Jumat 16 April 2021, 22:35 WIB

Kisah Diaspora Indonesia Jalani Puasa Terlama di Dunia

Ferdian Ananda Majni | Ramadan
Kisah Diaspora Indonesia Jalani Puasa Terlama di Dunia

Dok.MI/Muhammad Zuhair Zahid
Muhammad Zuhair Zahid

 

BULAN suci ramadhan biasa juga menjadi ajang silaturahmi bagi keluarga, mereka yang merantau akan kembali ke kampung halaman untuk menikmati sahur dan berbuka puasa bersama.

Namun tak semua bisa menikmati berkumpul dengan keluarga, hal ini dirasakan para Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang berada di belahan bumi lainnya.

Bahkan mereka merasakan berpuasa dengan durasi waktu berbuka paling lama yakni lebih 15 jam, seperti yang dialami para anggota PCINU di Swedia yang berpuasa selama 20 jam, dan juga Inggris dan Rusia.

Pagi itu, salju turun di planet bumi bagian utara Rusia atau terletak 400 kilometer dari Samudra Atlantik. Di sana, seorang anggota PCINU Swedia yang juga dosen Universitas Negeri Semarang, Muhammad Zuhair Zahid tengah disibukkan dengan tugas kuliah dan pekerjaan dalam ruangannya di Departmen of sciences and mathematics.

Zuhari yang melanjutkan pendidikan di University Swedia di bidang pendidikan Matematika mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan ibadah. Terlebih untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.

"Untuk salat saya punya ruang pribadi yang bebas saya gunakan untuk beribadah, jadi kapanpun saya mau salat saya lebih nyaman di sini," kata Zuhari dalam laporannya untuk program Nunggu Sunset Kurma bertajuk Puasa Terlama di Dunia secara during Jumat (16/4).

Baca juga: Hikmah Puasa dan Qiyamul Lail di Bulan Ramadan

Dia menyebut ada juga mahasiswa yang tidak memiliki ruang pribadi seperti mahasiswa S1 dan S2. Namun, mereka disediakan satu ruangan seukuran 4×4 untuk dijadikan tempat beribadah. Sehingga semua agama bisa menggunakan tempat tersebut.

"Di sana kalau muslim mau salat tidak masalah, orang budha juga mau meditasi juga bisa. Agama apapun bisa beribadah di sana," sebutnya.

Dok.MI/Abdul Rasyid

Sementara itu, untuk ibadah salat jumat juga ada sebuah masjid yang menampung sekitar 25 hingga 30 jamaah. Namun, karena kondisi pandemi maka masjid itu hanya diperbolehkan digunakan sebanyak 8 orang saja.

"Kalau untuk jumaatan bisa belasan orang atau lebih sedikit," ujarnya.

Menurunkan, cuaca saat ini tidak terlalu ekstrem sehingga tidak berpengaruh pada aktivitas puasa yang telah berjalan selama 5 hari ini di sana. Untuk subuh sendiri, mereka melaksanakan salatkan salat sekira pukul 03.00 dan magrib sekira pukul 09.00 waktu setempat.

Ada pengalaman berkesan sekaligus menguras tenaga di tengah kondisi berpuasa, Zuhari harus menuntun sepedanya karena kondisi jalanan yang dipenuhi salju.

"Keputusan saya tadi bawa sepeda ke kampus ternyata salah, kondisi salju semakin tebal dan saya harus berjalan menuntun sepeda ke kediaman, ini juga sulit," ujarnya.

Zuhari mengaku melaksanakan ibadah salat tarawih akan di sekira pukul 09.30 waktu setempat. Malam semakin larut, kondisi cuaca semakin ekstrem dan angin kencang menusuk tulang.

Baca juga: Nuansa Ramadan di Negeri Lamahala

"Ini pengalaman saya teraweh di bumi yang memiliki banyak perbedaan, mazhab juga beda saat melaksanakan salat," terangnya.

Diaspora lainnya, yang juga anggota PCINU Rusia Abdul Rasyid Ramadhani mengatakan suasana ramadan di kota Kazan Rusia sangat terasa. Apalagi kota ini dikenal sebagai komunitas muslim di Eropa.

"Semarak kegiatan ibadah tampak di masjid-masjid kota ini," ujarnya.

Salah satunya di Masjid Syahabuddin Marzani yang berdiri sejak tahun 1767 masehi. Setiap menjelang buka puasa suasana masjid ini ramai dan dipenuhi umat muslim sekitar, tak terkecuali mahasiswa asal Indonesia.

Dok.MI/Abdul Rasyid

Setelah berbuka puasa bersama, dan salat magrib. Mereka juga melaksanakan salat isya dan teraweh. Mereka sangat antusias dan suasana khusyuk sangat terasa di masjid tersebut.

Laporan lainnya juga disampaikan PCINU Inggris yang juga mahasiswa pendidikan master of public administration di University of Southampton, Suwondo tentang keseruan dan kenikmatan beribadah dan berpuasa di negeri ratu Elizabeth.

Dalam beribadah di sana, Suwondo mengaku tetap menjaga keseimbangan antara mental, fisik dan spiritual. Sehingga ibadah selama ramadan tetap semangat dan optimal meskipun dalam kondisi jauh dari tanah air

Suwondo mengaku untuk mencari makanan di Inggris ada 2 tantangannya, yakni mencari makan halal dan kesesuaian rasa di lidah sebagai orang Asia.

"Banyak menu-menu yang kami rindukan, kami kangen makanan Indonesia yang sangat sulit Kamis temukan di sini," terangnya.

Hal lainnya yang disyukurinya adalah kebiasaan untuk memasak, kata Suwondo kondisi itu memaksa dirinya untuk bereksperimen di dapur untuk mengobati rasa rindu terhadap masakan khas Indonesia, seperti bakso, tahu, tongseng.

"Kalau di Indonesia, setiap ramadan kita banyak menemukan takjil dan makanan khas bulan puasa, nah di sini tidak ada, kita harus masak sendiri," kenangnya. (OL-4)

Baca Juga

Dok. Amy Maulana

Takbir dan Salawat Bergema Sambut Idul Fitri di Dagestan Rusia

👤Humaniora 🕔Senin 17 Mei 2021, 08:00 WIB
Tradisi lebaran masyarakat muslim Dagestan yang unik adalah mengunjungi keluarga atau tetangga yang tahun ini berduka ditinggalkan mati...
ANTARA/ADENG BUSTOMI

Ketupat Lemak, Menu Wajib Lebaran di Kubu Raya

👤Humaniora 🕔Jumat 14 Mei 2021, 10:31 WIB
Ketupat lemak merupakan beras ketan yang dimasukkan ke dalam daun kelapa yang sudah di anyam. Beda dengan ketupat, pada umumnya ketupat...
Antara

Ketua DPR: Idulfitri Momentum Perkuat Solidaritas

👤Putra Ananda 🕔Kamis 13 Mei 2021, 13:59 WIB
Apalagi saat pandemi covid-19, menurut Puan penting untuk berbagi kebahagiaan dengan saudara di sekeliling kita. Terutama mereka yang...

RENUNGAN RAMADAN

TAFSIR AL-MISHBAH

2021-10-16

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 16 Okt 2021 / Ramadan 1442 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:11 WIB
Subuh : 04:21 WIB
Terbit : 05:30 WIB
Dzuhur : 11:38 WIB
Ashar : 14:45 WIB
Maghrib : 17:58 WIB
Isya : 18:52 WIB

TAUSIYAH