Rabu 23 November 2022, 05:00 WIB

15 Detik di Cianjur

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial
15 Detik di Cianjur

MI/Ebet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.

SAGALA masalah nu dongkap ayeuna, sanes kanggo ngalabuhkeun anjeun, nanging eta kanggo nguji sabaraha kuat anjeun tiasa nahana.

Nasihat Sunda itu artinya semua masalah yang datang hari ini, bukanlah untuk menjatuhkan kalian, melainkan untuk menguji seberapa kuat kalian bisa menahannya.

Hari-hari ini, kalimat penghiburan itu berkumandang di Cianjur. Tujuannya untuk saling menguatkan.

Gempa 5,6 magnitudo yang ‘cuma’ beberapa detik mengguncang Cianjur, membuat wilayah yang indah itu luluh lantak. Lagu Semalam di Cianjur yang berisi asmara dan keindahan Cianjur, bersalin rupa menjadi pekikan tangis dan kepiluan duka. Dalam sekejap, tawa kanak-kanak lenyap. Berganti jeritan di mana-mana.

Karena itu, simpan dulu beragam nostalgia indah tentang Cianjur, mulai taoco, bubur ayam, maenpo, kuda kosong, Dalem Cikundul, Utuy Tatang Sontani, terowongan kereta api Lampegan, situs megalitik Gunung Padang, Istana Cipanas, Taman Bunga Nusantara, hingga band Armada. Ganti dengan doa, kalimat penghiburan, dan solidaritas, bantuan untuk meringankan derita.

Gempa pada Senin, 21 November 2022, pukul 13.21 WIB, itu merusak banyak hal. Berbagai ‘artefak monumental’ hancur. Lebih dari 2.000 rumah ambruk. Jalan-jalan retak. Jembatan rebah. Sejumlah sekolah, rumah sakit, gedung perkantoran, gedung instansi pemerintah, rumah sakit, pondok pesantren, dan musala roboh.

Dampaknya, lebih dari 58 ribu orang mengungsi. Mereka bersabung dengan angin dan dinginnya malam. Lebih dari seribu orang luka-luka. Puncaknya, sedikitnya 268 orang meninggal.

Magnitudo gempa memang tidak sebesar gempa di tempat lain dalam beberapa saat terakhir. Namun, posisi pusat gempa yang berada di daratan dengan kedalaman dangkal (cuma 10 kilometer), membuat kerusakan akibat gempa tidak terperi.

Maka, dalam sebulan ke depan, saat masa darurat dicanangkan, empati dan solidaritas mesti terus digemakan. Betul bahwa negara sudah hadir. Namun, penderitaan akan kian ringan bagi para korban jika banyak yang menyingsingkan lengan. Menolak berpangku tangan.

Sejarah sudah menorehkan, saban bencana terjadi, solidaritas mengalir deras. Saat gempa dan tsunami melanda Aceh pada 2004, misalnya, simpati mengalir tanpa henti. Dana masyarakat yang terkumpul dari media, misalnya, mencapai lebih dari Rp310 miliar. Lebih dari separuhnya (sekitar Rp169,1 miliar) didonasikan melalui program Indonesia Menangis di Metro TV.

Begitu pula saat terjadi gempa Nias, Padang, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, hingga Palu. Uluran tangan solidaritas terus mengalir, kala itu. Jumlah dana yang dihimpun juga mencapai ratusan miliar rupiah dalam waktu relatif singkat. Sat set, sat set.

Bahkan, bukan cuma uang. Banyak mengalir gerakan solidaritas dalam wujud selimut, pakaian, makanan, air minum, obat-obatan, dan uluran tangan para relawan. Bila sumbangan barang dihitung, nilainya bisa mencapai triliunan rupiah. Semua bentuk solidaritas itu jelas amat penting untuk membangkitkan semangat para korban.

Tidak mengherankan bila maraknya aksi tersebut membuat Indonesia dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia secara berturut-turut. Setelah tahun lalu, tahun ini Indonesia kembali dinobatkan sebagai negara paling dermawan di dunia oleh Charities Aid Foundation alias CAF. Berdasarkan World Giving Index 2022 yang disusun dan diterbitkan CAF, Indonesia mendapat nilai sebesar 68 dari 100% dan menduduki peringkat ke-1 dari 119 negara.

Setidaknya terdapat tiga dimensi yang diamati untuk menentukan peringkat tersebut, yaitu kebiasaan dalam membantu orang asing, keinginan berdonasi, dan waktu yang dihabiskan sebagai sukarelawan. Secara berurutan, pada tiga dimensi ini, Indonesia menempati peringkat ke-76, ke-1, dan ke-1. Artinya, untuk gerakan berdonasi dan menjadi relawan, rakyat Indonesia juaranya.

Duka Cianjur masih amat dalam. Gempa yang dirasakan hanya sekitar 15 detik tersebut menggoreskan luka amat masif. Maka, pintu solidaritas tentu amat terbuka agar beban tidak teramat berat, supaya luka tidak terlalu menganga, hingga mendung kesedihan tidak terus-menerus menggelayut.

Bantuan pun mulai mengalir. Bukan saja dari pribadi-pribadi dan lembaga amal, melainkan juga dari beragam partai politik. Ada yang mengirim ambulans. Ada yang menerjunkan relawan. Ada yang mengirim baik dokter maupun perawat.

Karena itu, tetap tabah dan sabar Cianjurku. Dukamu duka kami semua.

Baca Juga

MI/Ebet

Menguak Beking Tambang Ilegal

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
SEMUA seperti cacing kepanasan terkait dengan tambang...
MI/Ebet

Melelang Gugusan Pulau

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM bahasa Sanskerta, kata 'widi' punya makna keberuntungan. Namun, makna nama tidak selalu berbanding lurus dengan fakta...
MI/Ebet

Hakordia yang Muram

👤Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
PEMBUKAAN Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/12),...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya