Minggu 01 Oktober 2017, 10:44 WIB

Kawah Retak Solfatara Mulai Tampak

Administrator | Nusantara
Kawah Retak Solfatara Mulai Tampak

AFP/BAY ISMOYO

 

PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan permukaan kawah Gunung Agung (3.142 mdpl) di Kabupaten Karangasem, Bali, retak. Retakan itu diperkirakan sepanjang sekitar 100 meter.

“Kawah sudah berubah. Semula kami tidak bisa mengamati solfatara (tembusan asap gas dari dasar kawah), yang menjadi salah satu pe­nan­da erupsi. Sekarang sudah bisa diamati,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Gede Suantika di Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, Karangasem, Bali, kemarin.

Lebih lanjut Gede menjelaskan kawah retak disebabkan dorongan panas dari magma gunung yang disucikan umat Hindu itu. “Mungkin bisa erupsi karena ini sudah kritis,” kata dia.

PVMBG mencatat aktivitas gunung, kemarin pukul 06.00 -12.00 Wita, kegempaan vulkanis sebanyak 166 kali, vulkanis dangkal 50 kali, dan tektonis 4 kali.

Terkait dengan upaya menghindari jatuhnya korban akibat erupsi, selain memasang sirene di enam titik, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan rambu-rambu peringatan bahaya di 54 titik.

Rambu-rambu itu ialah pemberitahuan kepada masyarakat tentang posisinya terhadap radius berbahaya, di antaranya ‘Saat ini Anda berada di radius 9 kilometer dari puncak Gunung Agung’. Atau tulisan lainnya yang bertujuan memberikan peringatan dan imbauan kepada masyarakat serta sosialisasi bahaya gunung meletus.

Hingga saat ini 144 ribu jiwa lebih peng­ungsi tersebar di 471 titik. Pemprov Bali akan mengembalikan mereka yang berada di luar kawasan rawan bencana ke rumah masing-masing.

“Daerah rawan satu, dua, tiga itu jumlahnya sekitar 70 ribu. Kalau pengungsi 144 ribu dari mana yang lain ini, berarti dari daerah aman ada yang ikut mengungsi,” ujar Gubernur Bali Made Mangku Pastika. (Ant/OL/X-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More