Senin 28 Agustus 2017, 06:31 WIB

Ganti Sepatu Ausie dengan Produk Dolly

Dhika Kusuma Winata/X-5 | Politik dan Hukum
Ganti Sepatu Ausie dengan Produk Dolly

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengunjungi usaha pembuatan sepatu di kawasan eks lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur, kemarin. -- ANTARA FOTO/Didik Suhartono

 

RAUT wajah Yohana Yembise, kemarin, semringah setelah keluar dari mobil hitam yang ia tumpangi. Pandangan mata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak itu lalu tertuju ke satu rumah di bekas kawasan prostitusi Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur.

Siang itu, Yohana berkunjung ke usaha rumahan sandal dan sepatu PJ Collection. “Benar-benar berubah tempat ini,” ucapnya takjub.

Ketakjubannya bukan tanpa alasan. Pasalnya, tiga tahun lalu, rumah yang kini dipakai memproduksi alas kaki itu merupakan tempat prostitusi kelas menengah yang paling terkenal di Surabaya dengan tarif pekerja seks komersial (PSK) di atas Rp500 ribu.

Untuk pertama kalinya, profesor dari Universitas Cenderawasih, Papua, itu menapakkan kaki di bekas daerah lokalisasi, yang konon terbesar se-Asia Tenggara, tersebut. Yohana mengaku selama ini hanya melihat Dolly dari layar kaca. “Sekarang saya menyaksikan langsung perubahannya berkat kerja Wali Kota Risma. Dolly jadi tempat yang ramah bagi perempuan dan produktif.”

Di Gang Dolly, sedikitnya ada 15 usaha kecil dan menengah (UKM) yang difasilitasi pemerintah kota. Mulai yang menjual kain batik hingga menjajakan makanan ringan lokal.

Kini, rumah yang disambangi Yohana itu menyuplai 3.000 pasang sandal hotel dalam satu bulan. Pendapatan hasil penjualan alas kaki itu dalam sebulan bisa mencapai Rp30 juta. “Kita punya pekerja perempuan 10 orang. Laki-laki hanya empat orang,” kata Atik, koordinator di PJ Collection.

Mumpung sedang dikunjungi ibu menteri, Atik gencar menawarkan sepatu buatannya. Bak gayung bersambut, Yohana pun lalu sibuk memilah-milih model dan ukuran yang cocok. Empat sepatu diboyongnya.

“Saya pakai sepatu dari Ausie (Australia). Sepatu Ausie ini saya ganti dengan sepatu Dolly,” selorohnya. Ia pun bercerita bahwa dirinya baru saja pulang kunjungan dari Perth, Australia.

Yohana bangga terhadap kawasan yang dulu lekat dengan citra eksploitasi perempuan, tetapi kini berkembang menjadi tempat produktif dan ramah perempuan.

Upaya mengubah citra negatif Dolly itu juga dilakukan Atik. Ia sengaja memilih nama PJ Collection yang diambil dari kata Putat Jaya (PJ), nama kelurahan di Gang Dolly. “Supaya kesan buruk itu hilang,” paparnya.
Ia berharap pemberdayaan model Dolly bisa dilakukan di tempat eks lokalisasi lain. (Dhika Kusuma Winata/X-5)

Berita Terkini

Read More

BenihBaik.com

Read More

Berita Populer

Read More