Senin 12 Juni 2017, 17:00 WIB

Mabes Polri Dalami Temuan 500 Detonator di Makassar

Ilham Wibowo | Politik dan Hukum
Mabes Polri Dalami Temuan 500 Detonator di Makassar

thinkstock

 

MARKAS Besar Kepolisian Republik Indonesia tengah meneliti 500 detonator atau alat picu bahan peledak yang ditemukan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (11/6). Motif pembawa barang tersebut juga tengah diperjelas.

"Sekarang sedang diteliti asal-usul detonator tersebut. Siapa pengirimnya, pengirimnya apa, motifnya apa, dan penerimanya siapa, masih diteliti," ujar Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (12/6).

Setyo mengatakan, pihaknya perlu melakukan antisipasi dini dalam penemuan paket barang ini. Sebab, kata dia, detonator tersebut bisa saja digunakan untuk keperluan negatif.

"Ini detonator bisa digunakan macam-macam, bisa untuk bom ikan, bisa untuk bom yang beneran," ucapnya.

Temuan ini berawal dari petugas keamanan bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan saat melalukan pemeriksaan X-ray, Minggu (11/6) pagi. Paket itu baru masuk di ruangan kargo bandara.

Kepala Polsek Bandara Hasanuddin Iptu Ahmad mengungkapkan, petugas keamanan berinisiatif membuka paket tersebut karena tampilannya di layar X-ray mencurigakan. Detonator ditemukan dalam lima bungkus dengan masing-masing isi 100 unit.

"Paket ditemukan dalam paket kemasan yang dibungkus bersama kue," kata Ahmad.

Dari temuan itu, petugas bandara bersama aparat kepolisian kemudian mengamankan detonator untuk didata. Dari penelusuran, barang tersebut diketahui dikirimkan seorang warga bernama Jamaluddin, beralamat di kabupaten Gowa, Sulsel menggunakan jasa pengiriman ekspedisi. Barang ditujukan kepada H Raji di Katapang, Kalimantan Barat.

Saat ini barang sudah dibawa ke markas Polda Sulsel guna penyelidikan lebih lanjut. Ahmad mengatakan, polisi mencari tahu identitas pengirim. Karena paket berisi barang berbahaya, bisa jadi pengirimnya menggunakan identitas palsu. Demikian juga dengan sang penerima.

Temuan paket detonator bukan yang pertama di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pada Januari 2017, petugas keamanan bandara juga menemukan 300 detonator. Saat itu terungkap, barang hendak digunakan untuk mengebom ikan. (MTVN/X-12)
Mabes Polri Dalami Temuan 500 Detonator di Makassar

MARKAS Besar Kepolisian Republik Indonesia tengah meneliti 500 detonator atau alat picu bahan peledak yang ditemukan di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (11/6). Motif pembawa barang tersebut juga tengah diperjelas.

"Sekarang sedang diteliti asal-usul detonator tersebut. Siapa pengirimnya, pengirimnya apa, motifnya apa, dan penerimanya siapa, masih diteliti," ujar Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (12/6).

Setyo mengatakan, pihaknya perlu melakukan antisipasi dini dalam penemuan paket barang ini. Sebab, kata dia, detonator tersebut bisa saja digunakan untuk keperluan negatif.

"Ini detonator bisa digunakan macam-macam, bisa untuk bom ikan, bisa untuk bom yang beneran," ucapnya.

Temuan ini berawal dari petugas keamanan bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan saat melalukan pemeriksaan X-ray, Minggu (11/6) pagi. Paket itu baru masuk di ruangan kargo bandara.

Kepala Polsek Bandara Hasanuddin Iptu Ahmad mengungkapkan, petugas keamanan berinisiatif membuka paket tersebut karena tampilannya di layar X-ray mencurigakan. Detonator ditemukan dalam lima bungkus dengan masing-masing isi 100 unit.

"Paket ditemukan dalam paket kemasan yang dibungkus bersama kue," kata Ahmad.

Dari temuan itu, petugas bandara bersama aparat kepolisian kemudian mengamankan detonator untuk didata. Dari penelusuran, barang tersebut diketahui dikirimkan seorang warga bernama Jamaluddin, beralamat di kabupaten Gowa, Sulsel menggunakan jasa pengiriman ekspedisi. Barang ditujukan kepada H Raji di Katapang, Kalimantan Barat.

Saat ini barang sudah dibawa ke markas Polda Sulsel guna penyelidikan lebih lanjut. Ahmad mengatakan, polisi mencari tahu identitas pengirim. Karena paket berisi barang berbahaya, bisa jadi pengirimnya menggunakan identitas palsu. Demikian juga dengan sang penerima.

Temuan paket detonator bukan yang pertama di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pada Januari 2017, petugas keamanan bandara juga menemukan 300 detonator. Saat itu terungkap, barang hendak digunakan untuk mengebom ikan. (MTVN/X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More