Selasa 13 Juni 2017, 00:30 WIB

Aliran Dana ke DPR kian Benderang

Dero Iqbal Mahendra | Politik dan Hukum
Aliran Dana ke DPR kian Benderang

ANTARA/ROSA PANGGABEAN

 

JAKSA penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi menegaskan aliran dana proyek KTP elektronik (KTP-E) benar-benar masuk ke kantong sejumlah anggota DPR dan juga partai politik.

Fakta bahwa duit milik negara telah menjadi bancakan disampaikan secara terang benderang oleh terdakwa I dan II korupsi KTP-E di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

"Tadi terdakwa I dan II sudah menyampaikan bahwa benar ada permintaan dari DPR sejumlah tertentu yang kemudian menurut terdakwa dilakukan pencairan sebanyak empat tahapan. Kalau dihitung termin 1-4, totalnya lebih dari Rp2 triliun (Rp2,558 triliun)," kata Jaksa Irene Putri seusai persidangan, kemarin.

Terdakwa I ialah mantan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Irman.

Terdakwa II ialah mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Dukcapil Sugiharto.

Irman dan Sugiharto didakwa melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi bersama-sama dengan lima orang lainnya, termasuk Setya Novanto yang kini menjabat sebagai Ketua DPR.

Keduanya telah mengarahkan untuk memenangkan perusahaan tertentu dalam menggarap proyek KTP-E tahun anggaran 2011-2013 senilai Rp5,9 triliun.

Dari jalannya persidangan, Irman menuturkan soal pembagian uang senilai Rp520 miliar dalam pengadaan KTP-E.

Pada 2011 Sugiharto datang menemui dirinya di ruang kerja Dirjen Dukcapil.

Sugiharto membawa catatan dari Direktur PT Cahaya Wijaya Kusuma, Andi Narogong, tentang rencana penyerahan uang ke sejumlah nama dan partai politik.

Andi juga telah berstatus sebagai tersangka.

Ia diduga berperan aktif dalam proses penganggaran dan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dalam proyek KTP-E.

Adapun catatan dari Andi perinciannya ialah kartu kuning untuk Golkar Rp150 miliar, kartu biru Demokrat Rp150 miliar, kartu merah Rp80 miliar.

"Kemudian ada MA, yaitu Marzuki Ali Rp20 (miliar), Anas Urbaningum 20 juga, ada juga CH, itu Chaeruman Harahap 20. Kemudian LN atau partai lainnya jumlahnya 80. Itu secara lengkap baru saya dapatkan dari Pak Giarto," ujar Irman menjawab pertanyaan hakim Jhon Halasan Butarbutar.

Irman mengakui ada uang untuk Sekretaris Jenderal Kemendagri saat itu Diah Anggraini.

"Pak Giarto menghadap ke saya mengatakan bahwa Andi mau datang ke ruangan saya untuk memberikan uang ke Bu Diah 300 (ribu dolar AS/Rp3,9 miliar), untuk saya 300 (ribu dolar AS), dan untuk Giarto 100 (ribu dolar AS)," ungkapnya.

Uang untuknya dibawa dalam bentuk 300 ribu dolar AS dan seluruh uang dititipkan kepada Sugiharto.

Selain itu, Irman menerima Rp50 juta.

"Khusus saya, saya sudah setorkan kepada kas negara melalui KPK. Saya menyesal tidak langsung saya kembalikan," ujar Irman.

Jaksa Irene menegaskan penuturan kedua terdakwa selama pemeriksaan sudah memenuhi ekspektasi pihak jaksa KPK.

"Bahwa dari pencairan termin itu sudah diserahkan kepada pihak legislatif, saya kira itu poin penting dari terdakwa untuk sidang hari ini," tegas dia. (P-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More