Rabu 30 September 2020, 05:00 WIB

Tikungan Tajam

Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Tikungan Tajam

MI/EBET
.

PANDEMI covid-19 mengubah banyak hal. Ibarat lintasan sirkuit Moto-GP, semua kini sedang berada di tikungan tajam, bukan di jalur lurus. Namun, justru di tikungan tajam itulah terjadi saling intip untuk menyalip pada lap-lap menentukan.

Lihatlah bagaimana orang terkaya Tiongkok bukan lagi Jack Ma, setidaknya untuk bulan ini. Itu terjadi setelah seorang taipan air kemasan dan vaksin bernama Zhong Shanshan berhasil menggeser pundi-pundi pendiri raksasa e-commerce Alibaba tersebut.

Sebagaimana ditulis Bloomberg Billioners Index pekan lalu, kekayaan ‘sang Raja Galon’ itu mencapai US$2 miliar lebih besar daripada kocek Jack Ma, si orang terkaya kedua di Asia di bawah Mukesh Ambani. Dijuluki Lone Wolf, kekayaan Zhong melonjak menjadi hampir US$52 miliar di 2020.

Dari mana lonjakan kekayaan itu didapatkan? Semua terjadi setelah penawaran perdana saham perusahaan air kemasan miliknya, Nongfu Spring Co, sukses besar. Pula, setelah perusahaan bioteknologinya yang memproduksi vaksin, Biological Pharmacy Enterprise Co, mulus melantai di bursa pada April lalu.

Zhong Shanshan memimpin Nongfu Spring mencatatkan saham­nya di Hong Kong pada awal September 2020. Zhong yang lahir di Hangzhou putus sekolah dasar selama Revolusi Kebudayaan Tiongkok yang diliputi kekacauan. Dia kemudian bekerja sebagai pekerja konstruksi, reporter surat kabar, dan agen penjualan minuman sebelum memulai bisnisnya sendiri. Zhong juga mengendalikan perusahaan bioteknologi Beijing Wantai, yang go public di Bursa Efek Shanghai pada April 2020 lalu.

Pandemi korona juga membuat pergerakan harta taipan di Indonesia pasang surut. Bloomberg mencatat pada semester pertama tahun ini, nilai kekayaan pemilik Grup Djarum, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, tergerus hingga Rp171,5 triliun. Namun, hanya dalam tujuh pekan kemudian, harta duo Hartono sudah bertambah lagi US$7,4 miliar atau Rp107,3 triliun. Itu juga terjadi karena terus terkereknya harga saham-saham perusahaan Grup Djarum di lantai bursa.

Begitulah kiranya gambaran tikungan tajam saat ini. Di lintasan itu kemampuan untuk menyalip lalu memenangi lomba amat ditentukan oleh adu strategi, adu fokus, adu disiplin. Zhong, Jack Ma, juga duo Hartono memiliki tiga hal tersebut.

Dengan cara itu, boleh jadi kita belum tentu meraih podium. Akan tetapi, potensi untuk menang atau mulus hingga finis dengan hasil manis sangat besar. Langkah itu sepadan dengan risiko di tikungan yang tak kalah besar. Maka, dalam tikungan tajam covid-19, disiplin ketat menaati protokol kesehatan ialah keniscayaan.

Justru di titik krusial ini kita kerap tersandung. Ketidakdisip­lin­an dalam menerapkan protokol kesehatan di awal-awal masa pandemi harus dibayar mahal dengan kurva positif covid-19 yang melampaui 200 ribu orang, dengan tingkat kematian melewati 10 ribu orang.

Kini, kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan menunjukkan perbaikan. Setidaknya hal itu tecermin dari hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang digelar pada 7-14 September 2020. Survei atas 90 ribu lebih responden di seluruh Indonesia itu mendapati 92% orang sudah menggunakan masker, patuh mencuci tangan, dan menjaga jarak 75%.

Kendati ada perbaikan, ada sedikit masalah dalam hal konsistensi perilaku. Angka kebiasaan memakai masker tinggi karena ada ketakutan terhadap sanksi. Wajar, karena merazia mereka yang tidak menggunakan masker lebih mudah daripada memelototi orang untuk patuh menjaga jarak, apalagi mencuci tangan.

Berdasarkan temuan survei itu terungkap bahwa responden perempuan lebih patuh protokol kesehatan daripada responden laki-laki.

Kemudian, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka cenderung semakin sadar akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan.

Lalu, jika dilihat berdasarkan kelompok umur, ternyata responden dengan umur lebih senior cenderung lebih patuh terhadap protokol kesehatan.

Padahal, ketiga hal dalam protokol pencegahan covid-19 itu berada dalam satu tarikan napas. Semestinya, perlakuan terhadap ketiga-tiganya juga berlangsung paralel. Sama persis bagaimana si raja tikungan balap Valentino Rossi, taipan Zhong, Jack Ma, juga Hartono bersaudara membagi kiat sukses dengan kerja keras, fokus, dan disiplin ketat.

Ekonom dan sosiolog Gunnar Myrdal sudah mengingatkan bahwa bangsa yang longgar dalam disiplin akan jatuh menjadi bangsa lembek. Risikonya, kita akan terus tercecer di tikungan, bahkan cepat kehabisan amunisi di lintasan lurus.

Kita tentu ingin jadi pemenang. Kita berharap bisa selamat melalui tikungan tajam pandemi korona. Syaratnya, ikuti cara para pemenang menghadapi kerasnya tantangan.

Salah satu kualitas miliarder Jack Ma ialah keuletannya untuk mencapai sesuatu. Dia mengklaim menuai ganjarannya karena kegigihan dan kesabaran. Dia hidup dengan filosofi, “Hari ini kejam. Besok kejam. Dan, lusa itu indah.”

Baca Juga

MI/Ebet

Pilih-Pilih Teken UU

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 05:00 WIB
APAKAH boleh presiden tidak meneken undang-undang (UU) yang rancangannya dibahas bersama kemudian disetujui bersama...
Dok.MI/Ebet

Melawan Jiwa Keriput

👤Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 05:00 WIB
ORANG Jepang lebih mengenal Samuel Ullman (1840-1924) ketimbang orang Amerika...
MI/Ebet

Majelis Warga

👤Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 05:00 WIB
DIKTATOR konstitusional adalah gejala pembuatan undang-undang yang tidak melibatkan publik sama...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya