Rabu 11 Maret 2015, 00:00 WIB

KY Usut Pimpinan MA

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
KY Usut Pimpinan MA

MI/ROMMY PUJIANTO

 
KOMISI Yudisial (KY) mencurigai seorang hakim agung yang juga ketua muda di Mahkamah Agung karena kerap menemui seseorang yang tengah beperkara di pengadilan.

Petinggi MA itu bahkan makan malam bersama orang yang sudah berstatus terdakwa dalam kasus korupsi.

"Prinsipnya, hakim tak boleh bertemu terdakwa. Jangankan bicara perkara, bicara yang lain saja, kalau tidak menghindarkan diri, itu sudah pelanggaran etik," kata anggota KY, Taufiqqurahman Syahuri, di Gedung KPK, Jakarta, kemarin.

Taufiqqurahman menambahkan, hakim agung yang mulia itu sudah empat kali makan malam dengan terdakwa yang juga seorang pengusaha.

Ketika mereka bertemu, terdakwa selalu didampingi oleh pengacaranya.

KY menduga terdakwa korupsi tersebut tengah meminta bantuan sang hakim agung untuk mengatur perkara yang tengah dijalaninya di salah satu pengadilan negeri.

"Hakim agung ketemu dengan pengacara itu perbuatan sangat jahat. Masak hakim ketemu pihak beperkara, kan tidak bagus, apalagi bicara perkara," jelasnya.

Jika sang hakim terbukti menemui seorang terdakwa, bahkan membahas soal kasus, perbuatan itu merupakan pelanggaran berat.

"Bisa dipecat, apalagi berbicara perkara, itu pelanggaran berat, meski uangnya tidak ada," tegasnya.

Sepanjang 2014, setidaknya sudah dua hakim yang diajukan KY ke Majelis Kehormatan Hakim karena diduga berhubungan dengan pihak beperkara.

Pada 12 Maret 2014 Majelis Kehormatan Hakim memecat hakim tipikor Bandung, Ramlan Comel, karena terbukti menerima suap dan janji saat menyidangkan perkara korupsi dana bantuan sosial di Bandung, Jawa Barat.

Pada 12 Agustus 2014 Majelis Kehormatan Hakim menjatuhkan hukuman nonpalu selama enam bulan dan tidak menerima tunjangan hakim kepada Budi Santoso, yang dilaporkan menerima suap sebesar Rp5 juta dari pihak yang beperkara.

Meski tuduhan menerima suap tak terbukti, majelis berhasil membuktikan kesalahan etik Budi karena lima kali bertemu dengan pihak yang perkaranya tengah ditanganinya.

Seleksi hakim
Adapun guna meningkatkan integritas dan kualitas hakim, KY memberikan pembekalan kode etik dan filsafat hukum bagi 36 calon hakim agung yang tengah mengikuti seleksi tahap ketiga.

"Ini untuk menjaga martabat dan kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpang-an maupun penyalahgunaan keahlian," kata Taufiqurrahman Syahuri di Badan Litbang Kumdil Mahkamah Agung di Cisarua, Bogor, Senin (9/3).

Ia menambahkan implementasi kode etik dan pedoman perilaku hakim dapat menimbulkan kepercayaan masyarakat kepada putusan pengadilan dan profesi hakim.

Para calon hakim agung itu juga mendapat pembekalan dari Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.

Ketua KY Suparman Marzuki saat memberikan pembekalan mengatakan rangkaian seleksi hakim agung memang berat dan melelahkan karena sebagai upaya memperbaiki peradilan yang lebih baik.

"Hakim agung memantaskan dirinya patut dipanggil yang mulia karena ada dan dijalankannya kehormatan, keluhuran martabat, dan perilaku," kata Suparman. (Ant/P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More