JALAN TB Simatupang awalnya dirancang sebagai jalur arteri selatan yang tenang dan berfungsi sebagai lingkar luar Jakarta pada 1950–1980-an. Namun, sejak 1990-an pembangunan Tol Jagorawi dan jalan tol lingkar luar Jakarta atau Jakarta Outer Ring Road (JORR) menjadikan kawasan ini semakin strategis. Memasuki 2000-an, TB Simatupang berkembang pesat menjadi “Segitiga Emas Selatan” dengan gedung perkantoran, apartemen, dan pusat belanja, sayangnya tanpa diiringi peningkatan kapasitas jalan maupun transportasi publik yang memadai.

Kini, jalan TB Simatupang menjadi simpul macet permanen. Masifnya pembangunan gedung tanpa analisis dampak lalu lintas membuat akses keluar-masuk gedung langsung mengganggu lajur utama. Minimnya transportasi massal dari wilayah penyangga membuat pekerja tetap bergantung pada kendaraan pribadi. Kondisi ini menjadikan TB Simatupang menjadi simbol pertumbuhan ekonomi tanpa perencanaan mobilitas yang terintegrasi.