Jumat 18 November 2022, 05:00 WIB

Anies dan Gibran

Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Anies dan Gibran

MI/Ebet
Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group.

DON'T judge a book by its cover. Pepatah itu kira-kira berarti jangan menilai buku dari sampulnya. Bisa juga dimaknai jangan menilai kepribadian seseorang dari penampilannya. Namun, terus terang, saya pernah mengabaikan petuah bijak itu untuk menilai Gibran.

Gibran punya nama lengkap Gibran Rakabuming Raka. Dia baru berusia 35 tahun lebih dikit, masih muda, tapi sudah menjadi Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah. Dia juga anak sulung Presiden Jokowi.

Terus terang pada awal kemunculannya, saya kurang sreg dengan sikap dan penampilan Griban. Di mata saya, dia sosok anak muda yang kemaki dan terlihat angkuh. Kesan itu saya tangkap ketika Gibran diperkenalkan untuk kali pertama di depan awak media oleh bapaknya yang akan dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 2014 silam.

Saat itu, dengan potongan rambut model mohawk, Gibran menyemprot wartawan. “Saya bukan pengangguran. Saya punya kerjaan. Kalau saya ikut Bapak terus, berarti saya pengangguran. Saya kan kerja, saya sempat dikatain anak haram karena tak pernah ikut kampanye. Kalian (media) lihat aktivitas saya sendiri kalau saya sibuk karena kerjaan. Ini biar jelas, wong saya punya pekerjaan."

Begitu petikan omelan Gibran. Dia marah karena ada media, entah media apa, memberitakannya yang tidak-tidak. Namun, cara dia menumpahkan kekesalan hatinya mengundang antipati. Seperti banyak warga lainnya, bagi saya, kesan pertama bukan begitu menggoda selanjutnya terserah Anda. Namun, kesan pertama sungguh menyebalkan.

Kesan itu pun lama bertahan. Namun, secara perlahan ia terkikis oleh sikap dan perilaku Gibran. Sikap yang setidaknya menyiratkan bahwa dia anak muda yang punya unggah-ungguh, perilaku yang paling tidak menunjukkan dia tak membeda-bedakan antarkalangan.

Kalau bagi banyak politikus, politik ialah sekat silaturahim, buat Gibran tidak. Setidaknya sampai saat ini. Setidaknya yang kasatmata. Sungguh di luar dugaan ketika dia berkunjung ke kediaman Rocky Gerung di Sentul, September lalu. Siapa yang tak tahu Rocky Gerung? Siapa yang tak paham posisi dia terhadap bapaknya Gibran?

Rocky ialah oposan Jokowi paling vokal, paling galak. Bahkan, bagi Rocky, Jokowi tidak ada benarnya. Namun, bagi Gibran, sejelek apa pun orang bersikap terhadap orangtuanya, tak harus dijauhi. Gibran justru menemui Rocky untuk silaturahim sekaligus berguru, kata dia. Rocky pun menerima dengan senang hati.

Langkah Gibran tak berhenti di kediaman Rocky. Terkini, dia bertemu Anies Baswedan di sebuah hotel di Surakarta, Selasa (15/11). Keduanya sarapan bareng kemudian berangkat bersama-sama satu mobil untuk menghadiri acara haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di Pasar Kliwon.

Siapa yang tak tahu Anies Baswedan? Siapa yang tak paham posisi dia terhadap bapaknya Gibran? Anies ialah simbol oposisi terhadap Jokowi. Dia dipersepsikan sebagai lawan politik utama Jokowi. Namun, bagi Gibran, politik urusan lain yang tak boleh merusak silaturahim. Pertemuan dengan Anies dia sebutkan tak ada kaitannya dengan politik. Dia bertemu atas dasar persahabatan sekaligus tukar pengalaman. Anies merupakan eks Gubernur DKI Jakarta, Gibran masih memimpin Surakarta.

Saya tidak tahu pasti apakah memang tak ada niat politik dalam pertemuan itu. Akan tetapi, kalaupun toh ada, apa yang salah? Bukankah sebagai orang politik keduanya memperlihatkan cara berpolitik yang baik? Bukankah keduanya mencontohkan beda politik bukan berarti putus silaturahim, putus persahabatan?

Puluhan tahun lalu, para pendiri bangsa ini memberikan teladan betapa indahnya politik persahabatan. M Natsir dan IJ Kasimo dari sisi politik berlawanan. Nastir dikenal sebagai tokoh Masyumi, Kasimo tokoh Partai Katolik. Namun, secara pribadi keduanya bersahabat erat, berteman karib. Ketika Natal, Natsir selalu berkunjung ke rumah Kasimo. Sebaliknya, saat Idul Fitri, Kasimo datang ke kediaman Natsir. Kebetulan rumah tinggal mereka tak jauh, sama-sama di Menteng.

Dua bung, Bung Karno dan Bung Hatta, beda pandangan soal demokrasi hingga berpuncak pada mundurnya Hatta dari wakil presiden pada 1 Desember 1956. Namun, persaudaraan mereka abadi. Bung Hatta-lah yang mewakili keluarga Bung Karno tatkala Guntur Soekarnoputra menikah.

Perseteruan antara Bung Karno dan Hamka amatlah tajam. Akan tetapi, meski pernah dipenjara, Hamka tetap bersedia menjadi imam salat jenazah ketika Bung Karno wafat. Bung Karno pula yang meminta Hamka menjadi imam salat saat dia berpulang. Tiada dendam di antara mereka.

Anies dan Gibran memang belum sekelas tokoh-tokoh bangsa nan hebat itu. Sebagai politikus, Anies belum terbilang tua, apalagi Gibran. Namun, soal kedewasaan dalam berpolitik, bolehlah keduanya dipuji.

Penelitian tim University of Nebraska-Lincoln, AS, menyebutkan politik dapat membuat stres mereka yang terlibat, baik langsung maupun yang sekadar mengamati. Politik overdosis juga menyebabkan polarisasi seperti pada Pemilu AS 2016. Bahkan, ilmuwan politik Kevin Smith bilang satu dari lima orang menyatakan politik merusak persahabatan.

Situasi itu kiranya juga terjadi di Indonesia hingga saat ini dan dikhawatirkan pada Pemilu 2024 nanti. Kita butuh guyuran keteladanan bagaimana berpolitik yang baik, yang asyik, yang mengabadikan persahabatan. Kiranya Anies dan Gibran sedikit banyak telah memberikan itu. Semoga keduanya tulus, apa adanya, bukan demi citra.

Ibarat kebo nyusu gudel, tak perlu malu kita belajar dari mereka. Biarkan saja para buzzer dan politikus sontoloyo yang stres karena sel-sel hati mereka kadung tercemar kebencian hingga pertemuan antara Anies dan Gibran pun mereka pandang sinis.

Baca Juga

MI/Ebet

Menguak Beking Tambang Ilegal

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
SEMUA seperti cacing kepanasan terkait dengan tambang...
MI/Ebet

Melelang Gugusan Pulau

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM bahasa Sanskerta, kata 'widi' punya makna keberuntungan. Namun, makna nama tidak selalu berbanding lurus dengan fakta...
MI/Ebet

Hakordia yang Muram

👤Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
PEMBUKAAN Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/12),...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya