Senin 12 Juni 2017, 19:46 WIB

Patrialis Perintahkan Pengusaha 'Dekati' Hakim MK Lain

Patrialis Perintahkan Pengusaha

MI/ROMMY PUJIANTO

 

PATRIALIS Akbar, mantan Hakim MK, tersangka kasus suap uji materi UU No 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 18 Tahun 2009 disebut memerintahkan pengusaha Basuki Hariman untuk 'mendekati' hakim-hakim MK lain yang berpendapat ingin menolak uji materi undang-undang tersebut.

"Pada pertemuan 13 Oktober 2016, saya dengar info ada beberapa hakim yang menolak, ada dua hakim yaitu Pak I Dewa Palguna dan Pak siapa lupa, lalu Pak Patrialis mengatakan coba silakan dilakukan pendekatan saja," kata Kamaludin dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (12/6).

Kamaludin menjadi saksi untuk terdakwa pemilik PT Impexindo Pratama, PT Cahaya Timur Utama, PT Cahaya Sakti Utama dan CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman dan General Manager PT Impexindo Pratama Ng Fenny yang didakwa memberikan uang US$ 50 ribu (sekitar Rp690 juta), Rp4,043 juta dan menjanjikan uang Rp2 miliar kepada hakim konstitusi Patrialis Akbar untuk memengaruhi putusan Perkara Nomor 129/ PUU-XIII/ 2015 terkait uji materi atas UU No 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Pak Patrialis yang menyampaikan di pertemuan itu tapi Pak Patrialis cuma sebentar saja, sehingga kalau ada yang masih perlu, menurut Pak Patrialis 'Coba dilakukan pendekatan saja' tapi Pak Basuki mengatakan tidak usah lah Pak," tambah Kamaludin.

Selanjutnya pada 19 Oktober 2016 dilakukan pertemuan antara Basuki, Ng Fenny, Kamaludin, Zaky Faisal dengan Patrialis Akbar di Restoran D'Kevin dan masih membahas permohonan uji materi perkara Nomor 129/ PUU-XIII/ 2015 serta meminta Patrialis Akbar agar membantu peternak dan importir daging sapi karena sedang rugi.

"Kalau tidak salah Pak Patrialis menyampakan 'Coba buat surat pengaduan masyarakat, sumbernya tidak diketahui ditujukan ke MK agar uji materi ini segera dibahas kembali', tapi tidak jadi mungkin ada jalan lain, melakukan pendekatan kepada majelis yang belum memberikan pendapat," jelas Kamaludin.

Surat pengaduan itu awalnya menurut Kamaludin ditujukan untuk mengadukan nama dua hakim MK. "Mengadukan dua nama hakim itu supaya ini menjadi perhatian MK karena sebelumnya ada putusan yang dikabulkan tapi tiba-tiba uji materi ini dimasukkkan kembali, jadi menurut Pak Patrialis 'Silakan asosiasi infokan saja ini kenapa permasalahan ini dimentahkan kembali'," jelas Kamaludin.

"Apakah dua hakim itu adalah hakim I Gede Dewa Palguna dan Manahan MP Sitoempul?" tanya jaksa penuntut umum KPK Lie Putra Setiawan. "Iya," jawab Kamaludin.

"Apakah dibahas kesanggupan Rp2 miliar?" tanya jaksa Lie. "Seingat saya, Pak Basuki mengatakan hanya bisa Rp2 miliar," jawab Kamaludin.

Selain itu dibahas juga pendekatan kepada hakim MK yang belum memberikan pendapat yaitu Ketua MK Arief Hidayat dan hakim Suhartoyo. "Beberapa hari kemudian saya ada olahraga, saya menyampaikan ke Pak Patrialis, lalu Pak Patrialis mengatakan 'Wah silakan saja diurus itu saya tidak ada urusan'," tambah Kamaludin.

Kemudian pada 22 November 2016 , di Jakarta Golf Club Rawamangun, Patrialis Akbar menanyakan kepada Kamaludin berkenan atau tidaknya Basuki dalam melakukan pendekatan kepada Hakim Suhartoyo menggunakan jasa Lukas (seorang pengacara yang dekat dengan Hakim Suhartoyo dan dikenal oleh Patrialis Akbar) atau menggunakan jasa Surya (saudara dari Patrialis Akbar), namun pada akhirnya Patrialis Akbar juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak berkenan jika Basuki menggunakan jasa Surya.

"Awalnya untuk melakukan pendekatan ke pihak-pihak itu karena Pak Patrialis juga tidak mungkin melakukan pendekatan. Saya dengar nama Lukas itu untuk ditawarkan menjadi yang akan menolong kita tapi Pak Basuki tidak berkenan untuk menerima tawaran Pak Patrialis itu. Saat itu Pak Patrialis menawarkan ke kita untuk ini bisa dibantu Pak Lukas, Pak Basuki mengatakan 'Itu tetangga saya, saya tidak berkenan, ah malas saya', jadi tidak ditindaklanjuti," ungkap Kamaludin.

Sedangkan nama lain yang muncul adalah Surya, tapi Patrialis malah keberatan jika menggunakan jasa Surya. "Alternatif lain juga bisa Surya tapi pak Patrialis tidak berkenan, saya tidak tahu kenapa. Surya itu saudaranya Pak Patrialis. Lukas dan Surya untuk pendekatan ke hakim Suhartoyo, sedangkan ke hakim Arief Hidayat tidak dibahas," jelas Kamaludin.(OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More