Ealah..., Korupsi sudah Marak sejak 1884

Penulis: Ardi Teristi Hardi/P-3 Pada: Kamis, 12 Mar 2015, 00:00 WIB Politik dan Hukum
Ealah..., Korupsi sudah Marak sejak 1884

DOK MI

DARI arsip yang ditelitinya, antropolog UGM Pujo Semedi menemukan bahwa korupsi di Nusantara sudah ada sejak 1884.

Hal itu diungkapkannya dalam seminar tentang Kajian Strategi Nasional Penanggulangan Korupsi di Graha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, Selasa (10/3).

Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM itu menjelaskan bahwa korupsi yang ia temukan itu terjadi di sektor perkebunan.

Ceritanya, saat itu sebuah perusaan membeli 10 ribu meter kubik pupuk kandang dengan harga 30 sen gulden per kubik.

"Namun, tiba-tiba proyek tersebut dihentikan karena kualitas pupuk yang sangat buruk dan harga pupuk yang terlalu mahal," terang dia.

Perusahan mencium ada praktik kotor dalam pembelian pupuk tersebut. Para mandor ternyata berkolusi dengan pemilik kerbau untuk mencampur pupuk dengan sampah.

Catatan arsip yang lain ditemukan pada 5 Mei 1891.

Mandor Radas dipecat karena terbukti mencuri kopi milik perusahaan.

Ternyata tidak hanya mandor, pencurian juga dilakukan oleh petani sekitar yang sebagian bekerja sebagai kuli perusahaan.

"Ketika digeledah polisi, mereka berkilah, kopi yang ada di rumah itu hasil panen kebun dari sendiri."

Dari pengamatannya sebagai antropolog, perusahaan publik yang bergerak di bidang pertanian di Jawa dan Kalimantan, ada sinyalemen semua lapis pekerja terlibat dalam pencurian harta perusahaan, baik pekerja, pemanen, mandor, pengawas, maupun manajer.

Pekerja membongkar tanah yang sudah dipupuk untuk dipakai di kebun sendiri.

Pemanen membiarkan hasil panen terkena hujan agar timbangan naik.

Mandor mempekerjakan kuli hantu, kuli yang nama dan upahnya tertulis, tetapi tidak ada orangnya.

Pengawas menggelembungkan jumlah hari orang kerja, herbisida, serta pupuk dalam anggaran belanja divisi.

Manajer menggelembungkan lagi angka-angka tersebut plus mengutip komisi dari rekanan kebun.

Kala itu, kata dia, orang-orang kebun memahfuminya sebagai upaya mengumpulkan makanan tambahan dan vitamin dengan beberapa catatan.

"Nomor satu, jangan mengambil jatah anak buah. Nomor dua, jangan mencolok. Nomor tiga, jangan ketahuan," ucapnya disambut gelak tawa hadirin.

Menurut Pujo, korupsi saat ini sudah melembaga dari struktur paling rendah sampai tertinggi.

Di masa lalu pun demikian, tapi korupsi di struktur terendah pada zaman kolonial merupakan bentuk perlawanan terhadap sistem privilese yang dibangun di atas tata politik kolonial yang rasis.

Kalau ingin menghentikan korupsi, simbol-simbol kultural dan tata sosial yang menolak sistem privilese harus dibangun.

Alasannya, sistem privilese bagai benalu yang menempel pada struktur birokrasi dan administrasi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More