KETEGANGAN antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berakar pada perubahan politik sejak Revolusi Iran 1979, yang mengakhiri hubungan strategis Teheran dengan Barat. Krisis sandera 1979–1981 semakin memperkuat narasi keamanan di Amerika Serikat, menjadikan Iran sebagai simbol tantangan terhadap kepentingan AS di Timur Tengah. Dalam perkembangan berikutnya, isu program nuklir Iran menjadi pusat strategi politik dan keamanan AS, termasuk melalui upaya diplomasi seperti Joint Comprehensive Plan of Action yang sempat meredakan ketegangan.

Namun, narasi ancaman sering bergeser menuju pendekatan keamanan yang lebih keras. Penarikan AS dari perjanjian nuklir pada 2018 memicu kembali sanksi ekonomi dan retorika “tekanan maksimum”, dengan fokus pada program nuklir dan rudal balistik Iran. Di sisi lain, isu ini juga berfungsi sebagai instrumen politik domestik di AS, membentuk opini publik dan legitimasi kebijakan luar negeri, sementara dinamika antara diplomasi dan konfrontasi tetap menjadi pola utama hubungan kedua negara.