Rabu 16 November 2022, 05:00 WIB

Jorjoran Belanja tanpa Gelap Mata

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Jorjoran Belanja tanpa Gelap Mata

MI/Ebet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.

TERNYATA, tidak sepenuhnya menghabiskan anggaran di penghujung tahun itu jelek. Ternyata pula, jorjoran belanja di akhir tahun anggaran itu ada gunanya. Setidaknya, itulah kesan yang tertangkap dari ajakan Menteri Keuangan Sri Mulyani baik kepada kementerian, lembaga, maupun pemerintahan daerah untuk menghabiskan anggaran belanja negara 2022 yang dalam tiga bulan terakhir masih menyisakan Rp1.200 triliun.

Ibu Menkeu sebenarnya sedang geram dan heran, mengapa dari waktu ke waktu, perilaku menggenjot penyerapan anggaran di penghujung tahun itu selalu saja terjadi. Sudah jadi kebiasaan di hampir semua lini sistem belanja keuangan pemerintahan kita. Namun, untuk kali ini, maafkanlah perilaku buruk itu. Ya, kali ini saja.

Mari ambil sisi 'positif' dari kebiasaan negatif itu. Apa itu? Dengan menghabiskan anggaran Rp1.200 triliun, momentum geliat ekonomi akan terjaga. Dengan jorjoran belanja pemerintah, risiko pertumbuhan ekonomi bakal drop lagi setelah naik di kuartal ketiga, bisa diminimalkan. Dengan mendongkrak belanja pemerintah, termasuk belanja untuk bantuan sosial, daya beli masyarakat bisa dijaga.

Apalagi, kita menghadapi tantangan resesi ekonomi global awal tahun depan. Dalam kondisi seperti itu, posisi kita masih diuntungkan tingkat 'keterikatan' kita pada perekonomian global yang relatif kecil. Ekspor kita cuma 25% dari produk domestik bruto. Perekonomian kita sebagian besar ditopang geliat di pasar domestik. Ini blessing in disguise, berkah terselubung.

Yang penting, geliat domestik itu bisa dijaga dengan sebaik-baiknya. Cara menjaganya, ya, dengan menggenjot belanja, baik belanja pemerintah maupun belanja masyarakat. Apa yang terekam dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi 5,72% di kuartal ketiga 2022 mencerminkan pentingnya jorjoran belanja itu. Ajakan giat belanja, alih-alih seruan menabung, ternyata mampu 'menyelamatkan' ekonomi kita.

Sayangnya, jorjoran belanja di kuartal ketiga itu lebih banyak dilakukan masyarakat, khususnya menengah ke atas. Peran belanja pemerintah masih minim. Jadi, ajakan Sri Mulyani untuk membelanjakan anggaran Rp1.200 triliun dalam kurun tiga bulan itu, semacam 'balas budi' pemerintah kepada masyarakat yang telah berkorban untuk menyelamatkan ekonomi kita di kuartal ketiga. Untuk kuartal keempat, biarlah giliran belanja pemerintah yang mendominasi.

Sebab, tercatat hingga akhir September 2022, belanja negara baru terealisasi Rp1.913,9 triliun, alias baru terserap 61,6% dari target Rp3.106,4 triliun. Artinya, masih ada sisa belanja sekitar Rp1.200 triliun yang harus dihabiskan dari Oktober-Desember 2022. Idealnya, jika kuartal ketiga sudah 'tutup buku', mestinya anggaran sudah terserap sekitar 75%.

Namun, yang mesti digarisbawahi, jorjoran belanja tidak berarti 'gelap mata'. Pesan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu yang menyebutkan bahwa 'meski belanja harus dihabiskan, bukan berarti jorjoran untuk kegiatan yang tidak berkualitas' harus jadi pedoman. Silakan jorjoran, tapi untuk kegiatan berkualitas.

Hanya kegiatan berkualitaslah yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Artinya, belanja tidak harus benar-benar habis. Yang lebih penting ialah realisasinya harus tinggi. Kalau sekadar menghabiskan anggaran, tidak peduli kualitas dan tepat sasaran, tentu semua orang bisa melakukannya. Namun, tidak akan memberikan efek signifikan buat menjaga pertumbuhan.

Kalau sudah jungkir balik berikhtiar membuat kegiatan berkualitas, tetapi anggaran enggak habis juga, ya, tidak apa-apa. Toh, aturan soal keuangan negara menyebutkan jika belanja APBN yang sudah ditetapkan tahun ini tidak habis, bisa dioper ke tahun depan. Anggaran tersebut akan dialihkan sebagai dana segar cadangan atau cash buffer.

Kalau ada sisa cash yang cukup dari anggaran 2022, pemerintah bisa menggunakannya di awal 2023 untuk menjaga perekonomian kita. Anggaran sisa itu bisa jadi cash tambahan bagi pemerintah untuk mengantisipasi tingkat ketidakpastian ekonomi yang tinggi. Intinya, boleh jorjoran belanja, tapi kualitas program tetap jadi perhatian utama.

Hal kedua, silakan kebut belanja di akhir tahun ini, asal tetap dalam garis lurus good governance dan clean government. Tata kelola yang baik dan perwujudan pemerintahan yang bersih menjadi keniscayaan. Tidak boleh ada tawar-menawar. Jangan menghidupkan 'ruang remang-remang', apalagi ruang gelap, dengan dalih mempercepat penyerapan anggaran. Modus seperti itu amat tidak keren, sudah usang, dan mewariskan moral parasit busuk yang mesti diamputasi.

So, mari jorjoran belanja Rp1.200 triliun dalam tiga bulan, tapi jangan gelap mata.

Baca Juga

MI/Ebet

Menguak Beking Tambang Ilegal

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
SEMUA seperti cacing kepanasan terkait dengan tambang...
MI/Ebet

Melelang Gugusan Pulau

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM bahasa Sanskerta, kata 'widi' punya makna keberuntungan. Namun, makna nama tidak selalu berbanding lurus dengan fakta...
MI/Ebet

Hakordia yang Muram

👤Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
PEMBUKAAN Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/12),...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya