Produksi Padi Hemat Air

Penulis: PO/M-3 Pada: Sabtu, 11 Nov 2017, 05:16 WIB Humaniora
Produksi Padi Hemat Air

MI/Palce Amalo

HUJAN baru reda saat puluhan petani berjalan menuju persawahan di belakang Kantor Desa Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelumnya, mereka diperkenalkan dengan metode baru budi daya padi yang diberi nama System of Rice Intensification (SRI).

Sistem ini iialah alternatif budi daya padi sawah yang hemat air dengan tingkat produksi yang tinggi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang lebih rendah bila dibandingkan dengan sistem konvensional.

Di sawah sudah ada lahan uji coba demplot SRI seluas 7,5 are berusia sekitar satu bulan. Lahan di Baumata merupakan satu dari dua lokasi uji coba budi daya padi SRI di NTT.

Satu lagi lahan uji coba dari progran yang didanai Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) ini berada di persawahan Kelurahan Tarus, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Tanaman padi di demplot sama persis tanaman padi umumnya. Perbedaan hanya terletak pada proses penanaman padi yang sudah menggunakan teknologi modern.

Di tengah sawah dipasang dua tiang, salah satunya ditempatkan solar cell bersama peralatan dalam kotak bernama Telemetri dengan lima sensornya yang bekerja merekam data dan mengirimnya secara daring ke server.

Lima sensor itu ialah radiasi matahari (pyranometer), arah dan kecepatan angin (anemometer), kelembapan dan suhu udara, curah hujan, dan kelembaban tanah termasuk suhu dan daya hantar listrik tanah.

Peneliti dari Universitas Gadjah Mada yang ikut ke lokasi, Rizki Maftukhah menjelaskan seluruh sensor terkoneksi dengan data logger Em50.

Data yang terekam tersimpan di data logger tersebut kemudian diambil secara rutin setiap hari oleh Field Router.

Selanjutnya data dikirim melalui jaringan internet GSM ke server di UGM.

"Foto lokasi untuk melihat pertumbuhan tanaman yang dimonitor secara kontinu. Pengguna dapat mengakses seluruh data berupa data numerik, grafik, maupun gambar secara daring."

Kabupaten Kupang merupakan daerah kering dengan curah hujan terbatas sehingga petani di daerah ini hanya bisa menanam padi dan palawija satu kali dalam setahun.

"Karena itu, SRI sangat relevan diujicobakan di daerah ini terutama untuk adaptasi perubahan iklim ke depan," ujarnya.

Pakar pertanian dari Fakultas Teknik Pertanian UKAW Nikodemus Nainiti menyebutkan data yang dikumpulkan dari Telemetri menjadi bahan analisis untuk menentukan waktu yang tepat mengairi dan mengeringkan tanaman, ketersediaan air di lahan, dan menentukan jarak tanam.

"Data itu untuk mengawal penanaman padi sampai menghasilkan produksi yang lebih baik," tandasnya.

Selain itu, penanaman padi metode SRI menggunakan benih berusia tujuh hari pascapembenihan, menggunakan pupuk organik, jarak tanam lebar, irigasi terputus-putus, dan beberapa penyiangan.

Lain halnya sistem konvensional yang menggunakan benih berusia 25 hari, penggenangan air secara terus-menerus, jarak padi rapat dan pemakaian pupuk kimia yang tinggi, "Dengan aplikasi ini, petani mendapatkan referensi yang baik tentang situasi iklim mikro untuk mendukung pertumbuhan fisiologi tanaman vegetatif maupun generatif," ujar Nikodemus Nainiti.

Produksi padi naik

Uji coba metode ini sudah dimulai sejak 2016 di dua lokasi dan menunjukkan terjadi peningkatan produktivitas padi.

Di persawahan Baumata, hasil panen dari padi yang menggunakan sistem budi daya SRI pada musim tanam kedua atau musim kemarau sebanyak 5 ton per hektare (ha) dan sistem konvensional 4,1 ton per ha, sedangkan produksi padi di musim tanam pertama 2017 dengan luas lahan yang sama menghasilkan 8,4 ton, dan sistem konvensional 5,6 ton.

Produksi padi SRI di persawahan Tarus pada 2016 lebih tinggi yakni 4,6 ton per ha, dan sistem konvensional 5,5 ton per ha.

Hasil panen terakhir di demplot Baumata, produksi padi melonjak sampai 12 ton per ha.

"Produksi padi di Tarus lebih tinggi daripada di Baumata karena kondisi tanah yang berbeda. Tanah di Tarus lebih subur bila dibandingkan dengan di Baumata," kata Rizki Maftukhah.

Dia mengatakan satu unit Telemetri seharga Rp200 juta dapat diaplikasikan untuk persawahan dengan topografi datar maksimal 100 ha.

Direktur ICCTF Tonny Wagey menjelaskan budi daya padi SRI bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, apalagi NTT sebagai daerah beriklim kering, petani kesulitan mendapatkan hasil panen yang konsisten.

"Kegiatan adaptasi bertujuan mengembangkan strategi ketangguhan iklim dan mencegah kerentanan petani serta lahan pertaniannya akibat kekeringan." ujarnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More