Dari Inabah ke Istijabah

Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Pada: Sabtu, 03 Jun 2017, 09:30 WIB Renungan Ramadan
Dari Inabah ke Istijabah

SYEKH Ibn 'Athaillah membedakan dua jenis tobat, yaitu tobat inabah dan tobat istijabah.

Tobat inabah ialah sikap tobat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya sehingga terbayang di benaknya kerugian besar di dunia dan siksa dan malapetaka Tuhan yang amat pedih di neraka.

suasana takut seperti itu ia menyerahkan diri, bertobat, dan memohon pengampunan kepada Allah SWT.

Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya.

Siang dan malam ia selalu melakukan ketaatan kepada Allah dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi'at (Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan perbuatan yang buruk (QS Hud/11:114).

Adapun tobat istijabah merupakan bentuk tobat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan Tuhannya.

Tobat dalam tahap ini tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat sebagaimana dalam tahap tobat inabah.

Tobat istijabah ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhannya ketimbang panasnya api neraka-Nya.

Yang membuat seseorang tersiksa ialah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah SWT.

Mestinya ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya, tetapi malah melakukan dosa dan maksiat.

Itulah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya.

Ketersiksaannya lebih berat ketimbang ia masuk ke neraka.

Seandainya disuruh memilih disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya, ia akan memilih disiksa di neraka.

Berkaitan dengan dosa sebagai kelemahan manusia, Ibnu 'Athaillah mengingatkan kita: "Tidak ada dosa kecil apabila dihadapkan pada keadilan-Nya, dan tidak ada dosa besar apabila dihadapkan pada karunia-Nya".

Namun, beliau juga mengingatkan kita untuk tidak pernah frustrasi dari dosa:

"Janganlah suatu dosa terlihat begitu besar bagimu, hingga merintangimu dari berprasangka baik kepada Allah. Sesungguhnya siapa yang mengenal Tuhannya pasti akan menganggap dosanya tidak seberapa dibandingkan dengan kemurahan-Nya."

Sudah sepantasnya kita mengevaluasi perjalanan hidup dan diri kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang sudah kita miliki?

Mungkin uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.

Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figur keteladanan orangtua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita?

Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan. Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuan yang melekat di wajah kita?

Di depan mereka kita malaikat, tetapi di luar sana kita iblis. Jangan-jangan kita tak lebih seonggok nafsu?

Evaluasi diri kita masing-masing.

Jenis tobat apa yang kita miliki?

Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan?

Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat? Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa?

Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita karena takut atau malu kepada Allah SWT?

Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan?

Kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.

Masih ada sedikit waktu untuk bertobat, lakukanlah sebelum segalanya terlambat.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Minggu, 21 Jul 2019 / 16 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:52 WIB
Dhuha : 06:20 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 19:00 WIB

PERNIK

Read More