Rabu 11 Maret 2015, 00:00 WIB

Bronto Skylift, Pahlawan di Aksi Perdana

DA/J-2 | Megapolitan
Bronto Skylift, Pahlawan di Aksi Perdana

DOK. HIDRO ENGINE

 
KEBAKARAN yang menghanguskan lima lantai Gedung Wisma Kosgoro di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (9/3) petang, tidak hanya menyisakan cerita dahsyatnya amukan api.

Kehadiran kendaraan bantu pemadam yang disebut Bronto Skylift juga mencuri perhatian.

Alat untuk memadamkan kebakaran di gedung tinggi itu baru pertama kali dioperasikan.

Alat yang diproduksi di Finlandia dengan panjang 20 meter dan lebar 4 meter tersebut, secara fisik bentuknya tidak jauh berbeda dengan mobil pemadam pada umumnya dan ciri khas warna dominasi merah tua.

Sebanyak 10 roda pada sisi kanan dan kiri kendaraan menopang bobot mobil raksasa itu.

Namun, bagian belakang kendaraan bukannya menyimpan cadangan air, melainkan terdapat tuas sepanjang 90 meter untuk mengantarkan petugas ke titik pemadaman api di ketinggian.

Pada ujung tuas ada kotak menyerupai crane tanpa pengungkit yang dapat menampung hingga empat orang.

Meski telat tiba di lokasi kebakaran hingga 3 jam sejak api mulai berkobar, kehadiran kendaraan yang terparkir sejak tahun lalu di Kantor Pemadam Kebakaran Ciracas, Jakarta Timur, itu terbukti jitu membantu kerja ratusan petugas.

Dalam istilah pertandingan sepak bola, mungkin Bronto Skylift bisa dikatakan 'car of the match' di tengah kebakaran hebat yang menimpa Wisma Kosgoro.

Bagaimana tidak, sebelum kendaraan itu datang, segala upaya yang dilakukan petugas untuk menjinakkan api terus kandas.

Semprotan air mobil pemadam dari bawah gedung selalu melenceng terbawa tiupan angin kencang.

Begitu pun dengan langkah penyemprotan dari atas Gedung Pertamina Lubricant.

Sebagian petugas juga nekat menuju lantai 16 dan 17 yang sudah terlihat memerah, dengan cara memanfaatkan lorong tangga darurat.

Namun lagi-lagi mereka dihadang kepulan asap.

Begitu tiba di lokasi kebakaran, Bronto Skylift langsung parkir di depan Wisma Kosgoro.

Delapan petugas berjaket oranye segera mengoperasikan kendaraan dengan mengganjal bagian kolong hingga sebagian ban dalam kondisi menggantung serta mendorong tuas crane yang bekerja dengan sistem hidraulis.

Dari bantaran crane, dua petugas turut naik, berupaya mendekat ke lantai yang tengah terbakar.

Saat baru dioperasikan, sempat terjadi kebocoran selang akibat tersambar pecahan kaca yang beterbangan.

"Selang sempat bocor, tapi bisa langsung diatasi dengan cepat," tutur salah satu petugas pemadam kebakaran.

Sementara itu, bagi Tatang, petugas lainnya, sensasi terbang di ketinggian hingga hampir 100 meter dari permukaan tanah mungkin tidak dapat dilupakannya.

Dialah salah seorang petugas yang naik dan mendekati titik api menggunakan alat tersebut.

"Skylift goyang-goyang dan kaki gemetaran. Tapi itu tantangan dan pengalaman pertama saya dalam mencoba memadamkan api dari ketinggian 100 meter," tuturnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More