Senin 27 Desember 2021, 05:00 WIB

Rumah Ibadah di Kampus

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Rumah Ibadah di Kampus

MI/Ebet
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group.

SEBUAH diskusi digelar di Universitas Gadjah Mada pada 22 November 2021. Tema diskusi cukup menarik karena mempertanyakan keseriusan nilai Pancasila UGM.

Nilai Pancasila UGM dihubung-hubungkan dengan kawasan kerohanian yang tak kunjung direalisasikan. Awalnya, UGM berniat mendirikan kawasan kerohanian sebagai bentuk implementasi nilai-nilai Pancasila. Akan tetapi, hingga kini UGM hanya memiliki masjid, sedangkan rumah ibadah agama lain sebatas angan-angan.

Keinginan agar kampus memiliki rumah ibadah semua agama menjadi fenomena menarik. Basis argumentasi keinginan itu ialah kampus sebagai persemaian toleransi diwujudkan dalam bentuk keberadaan rumah ibadah untuk semua agama. Kegiatan keagamaan di rumah ibadah semua agama diharapkan mampu menangkal radikalisme.

Amat disayangkan ketiadaan regulasi yang mewajibkan kampus negeri mendirikan rumah ibadah semua agama. Padahal, konstitusi mengamanatkan agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Dalam perspektif meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia itulah patut diacungi dua jempol untuk Universitas Sebelas Maret di Surakarta dan Universitas Pancasila di Jakarta. Kedua universitas itu, satu negeri dan satu lagi swasta, sama-sama membangun rumah ibadah di lingkungan kampus untuk semua agama yang diakui di negeri ini.

Peresmian Gereja Katolik Santo Petrus pada Rabu (22/12) melengkapi lima rumah ibadah di lingkungan kampus Universitas Pancasila yang telah diresmikan sebelumnya.

Sebelumnya sudah ada masjid, kelenteng, pura, wihara, dan gereja Kristen Protestan. Dengan demikian, dari 4.000 perguruan tinggi yang ada di Indonesia, Universitas Pancasila menjadi satu-satunya universitas swasta yang memiliki enam rumah ibadah.

Pembangunan rumah ibadah semua agama di kampus itu sebagai upaya untuk membentengi Pancasila dari infiltrasi radikalisme dan intoleransi. Kampus mestinya menjadi persemaian yang subur untuk tumbuh kembang benih-benih perdamaian dan toleransi.

Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta menyebutkan 30,16% mahasiswa di Indonesia memiliki sikap intoleran dalam beragama. Artinya, satu dari tiga mahasiswa di Indonesia memiliki intoleransi beragama.

Persentase itu terdiri atas 24,89% mahasiswa memiliki toleransi beragama yang rendah dan 5,27% memiliki toleransi beragama yang sangat rendah. “Kalau digabung, 30,16% mahasiswa Indonesia punya toleransi beragama rendah atau sangat rendah,” ujar peneliti UIN Sirojuddin Arif pada 1 Maret 2021.

Toleransi itu tidak boleh sekadar diucapkan, tapi mesti hadir dalam tindakan nyata. Wujud nyatanya antara lain dalam bentuk mendirikan rumah ibadah semua agama di kampus.

Rektor Universitas Pancasila Edie Toet Hendratno mengatakan universitas yang dipimpinnya itu menyandang nama besar Pancasila yang juga merupakan ideologi negara. Tentunya menjadi tanggung jawab tersendiri bagi Universitas Pancasila mengimplementasikan tiap butir dari 5 sila yang ada, salah satunya rumah ibadah yang menjadi simbol kerukunan dan toleransi beragama.

Universitas Sebelas Maret juga menjadi satu-satunya perguruan tinggi negeri yang membangun rumah ibadah semua agama di lingkungan kampus. Tujuannya untuk menangkal radikalisme.

Dikutip dari website resminya disebutkan bahwa sejak 1 Oktober 2019, UNS telah menahbiskan diri sebagai Kampus Benteng Pancasila yang berupaya membentengi kampus dari paham radikal.

Kampus Benteng Pancasila merupakan kampus yang mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai Pancasila. Salah satu bukti nyata dari komitmen tersebut ialah dibangunnya enam tempat peribadatan di area Kampus UNS yang mengakomodasi agama-agama di Indonesia. Keenam tempat peribadatan itu ialah masjid, gereja bagi umat Kristen, gereja bagi umat Katolik, wihara, pura, dan kelenteng.

Rektor UNS Jamal Wiwoho menjelaskan, selain membangun lingkungan yang bernapas Pancasila, UNS juga berkomitmen untuk mengembangkan Kampus Benteng Pancasila melalui kegiatan pembelajarannya.

“Standar kompetensi Kampus Benteng Pancasila adalah kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan sivitas akademika UNS dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran dan administrasi yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, dan adil,” kata Jamal pada 15 Maret 2021.

Elok nian bila seluruh perguruan tinggi di Indonesia membangun rumah ibadah semua agama di lingkungan kampus sehingga tidak ada kesan diskriminatif. Tak elok hanya satu-dua rumah ibadah. Apalagi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi, asas pendidikan tinggi antara lain kebinekaan.

Baca Juga

MI/Ebet

Yang Muda yang Korupsi

👤Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 25 Januari 2022, 05:00 WIB
NAMANYA Nur Afifah Balqis. Dia masih muda, cantik pula. Namun, dalam usia yang baru 24 tahun, dia sudah menguar kisah cela. Dia terlibat...
MI/Ebet

Rebo Nyunda

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 24 Januari 2022, 05:00 WIB
BAHASA Indonesia memang wajib digunakan dalam komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan...
MI/Ebet

Haruna dan Masalahnya

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 05:00 WIB
HASIL dan proses mestinya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya merupakan bagian dari dua sisi mata...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya