HARI Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) Sedunia kembali menegaskan bahwa infeksi baru HIV masih tinggi di berbagai negara. Secara global, 1,3 juta kasus baru pada 2024 menunjukkan upaya pengendalian belum cukup menahan laju penularan. Masih ada 9,2 juta orang yang belum mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV), membuat risiko penularan tetap besar, terutama di wilayah dengan layanan kesehatan terbatas. Gangguan layanan pascapandemi membuat deteksi melambat.

Di Indonesia, situasinya juga mengkhawatirkan. Dari estimasi 564.000 ODHIV pada 2025, baru sekitar 356.638 yang terdeteksi, menunjukkan masih banyak kasus tersembunyi di masyarakat. Deteksi baru hanya mencapai sekitar 63–65 persen dari estimasi, dan cakupan ARV berada di angka 67 persen dari kasus yang terdeteksi, sehingga lebih dari 40 persen ODHIV belum mendapatkan terapi. Minimnya testing, tingginya stigma, terbatasnya akses tes mandiri, serta ketidakstabilan pendanaan yang memengaruhi distribusi ARV terus memperlebar kesenjangan pengobatan, terutama di daerah terpencil dan Indonesia Timur.