Sabtu 27 Mei 2017, 08:30 WIB

Dari 'Aabid ke 'Abiid

Prof Dr KH Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Dari

ADA tiga istilah dan jenis hamba yang diperkenalkan Allah SWT dalam Alquran, yaitu 'aabid, 'abiid, dan 'ibaad.

Ketiga kata tersebut berasal dari akar kata yang sama, yaitu 'abada-ya'budu berarti menyembah, beribadah, dan mengabdi.

Penggunaan ketiga kata tersebut dibedakan di dalam Alquran.

Kata 'aabid lebih banyak digunakan untuk orang-orang yang melakukan penyembahan secara sesat atau penyembahan dan keimanan mereka masih bermasalah.

Kata 'abiid lebih banyak digunakan Allah SWT untuk hamba yang konsep keimanannya sudah benar, tetapi masih terkontaminasi oleh perbuatan-perbuatan dosa.

Kata 'ibaad digunakan Allah SWT untuk hamba-Nya yang benar dan betul-betul konsisten memelihara ketaatan dan keimanannya kepada Allah SWT.

Kata lain yang digunakan dan maknanya hampir sama dengan 'ibaad ialah 'abd yang penggunaannya lebih banyak disandarkan kepada Allah SWT.

Penggunaan kata 'aabid terulang sebanyak 12 kali, baik dalam bentuk mufrad maupun bentuk jamak.

Umumnya ayat-ayat tersebut digunakan untuk hamba yang masih mempunyai masalah di dalam konsep penyembahannya.

Sebut saja orang yang menghambakan diri kepada berhala seperti yang terdapat dalam ayat: (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?" Mereka menjawab, "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." (QS al-Anbiya'/21:52-53).

Kata 'aabid juga digunakan untuk orang-orang yang menyembah roh nenek moyang (QS al-Mu'minun/23:47 dan QS al-Zukhruf/43:81).

Dari ayat-ayat tersebut ditunjukkan bahwa kata 'aabid lebih banyak digunakan untuk hamba yang memiliki konsep penyembahan yang bermasalah.

Namun, kosakata 'aabid ini sudah selangkah lebih maju jika dibandingkan dengan kosakata kaafir yang bukan saja tidak memiliki perasaan tunduk dan mau beribadah, melainkan juga sudah ingkar dan cenderung menjadi pembangkang.

Kata 'aabid sudah pernah digunakan untuk mengajak dan memberi harapan kepada para penyembah berhala untuk menyembah dengan cara yang benar.

Ia seperti dikatakan dalam ayat: Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Dan siapakah yang lebih baik sibgahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (QS Al-Baqarah/137-138).

Istilah yang digunakan Nabi ketika menolak ajakan orang-orang kafir Mekah, sebagaimana diajarkan Allah SWT, ialah: Wa la ana 'aabid ma 'abadtum wa la antum 'aabiduna ma a'bud (Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. (QS Al-Kafirun/109:3-4).

Allah SWT menggunakan kata 'aabid, bukannya menggunakan kata 'abiid, karena dimaksudkan untuk menegasikan ajakan orang-orang kafir yang memiliki sistem penyembahan bermasalah ('aabid).

Penggunaan kata 'abiid yang terulang sebanyak lima kali dalam Alquran dimaksudkan kepada orang-orang yang beriman dan memiliki penyembahan yang benar.

Hanya, ia masih bermasalah dalam hal implementasi dan pelaksanaan ibadahnya.

Misalnya, mereka masih suka melakukan perbuatan yang melampaui batas, seperti dikatakan dalam ayat: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Zumar/39:53)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 21 Sep 2019 / 16 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:52 WIB
Dhuha : 06:20 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 19:00 WIB

PERNIK

Read More