Rabu 04 Maret 2015, 00:00 WIB

Menjaga Candi Lumbung agar tidak Limbung

MI/TOSIANI | Nusantara
Menjaga Candi Lumbung agar tidak Limbung

MI/TOSIANI/ANTARA/PARAMAYUDA

 
SUASANA pagi di sekitar Candi Lumbung yang berlokasi di tengah perkampungan Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tampak sepi. Saat saya mengunjungi Candi Lumbung di lokasi terbaru, Kamis (26/2), belum ada aktivitas warga karena masih terlalu pagi. Namun, beranjak siang dan matahari sudah memancarkan sinarnya, terlihat seorang petani mulai menggelar dua tikar di sudut kiri candi. Ia kemudian menjemur gabah di atas dua tikar yang telah digelar itu.

Sembari menunggu gabahnya kering, petani tersebut berbincang akrab dengan penjaga dan warga sekitar candi. Semakin siang, mulailah berdatangan sejumlah wisatawan melihat-lihat situs kuno itu. Memang belum banyak wisatawan yang mengunjungi situs Candi Lumbung di lokasi baru di Desa Krogowanan sejak akhir 2011. Namun, Desa Krogowanan bukan lokasi asli penemuan Candi Lumbung yang dibangun pada era Mataram Kuno sekitar abad VIII hingga IX Masehi. Di masa lalu candi itu berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian.

Candi Hindu itu terpaksa direlokasi karena terancam oleh aliran banjir lahar Gunung Merapi hasil erupsi 2010. Adapun lokasi asli Candi Lumbung di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, yang berjarak kurang dari 1 meter dari bibir Sungai Apu yang berhulu di puncak Merapi.

Lokasi yang rawan bencana itu membuat pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah melakukan upaya penyelamatan dari terjangan banjir lahar dingin, dengan merelokasi candi ke lokasi baru di Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Jarak antara lokasi baru dan lokasi lama sekitar 700 meter.

Proses pemindahan candi dilakukan secara bertahap sejak September hingga Oktober 2011. Lokasi baru candi berada di lahan bekas kolam ikan di tengah permukiman. Pemindahan itu merupakan upaya penyelamatan sementara.

Pihak BPCB sudah berusaha memperkuat tebing yang menopang Candi Lumbung sebanyak dua kali. Namun, upaya tersebut sia-sia karena tebing itu tetap rawan tergerus oleh air.

Di lokasi baru, Candi Lumbung menempati areal bekas kolam ikan seluas 1.200 meter persegi. Lahan tersebut milik Anthonius Sujarwo, 51, warga setempat. BPCB menyewa lahan tersebut selama lima tahun dengan harga Rp3 juta per tahun. Kontrak sewa lahan itu akan habis pada September 2016.

Lokasi asli Candi Lumbung di areal pertanian Desa Sengi seluas sekitar 750 meter persegi. Seperti makna pembangunan Candi Lumbung sebagai tempat menyimpan hasil pertanian, lokasi candi itu juga berada di lahan pertanian. Luas bangunan Candi Lumbung mencapai 8,7 meter persegi berbentuk bujur sangkar, ditambah bagian pintu seluas 3 meter. Tinggi candi mencapai sekitar 11,7 meter.

Candi Lumbung berada satu kompleks dengan Candi Asu dan Candi Pendem. Ketiga candi itu membentuk segitiga yang berkaitan. Candi yang satu dengan candi lainnya berjarak masing-masing sekitar 300 meter.

Candi Asu berada di ujung sebelah barat, Candi Lumbung di sudut selatan, dan Candi Pendem berada di sudut sebelah utara.

"Tiga candi ini sudah ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda, ketiganya berhubungan," jelas penjaga Candi Lumbung dan Candi Pendem, Jumat, 47.

Candi Asu diketahui sebagai tempat menyimpan abu kematian atau tempat peristirahatan terakhir para raja zaman Mataram Kuno. Candi itu memiliki luas bangunan 8,70 meter persegi, luas pintu 3 meter persegi, dan tinggi sekitar 6,7 meter.

Candi Pendem berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata. Candi tersebut memiliki luas bangunan sama seperti Candi Asu dan Candi Pendem. Tiga candi yang berkaitan itu juga memiliki bentuk bangunan yang hampir sama.

Lahar
Seperti halnya Candi Lumbung, Candi Asu dan Candi Pendem juga berada di daerah rawan bencana banjir lahar. Ketiga candi tersebut berada di tepi sungai yang berhulu di puncak Merapi. Candi Asu bahkan berada di tengah-tengah Sungai Apu dan Sungai Trinsing dengan jarak 200 meter ke dua sungai. Jarak Sungai Apu ke Candi Pendem sekitar 200 meter. Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo memaparkan lokasi aman dari banjir lahar pada radius 300 meter dari banjir lahar, sedangkan lokasi tiga candi itu pada radius kurang dari 300 meter dari sungai sehingga cukup rawan.

"Meski ketiga candi berada di lokasi rawan bencana, hanya Candi Lumbung yang dipindahkan sementara. Soalnya candi itu sudah ada di dekat tebing sehingga dikhawatirkan tergerus oleh air," kata Wakidi, penjaga Candi Lumbung di lokasi baru Desa Krogowanan.

Dia menambahkan masih lebih dari 500 batuan belum dipasang pada bangunan Candi Lumbung. Sebagian batuan masih ada di lokasi lama Desa Sengi. Sebagian lainnya sudah dipindahkan ke lokasi baru Desa Krogowanan.

"Pemindahan ini hanya sementara sebagai upaya penyelamatan sehingga bagian candi dibangun tidak utuh dan tidak lengkap. Banyak batuan belum dipasang," ujar Wakidi.

Kendati candi berada di lokasi rawan bencana, Pemerintah Kabupaten Magelang tidak bisa berbuat apa-apa. Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Magelang Darmono mengatakan pelestarian tiga candi itu hingga saat ini masih merupakan kewenangan BPCB. (N-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More