember 2017, 10:13 WIB

KB Jangka Panjang Minim

Putri Rosmalia Octaviyani | Humaniora
KB Jangka Panjang Minim

ANTARA/R REKOTOMO

 

METODE kontrasepsi jangka panjang (MKJP) terbukti paling efektif untuk menekan angka kehamilan.

Namun, hingga saat ini MKJP masih belum menjadi pilihan mayoritas pasangan usia subur di Indonesia.

"Jenis MKJP seperti IUD, implan, dan sterilisasi berupa vasektomi dan tubektomi telah terbukti secara ilmiah sebagai metode paling efektif menjarangkan kehamilan. Sayangnya, pengguna MKJP di Indonesia kalah jauh dari metode pil KB dan suntik," ujar Direktur Bina Kepersetaan KB Jalur Swasta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Widwiono pada diskusi bertajuk Keluarga Berencana untuk Menurunkan Kematian Ibu, di Jakarta, Jumat (15/12).

Ia mengatakan penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang di Indonesia masih memprihatinkan.

BKKBN terus mendorong penggunaan MKJP, tetapi pada 2012 baru tercapai 17%, dan pada 2017 naik menjadi 21% dari total penggunaan alat kontrasepsi.

"Tetapi yang lebih menyedihkan, justru penggunaan suntik semakin tinggi. Kebanyakan diberikan oleh bidan swasta dan suntik yang diberikan pun suntik sekali sebulan," kata Widwiono.

Padahal, sambung dia, jika Indonesia ingin sukses menekan angka pertumbuhan penduduk dan AKI, setidaknya pencapaian penggunaan MKJP harus menyentuh angka 65%.

Pada 2017 AKI masih sekitar 259-305 per 100 ribu kelahiran. Jauh dari target 102 per 100 ribu kelahiran.

Survei Demografi dan Kependudukan 2012 menunjukkan sekitar 32,5% AKI terjadi akibat melahirkan terlalu muda tua dan terlalu muda, dan sekitar 34% akibat kehamilan yang terlalu banyak atau lebih dari tiga anak.

Dalam rangka menaikkan pengguna MKJP, BKKBN membuat program satu kabupaten satu dokter ahli kandungan kebidanan yang bisa melayani tubektomi, dan satu dokter umum yang dapat melayani vasektomi.

Program itu akan mulai dicanangkan tahun depan.

"Karena angka vasektomi dan tubektomi ini masih sangat rendah. Vasektomi baru 7% dan tubektomi hanya 13%," imbuh Widwiono.

Terlalu muda

Pada kesempatan sama, Guru Besar Obstetri dan Ginekologi Fakultas kedokteran Universitas Indonesia, Biran Affandi, mengatakan data dari RS Cipto Mangunkusumo menunjukkan sebagian besar kematian AKI akibat perempuan melahirkan terlalu muda.

Oleh karena itu, diperlukan strategi mengubah perilaku reproduksi untuk menekan AKI, yaitu dengan perencanaan kehamilan.

"Peran KB sangat penting dalam menurunkan AKI. Jika KB gagal, AKI tidak akan turun. Jangan harap AKI akan turun kalau KB jeblok."

Survei BKKBN 2015 menunjukkan 51% remaja putri di perkotaan sudah melakukan hubungan seksual dan di perdesaan sekitar 40%.

Ketika terjadi kehamilan tidak diinginkan, mereka tidak memiliki kesempatan menjadi remaja, tetapi langsung berperan sebagai ibu dengan segala kompleksitasnya.

"Padahal, kehamilan terbaik ialah pada usia 20-35, ketika seorang perempuan sudah siap secara fisik dan mental," kata Biran. (Pro/H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More