Selasa 15 November 2022, 05:00 WIB

Wakil Tuhan tanpa Mahkota

Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Wakil Tuhan tanpa Mahkota

MI/Ebet
Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group.

ENTAH siapa yang memulai menyebutkan bahwa seorang hakim adalah ‘wakil Tuhan’ di muka bumi. Tak hanya disebut ‘wakil Tuhan’, dalam persidangan majelis hakim pun mendapatkan panggilan istimewa ‘Yang Mulia’.

Dalam persidangan, baik jaksa, terdakwa atau pengunjung sidang harus menghormati persidangan, termasuk majelis hakim. Bahkan, cara duduk pengunjung sidang pun di atur. Penulis pernah melihat seorang pengunjung sidang yang menumpangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya ditegur majelis hakim karena dianggap duduknya tidak sopan.

Siapa pun yang berada di dalam persidangan bila membuat kegaduhan, perbuatan atau ucapan yang dapat merendahkan dan merongrong kewibawaan, martabat, dan kehormatan badan peradilan bisa kenal pasal penghinaan alias contempt of court sesuai Pasal 217 KUHP. Penghinaan itu terancam hukuman pidana penjara paling lama tiga minggu atau pidana denda paling banyak seribu delapan ratus rupiah.

Wajar saja jika seorang hakim disebut wakil Tuhan di muka bumi karena putusan yang dijatuhkannya menentukan masa depan seorang terdakwa. Seseorang yang tadinya bebas menghirup udara segar, begitu divonis bersalah dia bisa menghirup udara sesak dan bau di penjara. Bahkan, putusan hakim bisa melenyapkan nyawa seorang terdakwa ketika putusan yang dijatuhkannya berupa vonis mati.

Kemandirian hakim disebut juga ‘sakral’ karena siapa pun tak boleh mengintervensi putusannya, termasuk pemerintahan yang berkuasa.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan bahwa seorang hakim harus mampu menjaga kemandirian peradilan, yaitu bebas dari intervensi pihak luar dan bebas dari segala bentuk tekanan, baik fisik maupun psikis.

Putusan hakim harus berdasarkan fakta-fakta persidangan. Akal dan nurani seorang hakim harus berada pada tataran yang seimbang.

Artinya, seorang hakim tidak melulu menggunakan akalnya, tetapi juga mempertimbangkan nuraninya. Mahkota seorang hakim yang notabene wakil Tuhan ialah ketika dia menjatuhkan putusannya dengan adil. Putusan yang dicintai Sang Khalik karena dekat dengan ketakwaan.

Putusan yang tidak semata mengejar kepastian hukum, tetapi keadilan substantif bagi pencari keadilan dan menghayati keadilan masyarakat.

Sebagai wakil Tuhan di planet bumi, setiap putusan hakim wajib mencantumkan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 2 ayat 1 UU No 48 Tahun 2009 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman).

Seorang hakim ialah sosok yang istimewa, mulai tingkat pengadilan negeri, pengadilan tinggi, hingga Mahkamah Agung. Ada pula yang hakim yang bekerja menangani sengketa ketatanegaraan, yakni hakim Mahkamah Konstitusi. Selain seorang pengadil, hakim ialah seorang negarawan. Mereka ialah sosok yang berani mengenyampingkan urusan pribadinya demi memberikan putusan yang adil. Mereka ialah orang-orang yang memilih jalan kesunyian. Jauh dari hiruk-pikuk kehidupan masyarakat yang seringkali memberikan banyak godaan duniawi yang menyesatkan.

Hakim ialah profesi yang mulia (officium nobile). Integritas dan komperensi seorang hakim ialah harga mati. Dua hal ini yang melindungi mahkotanya dalam menjalankan tugas. Jika tidak memiliki kedua modal tersebut, jangan mengharapkan para hakim bisa membersihkan wajah peradilan. Yang ada mereka mengotori lembaga peradilan, seperti dua Hakim Agung Sudrajad Dimyati dan Gazalba Saleh, yang ditetapkan sebagai tersangka perkara suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Kasus Hakim Agung berjualan perkara bukan yang pertama kali di Mahkamah Agung. Benteng keadilan terakhir sudah roboh. Hal yang sama pernah terjadi di Mahkamah Konstitusi, seperti yang menimpa mantan ketuanya, Akil Mochtar dan dan hakim MK Patrias Akbar.

Jika para hakim itu tidak pantas menyandang predikat sebagai wakil Tuhan, apakah pantas mereka disebut wakil iblis di muka bumi? Tabik!

Baca Juga

MI/Ebet

Menguak Beking Tambang Ilegal

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
SEMUA seperti cacing kepanasan terkait dengan tambang...
MI/Ebet

Melelang Gugusan Pulau

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM bahasa Sanskerta, kata 'widi' punya makna keberuntungan. Namun, makna nama tidak selalu berbanding lurus dengan fakta...
MI/Ebet

Hakordia yang Muram

👤Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
PEMBUKAAN Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/12),...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya