Paradoks Kita

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Jumat, 28 Des 2018, 05:30 WIB podium
Paradoks Kita

KITA tak hilang asa melangkah ke tahun depan meski ada sejumlah catatan kecemasan di tahun ini. Kita tak kendur merajut kebersamaan meski ada elite politik berupaya memudarkannya.

Tahun ini kita dinobatkan sebagai bangsa paling dermawan di muka bumi oleh Charities Aid Foundation, lembaga amal yang berbasis di Inggris, meski para koruptor kian bertumbuh. Kita bangsa yang amat memuliakan agama. Agama menjadi bintang pemandu laku hidup.

Kajian-kajian agama di mana-mana, juga lewat grup-grup media sosial. Nama-nama penceramah agama bermunculan, ada yang tanpa bayaran, ada juga yang menentukan tarif. Kita berebut mengklaim yang paling agamais. Perbedaan tak lagi disikapi sebagai hikmah, tapi serupa musibah.

Kita juga prihatin, ada sejumlah nama yang berceramah dengan memaki-maki, berkata-kata kotor. Kita terperangah oleh beredarnya video seorang penceramah agama, Bahar bin Smith, jika benar, yang menghajar dua remaja hingga berdarah-darah.

Bahar murka lantaran mereka pura-pura sebagai Bahar. Kenapa tokoh agama yang punya ilmu dan kearifan seluas lautan memilih jalan kekerasan dalam upaya penyadaran? Laku kriminal seperti itu pastilah akan menghadapi hukum positif kita.

Bagaimana para pengikut orang kebanyakan melihat laku serupa itu? Bisa jadi ada yang menerima sebagai kelaziman. Atau bisa juga jadi antipati. Pendakwah yang mestinya menjadi sumber inspirasi kebajikan bisa jadi malah ditinggalkan.

Yang juga mencemaskan ialah soal kontestasi politik menuju Pemilu 2019. Sejak Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno resmi menjadi pasangan calon presiden/wakil presiden, September lalu, publik belum jelas mendengar program yang bernas dan mencerahkan dari mereka. 'Arus Baru Ekonomi Indonesia' yang ditawarkan Jokowi-Amin dan 'Ekonomi Adil Makmur' yang ditawarkan Prabowo-Sandi masih terdengar lamat-lamat.

Program kedua pasangan capres-cawapres kalah dengan gemuruh soal 'Indonesia bubar 2030', 'Indonesia punah jika Prabowo kalah', 'tampang Boyolali', dan 'Indonesia semiskin Haiti' yang dinarasikan Prabowo. Sementara itu, Jokowi seperti hanya bertahan dan sesekali merespons 'pukulan lawan', seperti 'sontoloyo' dan 'genderuwo' itu. Bagi petahana, respons terbaik ialah bekerja.

Prabowo bersemboyan 'Make Indonesia Great Again', diambil dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump ketika kampanye. Ia membantah idenya menjiplak Trump sebab semboyan 'Membangun Kembali Indonesia Raya' digagasnya pada 2007/2008. Dengan gagasan membangun Indonesia Raya, kenapa kerap memunculkan pesimisme, yakni Indonesia bubar dan Indonesia punah?

Karena kecewa dengan pemberitaan Reuni 212, Prabowo pun menuduh pers sebagai antek yang akan menghancurkan Republik Indonesia. Ia meminta masyarakat tak usah menghormat jurnalis sebab, "Pers, ya, terus terang saja, banyak bohongnya daripada benarnya," kata Prabowo.

Saya hanya menduga-duga, adakah narasi kecemasan dan ketakutan yang menjadi taktik berpolitik? Adakah hubungannya dengan masa lalu Prabowo yang harus mengikuti sang ayah, Sumitro Djojohadikusumo, sebagai pelarian di luar negeri pada 1957-1967 karena ia mendukung PRRI? Ketika itu, Sumitro harus hidup di negeri orang dengan menyembunyikan identitasnya, berganti-ganti nama. Ia memang sosok pemberani yang siap risiko dengan pilihan politiknya.

Sesungguhnya Prabowo tokoh yang beruntung. Ia pernah menjadi bagian dalam Orde Baru, menantu Presiden Soeharto, yang kemudian ditumbangkan gerakan reformasi. Prabowo jenderal angkatan darat yang waktu itu seperti ada 'jalan tol' untuk menuju puncak tangga kepemimpinan. Ia jujur mengakui menculik para aktivis. Ia pun dicopot dari jabatan Pangkostrad dan dipecat dari ketentaraan. Karier militer mantan Danjen Kopassus itu berhenti dengan bintang tiga di pundaknya. Dengan rupa-rupa tuduhan, ia sempat 'menepi' ke luar negeri, Yordania.

Prabowo pulang ke Indonesia dengan aman. Bahkan, pada 2004 ikut konvensi Partai Golkar untuk menjadi calon presiden. Sayang gagal. Probowo kemudian mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra); pada Pilpres 2009 sebagai calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri; pada 2014 menjadi calon presiden berpasangan dengan Hatta Rajasa, dan pada Pilpres 2019 berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Pilihan sistem demokrasi itulah yang membuat Prabowo tetap berada 'di atas orbit' politik nasional. Namun, alih-alih membangun politik harapan, ia justru sebaliknya. Ini psikologi yang tak beranjak jauh dari masa lalunya yang menebar kecemasan. Padahal, salah satu tugas pemimpin ialah membangun harapan. Bagaimana membangun Indonesia Raya dengan kecemasan dan pesimisme? Ada paradoks antara Indonesia Raya dan Indonesia bubar, juga Indonesia punah.

Prabowo memang mengikuti gaya komunikasi Donald Trump dan Presiden Jair Bolsonaro dari Brasil ketika kampanye, yang tak mementingkan akurasi yang ada di dapur data. Mereka bisa terpilih menjadi presiden, tapi tak merekatkan ukhuwah. Prabowo yang katanya cerdas seperti tak berkorelasi dengan gaya komunikasinya yang tak mementingkan kebenaran fakta, hanya keyakinan diri, post-truth.

Menurut beberapa lembaga survei elektabilitas Jokowi-Amin berada di kisaran 55%-70%. Ada selisih 20% dengan pasangan Prabowo-Sandi. Kampanye masih tiga bulan lagi. Segala sesuatu bisa terjadi. Sayangnya Prabowo-Sandi kerap terjerembap di wilayah post-truth yang menyisihkan kebenaran ilmiah.

Kita akan mengenang 2018 sebagai tahun politik yang melelahkan. Menguras energi, menguras akal sehat, 'yang semut mati pun bisa dipolitissi'. Demokrasi akhirnya jadi rapuh ketika politikus dengan segala cara memburu kekuasaan belaka. Namun, kita harus tetap percaya ada harapan pada 2019.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More