Kamis 20 Juli 2017, 05:01 WIB

Kampanyekan #Savejanda

Rizky Noor Alam rizkynoor@mediaindonesia.com | Humaniora
Kampanyekan #Savejanda

MI/ADAM DWI

 

PENAMPILANNYA sporty dengan kemeja kotak-kotak dan celana jins. Dengan enegik perempuan bernama lengkap Mutiara Malika Proehoeman itu menyapa Media Indonesia di sebuah kedai kopi di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kamis (6/7).
Bagi perempuan yang akrab dipanggil Tiara itu, menyandang status sebagai janda bukanlah hal yang mudah. Selain berjuang untuk bertahan hidup sendiri dan menghidupi kedua anaknya, stigma dari masyarakat pun kerap dilontarkan kepada para janda.
Stigma itu pun dialami Tiara yang bercerai dari suaminya karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tidak hanya dari kaum adam, stigma itu juga dari sesama kaum perempuan. Pandangan itu mulai mengusiknya hingga ia berinisiatif mengampanyekan gerakan #Savejanda di media sosial setahun belakangan ini.

“Sebenarnya dimulai dari kegalauan saya. Saya mengalami sendiri bagaimana janda itu didiskriminasi, bagaimana kata janda menjadi label stigma yang sangat negatif di masyarakat. Janda dibilang pengganggu rumah tangga, janda itu gatel, dan lain-lain. Lalu saya berpikir kalau perempuan cerai jadi janda, lelaki cerai manjadi duda. Namun, duda itu tidak terlalu parah mendapat lebel negatifnya,” jelas Tiara membuka percakapan. Tiara mengaku mendapatkan pengalaman pahit saat mengurus KTP. Kala itu ia diteriaki sebagai janda oleh salah satu petugas. Sontak warga lainnya bersikap waspada pada dirinya. “Saya pernah waktu saya mengurus KTP, itu sampai petugasnya teriak Anda janda, ya? Lalu ibu-ibu di belakang saya tiba-tiba langsung pegangi suaminya seakan saya mau merebut. Di situ saya merasa sangat miris,” imbuhnya.

Kampanye daring
Sejak kejadian itu, ia dihantui pikiran buruk akan statusnya. Hingga ia bergabung dengan grup Facebook bernama Break the Silence Indonesia yang dibuat Ninin Damayanti. Dari grup itu, dirinya mulai mendapatkan motivasi dan mulai berani menyuarakan kegalauan yang dirasakannya selama ini. “Setelah itu, akhirnya saya memberanikan diri untuk menyuarakan apa yang menjadi kegalauan saya selama ini, yaitu stigma terhadap para janda. Saya mengampanyekan hashtag #Savejanda di media sosial seperti Facebook dan ternyata hasilnya cukup positif,” lanjutnya.

Meski responsnya positif, ia tetap mendapatkan ejekan. “Padahal, konteksnya adalah menyelamatkan, membersihkan, dan mengubah stigma dan mengangkat single mom menjadi perempuan yang berdaya. Itu sebenarnya yang sederhana, tetapi dari hashtag itu orang jadi bertanya dan saya pun jadi punya kesempatan untuk menjelaskan,” imbuhnya. Tiara mengaku banyak yang memberikan komentar akan tulisannya di Facebook. Bagi Tiara, kisah hidup yang ditulisnya secara terbuka tanpa malu-malu akhirnya membuat banyak perempuan terbuka akan nasib anggota keluarga atau teman mereka. Karena itu pula, banyak perempuan bertukar pikiran.

Hashtag #Savejanda yang dia kampanyekan di dunia maya bukan hanya membagikan kisah inspiratif berdasarkan pengalaman pribadi. Itu juga memotivasi perempuan lain. Kampanye #Savejanda itu juga tertular ke aktivitas lainnya seperti dalam merekrut pegawai yang dia pekerjakan. “Saya kan juga bekerja di event organizer dan di bidang food industry. Saya lebih mengutamakan mempekerjakan perempuan yang bercerai apalagi mereka yang punya anak sebagai single parent. Hal tersebut karena saya juga meng­alami bagaimana susahnya menjadi single ­parent,” ungkap Tiara.

Tidak hanya itu dampak yang dirasakannya. Tiara mengaku karena kampanyenya tersebut, dirinya pun kerap mendapatkan pekerjaan dengan mudah dari orang lain. “Selain itu, dampak yang saya rasakan dari sharing ini juga saya mendapatkan banyak pekerjaan karena ternyata sekarang mulai banyak orang yang ingin me­ngasih pekerjaan ke para single ­parent,” tuturnya. Tiara berharap #Savejanda yang dikampanyekan satu tahun terakhir menjadi komunitas besar. Ia juga berharap itu menjadi media kerja sama dengan yayasan-yayasan agar nantinya dapat lebih berkembang.

Bangkit
Bagi perempuan yang sudah bercerai selama 12 tahun tersebut, keluarga memiliki peran penting. Karena dukungan keluarga, ia dapat pulih dari keter­purukannya. “Saya sudah 12 tahun bercerai dan selama 4 tahun mengalami KDRT. Awalnya saya sebisa mungkin ingin mempertahankan rumah tangga saya karena saya berasal dari keluarga yang bercerai dan saya tidak ingin itu. Akhirnya saya memutuskan untuk bercerai dan membawa kedua anak saya. Saya beruntung punya keluarga, yaitu ibu dan kakak saya, mereka menampung dan membantu mengurus anak saya,” paparnya.

Bagi ibu berusia 36 tahun itu, kedua anak perempuannya merupakan alasannya bangkit dari keterpurukan. Ia tidak ingin cengeng di hadapan anak-anaknya. Tiara ingin menunjukkan dirinya sebagai sosok yang kuat dan bisa bangkit meng­urus buah hatinya.
Kedua anaknya pun mengetahui pekerjaannya di dunia event organizer. Tiara selalu terbuka kepada mereka sejak masih balita. Kedua anaknya pun tahu ibunya harus mencari uang sendiri. “Jadi saya selalu memberikan pengertian kalau tidak setiap saat punya waktu untuk mereka dan tidak setiap saat bisa jalan-jalan karena saya belum tentu punya uang,” imbuhnya. (M-

Baca Juga

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo

Indonesia Terus Upayakan Pemenuhan Hak Anak

👤Atalya Puspa 🕔Selasa 24 November 2020, 14:20 WIB
Hal paling mendasar yang dilakukan Indonesia dalam upaya pemenuhan hak anak dan perlindungan anak sesuai Konvensi Hak Anak adalah dengan...
ANTARA/	IDHAD ZAKARIA

Kabar Gembira, Kemensos Buka Kuota Tambahan BST

👤Suryani Wandari 🕔Selasa 24 November 2020, 14:05 WIB
Kuota baru BST bagi 20 ribu KPM diprioritaskan untuk daerah yang penyerapan bantuannya dinilai...
Antara/Raisan Al Farisi

Ada Potongan Pajak, Berapa BSU yang Diterima Guru Honorer?

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 24 November 2020, 13:58 WIB
Bagi guru honorer yang memiliki NPWP, besaran BSU dikenai potongan PPh sebesar 5%. Adapun penerima BSU yang belum punya NPWP, dikenai...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya