Sabtu 19 November 2022, 05:00 WIB

Mental Muhammadiyah II

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Mental Muhammadiyah II

MI/Ebet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.

PERSIS dua tahun lalu, di forum ini, saya menulis tentang Mental Muhammadiyah. Dasar pemikiran saya menulis ialah rasa takjub. Takjub atas kemampuan organisasi berusia 110 tahun itu dalam mengelola aset yang nilainya lebih dari Rp300 triliun tanpa ada sepeser pun yang diatasnamakan pribadi. Semua atas nama Muhammadiyah.

Mengapa bisa begitu? Saya menulis: itu semua bisa terjadi karena ada 'mental Muhammadiyah'. Kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, itu dikenal dengan nama mental aghniya. Mental 'orang kaya' yang sudah tidak lagi memburu kekayaan di organisasi kemasyarakatan. Hulunya ada di tangan pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Lalu, sikap itu digenggam erat para penerusnya hingga kini.

Jadilah itu semacam mental berjemaah. Hilirnya pun sikap semacam itu direplikasi, ditiru, oleh banyak anggota Persyarikatan. 'Mental Muhammadiyah' pun melembaga. Hingga detik ini, mental itu masih dipeluk teguh, bahkan kian 'merajalela'.

Hasilnya sudah pasti, aset Muhammadiyah kian meluas bahkan hingga ke luar negeri. Dalam kurun dua tahun terakhir ini, misalnya, ekspansi Muhammadiyah kian ke mana-mana: mendirikan pendidikan untuk anak-anak di Australia, mendirikan Universitas Muhammadiyah cabang Seoul, Korea Selatan, (disingkat UMS sebagai cabang dari Surakarta), siap mendirikan masjid, dan pusat dakwah di Madrid, Spanyol.

Maka, dengan ketakjuban itu, saya lalu membayangkan andaikan saja Kiai Haji Ahmad Dahlan masih hidup, pasti akan terkesima. Sebab, saat mendirikan Muhammadiyah 110 tahun lalu, ia tidak bercita-cita terlalu muluk ingin menaklukkan dunia, misalnya, atau ingin menguasai aset ratusan triliun rupiah. Sama sekali tidak.

Tekad awal yang dicanangkannya cukup ‘sederhana’, yakni menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di dalam Yogyakarta dan memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya. Namun, pada perjalanannya, Muhammadiyah menemukan lahan yang subur untuk berkembang.

Eksklusivisme ‘kauman’, sebuah stempel yang sempat melekat, secara perlahan terus melumer. Kini, massa mereka yang berjumlah lebih dari 50 juta orang itu cukup beragam, yakni mulai petani, pengusaha, hingga cendekiawan. Asetnya pun terus membubung.

Pada 2017, sebuah laporan dari Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Muhammadiyah menyebutkan Persyarikatan mengelola hampir 21 juta meter persegi tanah wakaf. Tentu aset itu kian bertambah kini, terutama setelah pendirian sekolah di Australia, pendirian Universitas Muhammadiyah di Malaysia dan Korea Selatan, juga gedung calon pusat dakwah di Madrid. Namun, istimewanya, tak sejengkal pun lahan itu atas nama pribadi.

Di atas lahan 21 juta meter persegi itu berdiri sekurangnya 20 ribuan sekolah, 13 ribu masjid dan musala, 760-an bank perkreditan rakyat syariah, 635 panti asuhan, 460 rumah sakit dan klinik, 450 baitul mal, 176 universitas, dan 167 pondok pesantren. Data-data itu tentu masih terus bertambah karena kerja-kerja amal Muhammadiyah tidak pernah berhenti.

Itulah warisan penting para pendiri Muhammadiyah. Organisasi ini boleh ‘didesain’ secara sederhana, dengan tujuan yang ‘sederhana’, dengan langkah yang serbasederhana. Namun, begitu ia didirikan dan dikelola orang-orang bermental baja, berintegritas paripurna, jadilah Muhammadiyah seperti sekarang.

Mentalitas yang dibentuk ialah mental memberi, serta spirit membebaskan sekaligus memberdayakan, yang berhulu pada 'doktrin' Kiai Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Doktrin itu merasuk hingga tulang sumsum dan memengaruhi gaya hidup para pimpinan Muhammadiyah. Sangat kontras dengan aset yang dikuasai.

Pak AR Fachruddin, misalnya, saat berdakwah di Yogyakarta dan sekitarnya, memilih naik motor tua atau naik becak. Ketua Muhammadiyah terlama (1968-1990) itu juga menjual bensin eceran di depan rumahnya demi menambah pemasukan. Seorang teman mantan wartawan Tabloid Detik, M Thoriq, pernah bercerita, “Ketua-ketua Muhammadiyah dulu seperti ‘orang aneh’. Enggak masuk di akal zaman sekarang. Pak AR jualan bensin eceran di ‘rumah dinas’-nya. Kulakan bensin di SPBU Terban, pakai kaus singlet sembari naik sepeda jengki membawa jeriken bensin di boncengan. Edan tenan.”

Berkali-kali pula Pak AR menolak secara halus tawaran fasilitas untuk keperluan pribadi dari berbagai pihak. Pak AR pernah menolak pemberian mobil sembari mengatakan tidak bisa menyetir dan tidak sanggup mengurusnya. Pak AR juga menolak bantuan rumah tinggal sembari menyebut bahwa 'rumah dinas' Muhammadiyah yang dia tempati sudah cukup.

Para pimpinan Muhammadiyah lainnya juga memegang teguh prinsip serupa. Almarhum Buya Syafii Maarif biasa mengantre berobat, naik kereta dari Jakarta ke Istana Bogor. Seorang aktivis pernah ‘mengingatkannya’ untuk mengganti mobil agar ‘sesuai’ dengan posisinya sebagai ketua umum organisasi beraset lebih dari Rp300 triliun. Buya Syafii menjawab, “Ah, ini juga sudah cukup.”

Ketika saya singgung pilihan sikap hidupnya yang seperti Kiai Dahlan dan Pak AR itu, Buya mengatakan, “Saya belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka berdua."

Kini era sudah jauh berubah. Cara hidup, cara pandang, dan gaya hidup orang sudah amat berbeda. Namun, mentalitas di Muhammadiyah tidak berubah. Hari ini, Muhammadiyah menggelar Muktamar ke-48 kalinya di Surakarta. Banyak kisah kesetiaan warga Persyarikatan dalam mewarisi doktrin mental Muhammadiyah itu.

Ada kisah seorang ibu sepuh berusia 79 tahun yang rela menempuh perjalanan ribuan kilometer, seorang diri, dari Sumatra ke Surakarta, demi menyemarakkan muktamar. Ada yang bersama-sama rombongan, bersepeda ratusan kilometer juga untuk mengekspresikan cinta mereka kepada Persyarikatan. Ada yang menyiapkan makanan dan tempat tinggal gratis kepada para tetamu dan saudara mereka.

Negara patut bangga karena ada Muhammadiyah. Lebih dari itu, tidak berlebihan kiranya bila negara mengadopsi mental Muhammadiyah untuk memperteguh karakter bangsa. Selamat bermuktamar.

Baca Juga

MI/Ebet

Menguak Beking Tambang Ilegal

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
SEMUA seperti cacing kepanasan terkait dengan tambang...
MI/Ebet

Melelang Gugusan Pulau

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM bahasa Sanskerta, kata 'widi' punya makna keberuntungan. Namun, makna nama tidak selalu berbanding lurus dengan fakta...
MI/Ebet

Hakordia yang Muram

👤Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
PEMBUKAAN Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/12),...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya