Hemat Makanan Selamatkan Perekonomian

Penulis: Tes/E-2 Pada: Selasa, 10 Mar 2015, 00:00 WIB Humaniora
Hemat Makanan Selamatkan Perekonomian

MI/SENO

KERAP kali orangtua memarahi anak-anak mereka ketika menyisakan makanan.

Tidak jarang mereka beralasan petani akan menangis sedih jika tahu hasil jerih payahnya disia-siakan.

Ternyata, langkah tersebut ada benarnya karena bisa menyelamatkan kehidupan ekonomi global di masa depan.

Kelompok periset dari Global Commission on the Economy and Climate, sebuah organisasi internasional yang didirikan mantan Presiden Meksiko Felipe Calderon, mengungkapkan penghematan limbah makanan setidaknya bisa menekan pengeluaran hingga US$300 miliar per tahun hingga 2030.

Kalkulasi itu mengacu kepada keniscayaan bahwa satu per tiga dari semua makanan yang diproduksi di dunia berakhir di tong sampah.

Para peneliti menyimpulkan kelompok kelas menengah di negara berkembanglah yang memberi sumbangsih terbesar terhadap limbah makanan.

Tanpa upaya penghentian, sampah sisa-sisa makanan itu berisiko melonjak.

Misalnya di tatanan global, makanan yang terbuang apabila diuangkan mencapai US$400 miliar per tahun.

Sedekade mendatang, nilainya diprediksi menjadi US$600 miliar.

Perilaku konsumen yang ditengarai menyebabkan maraknya limbah makanan ialah membeli atau memasak terlalu banyak dari kebutuhan.

Ada pula persoalan kedaluwarsa sebelum makanan sampai di tangan konsumen.

Masifnya limbah makanan yang dihasilkan negara berkembang, masih menurut riset tersebut, disebabkan belum memadainya peralatan pendingin

serta fasilitas transportasi yang buruk dari lingkungan pasar ke pabrik pengolahan.

Parahnya infrastruktur dianggap turut menghambat proses distribusi.

"Mengurangi, bahkan tidak menyisakan makanan sama sekali, itu artinya Anda telah melakukan tindakan besar untuk menyelamatkan ekonomi di masa depan," imbau Director of Global Commission on the Economy and Climate Helen Mountford, seperti dilansir Huffi ngton Post, kemarin.

Maka, masyarakat harus mengubah pola konsumsi jika ingin kehidupan ekonomi mereka di masa depan tidak terpuruk.

Sebagai gambaran, apabila jumlah limbah makanan yang terbuang dapat ditekan 20% sampai 50%, akan ada penghematan US$200 miliar hingga US$300 miliar.

Inggris, lanjut Mountford, setidaknya sudah memulai langkah besar penyelamatan ekonomi melalui program kampanye The UKbased Waste and Resources Action Program (WRAP) yang bertajuk 'Cintai Makananmu, Bencilah Limbahnya'.

Kampanye tersebut lebih digiatkan ke lingkungan rumah tangga. Pasalnya, limbah makanan dari rumah tangga berporsi 21% yang kurang lebih setara US$20,1 miliar per tahun.

"Mengurangi limbah makanan berimplikasi besar kepada lingkungan," imbuh Helen.

Fakta lain mengungkapkan sekitar 7% dari seluruh gas emisi rumah kaca atau setara dengan 3,3 miliar ton karbon dioksida ialah dampak dari limbah makanan.

Jadi, jangan lagi lebih lapar mata ketimbang perut.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More