Rabu 09 November 2022, 05:00 WIB

Tumbuh tanpa Senjang

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Tumbuh tanpa Senjang

MI/Ebet
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.

SETIAP pengumuman positif tentang pertumbuhan ekonomi kita, layak disambut dengan sukacita. Apalagi bila capaian pertumbuhan itu melampaui ekspektasi. Kegembiraan layak untuk kian diapungkan, agar harapan tidak kunjung padam.

Begitu pula saat Badan Pusat Statistik (BPS) mengabarkan bahwa ekonomi kita tumbuh 5,72% (year on year) pada kuartal ketiga 2022 di tengah ancaman krisis global. Maka, rasa syukur dan kegembiraan tersebut dirasakan kian berlipat. Angka 5,72% itu melampaui sejumlah perkiraan yang menyebutkan ekonomi kita 'hanya' akan tumbuh di kisaran 5% pada kuartal ketiga tahun ini.

Raihan pertumbuhan di kuartal ketiga tersebut memantik optimisme bahwa ekonomi kita bakal tumbuh lebih dari 5,1% (angka ekspektasi) tahun ini. Dari Januari hingga Oktober saja, ekonomi sudah tumbuh 5,4%. Bila kuartal akhir bisa dijaga, angka pertumbuhan 5,7% bukan mustahil bisa diraih.

Banyak analis yang menguarkan harapan kondisi ekonomi yang terus tumbuh itu menjadi sinyal kuat bahwa kita bisa tahan terhadap badai resesi global tahun depan. Mereka optimistis ekonomi kita tahun depan juga masih bisa tumbuh di kisaran 5,2% hingga 5,3% di tengah kesuraman ekonomi global.

Produk domestik bruto kita diprediksi mencapai lebih dari Rp21 ribu triliun pada 2023 itu. Capaian itu merunut dari apa yang telah dihasilkan pertumbuhan di kuartal ketiga kali ini, yang menjadi semacam sinyal terang wajah cerah ekonomi kita ke depan.

Walaupun lebih dari separuh (50,8%) pertumbuhan itu disokong konsumsi di dalam negeri, kondisi itu tetaplah patut kita syukuri. Itu berarti daya beli masyarakat kita naik. Belanja masyarakat (khususnya kelas menengah ke atas) mulai pulih.

Bantuan sosial untuk masyarakat bawah guna menahan daya beli, juga ikut mendongkrak pertumbuhan. Kalau bantuan disetop (bisa jadi karena kian cekaknya anggaran negara), bagaimana nasib daya beli masyarakat? Itulah tantangannya.

Selain itu, atmosfer positif juga ditunjukkan aktivitas perdagangan kita. Neraca perdagangan kita masih terus-terusan surplus. Nilai surplusnya kini mencapai hampir US$40 miliar. Walaupun itu terjadi karena kita mendapatkan 'durian runtuh' kenaikan harga komoditas kita di dunia, terutama batu bara dan minyak sawit.

Harga kedua komoditas itu naik hampir tiga kali lipat. Kalau harga komoditas tersebut nanti kembali normal, masihkah surplus perdagangan kita sebesar tahun ini? Itulah pula tantangannya.

Dalam suasana sukacita dan kegembiraan itu, amat naif kalau kita tidak tetap waspada. Kata Rhoma Irama dalam lagunya Joget, ‘Gembira boleh saja, boleh saja, asal ada batasnya’. Batas kegembiraan itu ada di kewaspadaan. Limit sukacita itu ada pada jawaban atas pertanyaan siapakah yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi itu?

Itulah masalah klasik perekonomian kita. Kesenjangan sosial masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terpecahkan dalam kurun dua dekade ini. Menurut World Inequality Report 2022, dalam dua dekade terakhir kesenjangan ekonomi di Indonesia tidak mengalami perubahan signifikan. Masih menganga. Hampir separuh aset negeri ini (46,6%) dikuasai hanya segelintir orang (1% penduduk).

Laporan itu mencatat, selama periode 2001-2021, sebanyak 50% penduduk Indonesia hanya memiliki kurang dari 5% kekayaan rumah tangga nasional (total household wealth), sedangkan 10% penduduk lainnya memiliki sekitar 60% kekayaan rumah tangga nasional sepanjang periode sama.

Kekayaan rumah tangga nasional dalam laporan ini didefinisikan sebagai jumlah seluruh aset finansial (termasuk saham dan surat berharga lainnya) serta aset nonfinansial (seperti rumah) yang dimiliki rumah tangga Indonesia. ‘Sejak 1999 tingkat kekayaan di Indonesia telah mengalami pertumbuhan signifikan. Namun, pertumbuhan ini meninggalkan ketimpangan kekayaan yang hampir tidak berubah’, demikian dikutip dari World Inequality Report 2022.

Laporan tersebut juga mencatat pada 2021 rasio kesenjangan pendapatan di Indonesia berada di level 1 berbanding 19. Artinya, populasi dari kelas ekonomi teratas memiliki rata-rata pendapatan 19 kali lipat lebih tinggi daripada populasi kelas ekonomi terbawah. Rasio itu lebih besar jika dibandingkan dengan AS yang memiliki kesenjangan pendapatan sekitar 1 berbanding 17, juga Rusia, Tiongkok, Korea Selatan, dan Nigeria yang rasio kesenjangannya 1 berbanding 14.

‘Pemerintah di seluruh dunia merilis angka pertumbuhan ekonomi tiap tahun. Namun, angka tersebut tidak memberi tahu kita tentang bagaimana distribusi pertumbuhan ekonomi dalam populasi, tidak memberi tahu tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari kebijakan ekonomi’, tulis World Inequality Report 2022.

Kita punya mimpi besar menjadi raksasa ekonomi dunia. Itu cita-cita sangat bagus. Sangat hebat. Namun, kita mesti bereskan seberes-beresnya soal kesenjangan ekonomi ini agar pertumbuhan bisa dirasakan seluruh lapisan supaya tidak ada yang tertinggal, agar rakyat tidak melulu berharap trickle down effect (efek tetesan ke bawah) yang amat jarang menetes, bahkan mampet.

Jika semua kesenjangan itu bisa dipangkas, apalagi diatasi, itu baru namanya tercapai 'keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia'.

Baca Juga

MI/Ebet

Menguak Beking Tambang Ilegal

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
SEMUA seperti cacing kepanasan terkait dengan tambang...
MI/Ebet

Melelang Gugusan Pulau

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM bahasa Sanskerta, kata 'widi' punya makna keberuntungan. Namun, makna nama tidak selalu berbanding lurus dengan fakta...
MI/Ebet

Hakordia yang Muram

👤Ade Alawi Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
PEMBUKAAN Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (1/12),...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya