Otonomi dalam Pendidikan

Penulis: Fachrurrazi Guru Sekolah Sukma Bangsa Bireuen,Aceh (Penerima beasiswa Commissioned Master Degree Program in Teacher Education-Finland University) Pada: Senin, 06 Nov 2017, 03:30 WIB Opini
Otonomi dalam Pendidikan

thinkstock

HAL yang paling dibutuhkan dalam membangun sebuah organisasi yang efisien ialah meningkatkan otonomi karyawan sehingga mereka mempunyai hak dalam membuat keputusan dan memiliki kebebasan dalam berpikir dan bertindak (Luthan: 1992). Namun, membebaskan karyawan untuk mengerjakan hal yang mereka inginkan bukanlah pilihan yang populer bagi kalangan manajer. Mayoritas manajer akan memberikan deskripsi kerja dan acuan langkah kerja (standard operating procedure/SOP) yang ketat kepada karyawan agar mereka bekerja dengan terarah dan terkendali.

Karena itu, karyawan akan 'didikte' sedemikian rupa agar tujuan utama organisasi dapat dicapai. Pengelolaan organisasi seperti ini dikritik sebagai cara yang tidak efisien karena menyampingkan otonomi untuk berkreasi dan mengembangkan diri (Friedman: 1992). Otonomi berarti bahwa seseorang mempunyai kewenangan dan kebebasan dalam melakukan sesuatu. Pemberian otonomi berarti membebaskan seseorang untuk bekerja melampaui SOP, sekaligus memberikan kepercayaan penuh agar ia bisa bekerja secara mandiri dan kreatif. Sementara itu, deskripsi kerja dan acuan langkah kerja yang ketat, lebih sering membatasi kreativitas kerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pemberian otonomi memang sering dianggap sebagai kesempatan untuk bekerja seenaknya, tanpa aturan yang mengekang dan target yang jelas. Padahal, pemberian otonomi harus dimaknai sebagai tantangan untuk bekerja dan memberikan kontribusi lebih baik bagi organisasi. Karyawan dengan otonomi untuk berkreasi, cenderung bekerja sampai ambang batas kemampuan dan waktu yang ditentukan.Apalagi, jika mereka bekerja di bidang yang diminati, karyawan berpotensi untuk melampai target yang ditetapkan organisasi. Kisah para penemu besar dalam sejarah manusia ialah contoh bagaimana otonomi, dedikasi dan gairah dalam bekerja bisa mengubah sejarah manusia. Mereka bekerja dengan kebebasan, dengan metode yang berbeda dan berusaha dengan sukacita, untuk hasil yang di luar dugaan kebanyakan orang. Lalu, bagaimana dengan otonomi di dunia pendidikan?

Otonomi guru
Guru selalu dituntut untuk otonom dalam mengembangkan bahan dan metode ajarnya. Otonomi akan mendorong guru untuk mengajar dengan lebih baik, terutama saat diberi kebebasan untuk menerapkan semua ide-idenya di kelas. Guru yang paham kebutuhan anak didiknya akan mampu bertindak untuk memenuhi kebutuhan tersebut sehingga para peserta didik bisa mengalami proses belajar yang bermakna. Bagaimana kita bisa memberikan otonomi penuh kepada seorang guru? Terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan. Pertama, berkaitan dengan kepercayaan pada orang lain.

Pihak-pihak dalam lingkungan sekolah termasuk manajemen sekolah dan orangtua harus paham dan percaya bahwa guru ialah seorang profesional yang dilatih khusus menghadapi berbagai tantangan di bidangnya. Hanya dengan ruang gerak guru yang lebih luas dan lentur, guru berpeluang untuk berimprovisasi dalam mengajar. Kedua, kemauan untuk terus belajar dan berkembang. Guru dituntut untuk bertindak atas dasar pengetahuan yang dimilikinya sehingga guru tidak boleh berhenti belajar untuk mengembangkan ilmu, sekaligus memperluas basis tindakan dan profesionalitas melalui riset-riset dalam bidang kerjanya.

Pada dasarnya, setiap kali guru mengajar di kelas, ia juga dapat melakukan riset berdasarkan informasi yang didapatnya. Hasil riset yang dilakukan, selain untuk menambah dan melengkapi pengetahuan, juga menjadi basis bagi setiap tindakan dalam pekerjaannya.

Guru sebagai periset
Dalam mewujudkan otonomi guru, peran guru sebagai fasilitator dalam proses belajar sekaligus menjadi periset yang berusaha menemukan hal baru dan menarik dalam dunia pengajaran menjadi krusial. Sebagai periset, guru melakukan observasi, mewawancarai dan mencatat semua temuan baru, serta menuliskan kembali pengalamannya demi pengembangan ilmu pengetahuan. Seorang guru periset akan mengembangkan indra keingintahuan tanpa melewatkan semua hal potensial untuk diteliti dan dikembangkan. Banyak metode penelitian yang bisa digunakan guru di ruang kelas. Metode-metode aplikatif seperti penelitian tindakan kelas, penelitian survei, dan penelitian kasus.

Dewasa ini para ilmuwan telah memanfaatkan banyak kegiatan di ruang kelas sebagai bahan dan objek penelitian. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan metode mengajar, second language learning & acquisition, sosio/psikolinguisik atau bahkan discourse analysis perlu diuji coba di ruang kelas secara terbatas sebelum dinyatakan layak untuk diterapkan secara umum di sekolah. Di sinilah lahan dan ruang gerak guru periset untuk bekerja. Guru bisa bekerja secara mandiri menimbang kemampuannya dalam menguasai ruang kelas atau bisa juga bekerja sama dengan para ahli pendidikan. Ruang kelas ialah layaknya laboratorium bagi guru periset.

Dinamika yang terjadi di kelas bisa menjadi bidang garap guru dalam melakukan sebuah riset. Purwoko (2010) mengatakan bahwa para guru harus mulai mengamati, meneliti, dan akhirnya melaporkannya dalam bentuk publikasi. Hal ini bertujuan agar profesionalitas para guru terus berkembang dan fenomena kegiatan kelas semakin terekspos sehingga pengetahuan tentangnya dapat semakin berkembang.

Otonomi siswa
Proses belajar memerlukan keterlibatan mental, kerja, dan partisipasi secara aktif dan bukan sekadar kegiatan menyampaikan informasi yang memiliki konsekuensi otomatis pada siswa. Belajar aktif menuntut siswa untuk mengerjakan banyak hal yang menuntut penggunaan daya nalar, mengkaji gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan baik, siswa perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan dan membahas hal tersebut dengan orang lain. Selanjutnya, tahapan yang paling penting ialah bagaimana siswa mengerjakannya, yakni menggambarkan sesuatu dengan cara mereka sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktikkan keterampilan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka pelajari.

Siswa ialah agen yang otonom. Untuk dapat mempraktikkan semua hal tersebut, siswa juga harus mendapatkan otonomi yang utuh. Seperti otonomi yang dimiliki guru, siswa harus diberikan kebebasan luas dalam belajar. Guru tak perlu terlalu membatasi siswa untuk hanya mengerjakan hanya latihan-latihan yang disiapkannya. Siswa perlu diberi kebebasan untuk berlatih dengan materi latihan pilihan mereka sendiri. Rencana pembelajaran tidak perlu dirancang terlalu kaku dan prosedural. Idealnya, guru merancang sebuah rancangan pembelajaran yang fleksibel dan menjamin tersedianya ruang kreativitas siswa untuk menerapkan ide sendiri dalam menyelesaikan latihan-latihan pada setiap pelajaran.

Seterusnya, siswa perlu diarahkan untuk saling membantu dan bekerja dalam kelompok untuk mencapai atau mengalami sebuah proses pembelajaran. Banyak sekali literatur yang memaparkan bagaimana memperkenalkan belajar aktif kepada siswa, menjadikan siswa aktif sejak awal pembelajaran, membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap secara aktif, dan bagaimana menjadikan belajar tidak terlupakan.

Tema-tema tersebut dilengkapi dengan strategi-strategi aplikatif yang bisa dilakukan oleh guru dan siswa diruang kelas seperti yang disarankan oleh (Silberman: 2006). Becermin pada proses pendidikan di negara-negara dengan kualitas pendidikan terbaik seperti Finlandia, otonomi pada guru dan siswa terbukti mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakatnya. Semoga di masa depan, otonomi pendidikan di Indonesia juga mampu memberikan kontribusi yang sama.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More