Negara Abaikan Suku Anak Dalam

Penulis: Administrator Pada: Selasa, 10 Mar 2015, 00:00 WIB Humaniora
Negara Abaikan Suku Anak Dalam

DI TENGAH hiruk pikuk perpolitikan nasional, kehidupan orang rimba, suku Kubu, atau juga disebut suku Anak Dalam terabaikan.

Dalam tiga bulan terakhir, 11 kematian menimpa orang rimba yang tinggal di hutan penyangga belahan timur Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi.

"Bagi skala nasional mungkin peristiwa ini tergolong kecil. Namun bagi kami, khususnya orang rimba, ini kejadian luar biasa," kata Koordinator Unit Kajian Suku Terasing Komunitas Konservasi Indonesia dan Warung Informasi, Kristiawan, saat dihubungi, kemarin.

Menurut dia, diperlukan kehadiran negara untuk menyelamatkan orang rimba.

"Untuk tahap sekarang yang dibutuhkan ialah bantuan langsung berupa beras dan sembako, serta posko kesehatan yang dekat dengan lokasi mereka melangun (berpindah)," imbuhnya.

Selain 11 kematian secara berturut-turut, belasan balita dan anak-anak orang rimba penghuni hutan penyangga belahan timur TNBD berjatuhan sakit akibat kekurangan makanan.

Tiga di antara mereka kini dirawat di RSUD Muarabulian, Kabupaten Batanghari.

Adapun 15 anak rimba lainnya telantar sakit dalam perjalanan melangun.

Tradisi melangun ialah berpindah tempat tinggal karena ada anggota kelompok orang rimba yang meninggal.

Mereka keluar dari hunian awal di timur TNBD.

Sebagian anak orang rimba yang sakit kini telantar dalam kondisi kekurangan makanan dan air bersih di lokasi melangun di hutan Sungaikemang, Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batanghari.

"Kalau untuk demam, perut kembung, sakit kepala, kami biasa menggunakan obat empedu tanah dan rumput, tapi di tempat melangun sudah susah mencarinya. Lokasi melangun sudah jadi perkebunan kepala sawit," ujar Tengganai Orang Rimba Kelompok Terap, Mangku Balas.

Belum ada solusi

Ironisnya, pemerintah belum punya jurus mengatasi masalah yang dihadapi orang rimba, baik Kementerian Sosial ataupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Persoalannya mereka selalu berpindah-pindah. Kalau mau diberikan informasi atau layanan, ke mana harus dikasih?" ucap Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat dihubungi, tadi malam.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar masih menyelidiki kasus kematian orang rimba.

"Kami akan membuat biro pengaduan. Kami ingin ada tindakan yang cepat tanpa terbentur regulasi yang ada," ujarnya, tadi malam.

Peneliti orang rimba, Adi Prasetijo, mengatakan orang rimba kehilangan sumber penghidupan.

"Kematian ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk melindungi hak masyarakat Indonesia. Hutan bukan hanya sebagai sumber penghidupan, melainkan juga sebagai sumber identitas suku rimba di Jambi," kata Adi yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Center for Sustainable Development.

Menurut dia, sebenarnya orang rimba diberikan fasilitas hutan nasional di Bukit Dua Belas dengan luas 60.000 hektare, yang dihuni sekitar 150 orang rimba.

"Namun kini banyak pembalakan liar," pungkas Adi.

(Ric/*/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More