Senin 09 Oktober 2017, 00:00 WIB

OJK Imbau Masyarakat Proaktif

Tesa Oktiana Surbakti | Ekonomi
OJK Imbau Masyarakat Proaktif

Ilustrasi

 

MASYARAKAT diminta lebih cermat dalam memilih produk investasi di tengah gempuran iming-iming tingkat pengembalian (return) yang tinggi.

Sebabnya, akibat kegiatan investasi bodong dari 2007 hingga 2017, kerugian masyarakat ditaksir mencapai Rp105,81 triliun.

"Dalam berinvestasi perlu kehati-hatian. Masyarakat jangan mudah terpancing dengan janji-janji tidak masuk akal. Harus paham dengan konsep low risk low return dan high risk high return," ujar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso dalam diskusi waspada investasi, di Jakarta, Sabtu (7/10).

Wimboh mengatakan pertumbuhan masyarakat kelas menengah ke atas kini makin menjamur dengan diiringi orientasi berinvestasi.

Selaku regulator, OJK terus mengupayakan tindakan preventif untuk membendung investasi ilegal atau bodong.

"Salah satunya membentuk Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi. Satgas yang terdiri dari lintas sektor ini bahkan akan diperluas keanggotaannya dengan menambah enam kementerian atau lembaga," ujar dia.

Di sisi lain, OJK pun mewajibkan seluruh industri keuangan yang belum terdaftar untuk segera mengantongi izin, terutama sektor usaha kecil dan menengah, perusahaan teknologi keuangan (fintech), dan pegadaian swasta.

Namun, Wimboh mengimbau masyarakat agar lebih proaktif bila menemukan indikasi praktik penipuan untuk segera ditindaklanjuti.

Sebabnya, Satgas Waspada Investasi bergerak untuk melakukan deteksi dini, termasuk merespons cepat pengaduan masyarakat.

"Sejauh ini tindakan represif kami lakukan seperti mencabut izin dan menghentikan kegiatan sebelum korban semakin banyak. Juga memperkuat proses penegakan hukum bagi pelaku investasi ilegal," jelasnya.

Terkait dengan perkembangan perusahaan teknologi keuangan yang pesat, Wimboh mengatakan OJK akan mengembangkan fintech center sehingga produk fintech berikut penanggung jawab kelembagaan bisa ditelusuri.

Pertumbuhan

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti mengingatkan masyarakat bahwa return investasi sebenarnya tidak akan bergerak jauh dari pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Menurut dia, perkembangan ekonomi Indonesia kini tidak akan melaju signifikan karena pengaruh internal dan eksternal.

Meski aspek investasi di dalam negeri menggeliat, dampaknya lebih jangka pendek sehingga belum mampu mendongkrak akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Destry menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai 2019 sulit mencapai 7%.

Sebabnya, pertumbuhan ekonomi pada 2017 diperkirakan 5,1%-5,2% dan 2018 5,3%-,5,4%.

"Masyarakat sering lupa investasi itu berkaitan dengan perkembangan ekonomi suatu negara termasuk kondisi global. Kita lihat ekonomi kita tidak akan tumbuh cepat. Jadi, tidak masuk akal ada tawaran investasi dengan return besar, tapi pertumbuhan ekonomi segitu-gitu saja." (E-3)

Baca Juga

DOK Patra Jasa

Patra Jasa Raih Penghargaan Anugerah BUMN 2020

👤Widhoroso 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 22:55 WIB
Ini menjadi kali ketiga Patra Jasa secara beruntun menerima penghargaan dalam ajang Anugerah...
Antara/Dhemas Revianto

PNM Siap Bayar Obligasi Jatuh Tempo Rp750 Milar

👤Raja Suhud 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 19:15 WIB
Dalam masa pandemi covid-19,  PNM tetap menyalurkan pembiayaan kepada usaha ultra mikro dan UMKM lebih dari Rp8,2...
Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Ini Sederet Alternatif Pembiayaan Infrastruktur di Masa Pandemi

👤M Ilham Ramadhan 🕔Sabtu 11 Juli 2020, 18:05 WIB
Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur 2020-2024 sebanyak Rp6.445 triliun. Pemerintah hanya menyanggupi Rp2.385 triliun....

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya