Senin 02 Oktober 2017, 06:58 WIB

Area Panas di Kawah Terus Meluas

Arnoldus Dhae | Nusantara
Area Panas di Kawah Terus Meluas

AP/FIRDIA LISNAWATI

 

MAGMA di Gunung Agung saat ini terus bergerak ke permukaan melalui perut gunung. Itu ditandai dengan meluasnya area panas di kawah gunung tersebut.

Kondisi itu diketahui berdasarkan pengamatan jarak jauh melalui satelit penginderaan. Luas area panas saat ini sudah mencapai 100 meter di sisi timur kawah.

“Saat ini pergerakan magma ke permukaan masih tertahan bebatuan yang keras. Sampai saat ini belum ada alat yang bisa mendeteksi berapa lama sampai magma bisa menembus bebatuan yang keras tersebut,” ujar Kasubdit Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devil Kamil Syahbana di Karangasem, Bali, kemarin.

Bila bebatuan keras tersebut mampu ditembus dengan mudah, diperkirakan letusan akan sangat besar. “Sebaliknya, bila terjadi penumpukan magma, tetapi bebatuan keras hanya bisa ditembus perlahan, tenaganya akan semakin kecil dan letusannya akan semakin kecil juga,” tutur Devil.

Sementara itu, Fakultas Peternak­an Universitas Ga­djah Mada bersama bebera­pa organisasi, seperti ISPI, FPPTI, AINI, Gapuspindo, dan Persepsi mendirikan posko pe­ngungsian bagi ternak milik para pengungsi Gunung Agung. Posko bersama itu didirikan di Desa Ngis, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

“Keselamatan ternak menjadi bagian tak terpisahkan dari keselamatan manusianya. Karena itu, Fapet UGM terpanggil untuk berperan melalui posko bersama,” ujar Dekan Fapet UGM, Prof Dr Ali Agus dalam siaran persnya di Yogyakarta, kemarin.

Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fapet UGM Bambang Suwignyo menambahkan, selain siap dengan stok pakan konsentrat, posko itu juga menawarkan program edukasi pengurangan risiko bencana.

Dijelaskannya, saat ini 40 titik lokasi ternak sudah disiapkan. Sebanyak 3.000 ekor sapi sudah dievakuasi dari 20 ribu ekor yang ada. Meski sudah ada donor untuk pakan konsentrat, jumlah sumber pakan hijauan masih kurang.

“Kami usulkan program membuat pakan fermentasi dengan melibatkan para pengungsi. Pakan fermentasi tidak rusak kalau di­simpan dalam waktu lama sehingga dapat dipakai untuk antisipasi stok andai erupsi berlangsung lama,” ujar Bambang.

Pembuatan stok pakan fermentasi juga akan mengurangi frekuen­si peternak naik ke kawasan rawan bencana. “Selain ada unsur edukasi, pelibatan pengungsi juga dapat menjadi wahana interaksi dan mengurangi stres di pengungsian,” jelas Bambang.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan fenomena Gunung Agung berdampak kepada perekonomian, tetapi nilainya belum dihitung.

“Memang pasti ada dampaknya bagi perekonomian, tetapi kita belum ada laporan dan belum membuat hitung-hitungannya,” kata Darmin di Pangkalpinang, Babel, Jumat (29/9).

Dampak itu dilihat dari faktor pengungsi serta kunjungan wisatawan. “Kalau banyak turis yang menahan diri untuk datang, jelas akan berdampak sebab tidak ada perputaran uang,” ungkap Darmin. (AT/AU/RF/X-11)

arnold@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More