Senin 27 September 2021, 07:30 WIB

Mengantisipasi Ketidakpastian Pasar Keuangan Global

Asdria Kenny Desihana, Departemen Pengelolaan Devisa BI | Opini
Mengantisipasi Ketidakpastian Pasar Keuangan Global

Dok. Pribadi
Asdria Kenny Desihana

 

PANDEMI Covid-19 telah memorak-porandakan berbagai aspek kehidupan, termasuk roda perekonomian global. Wabah itu telah menyebabkan sebagian besar negara di dunia mengalami kontraksi ekonomi pada tahun 2020 lalu. Berdasarkan data IMF, pertumbuhan ekonomi global mengalami kontraksi sebesar 3.2% pada tahun 2020. Kontraksi tersebut lebih dalam dibandingkan kontraksi yang terjadi pada tahun 2009 sebesar 0.1% akibat krisis keuangan global. Adapun pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2.07% pada tahun 2020 lalu. Hanya segelintir negara yang berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi di angka positif, seperti Tiongkok dan Vietnam.

Pada awal tahun2021, pelaku pasar lebih optimis terhadap perekonomian global sejalan dengan penurunan kasus dan perkembangan vaksin Covid-19, pelonggaran restriksi, bangkitnya perekonomian Tiongkok, serta sentimen positif terkait stimulus fiskal di AS. Optimisme tersebut tercermin dari kenaikan tingkat suku bunga dan penguatan signifikan pada pasar saham global. Berdasarkan World Economic Outlook Juli 2021, IMF memproyeksikan perekonomian global akan tumbuh sebesar 6% pada tahun 2021 dan 4.9% pada 2022.

Namun optimisme tersebut terjanggal oleh kembali meningkatnya kasus covid-19 yang disebabkan oleh beberapa varian baru yang lebih menular sehingga pemerintah di berbagai negara kembali melakukan kebijakan restriksi yang lebih ketat. Selain varian baru covid-19, pelaku pasar juga menunjukkan kekhawatiran terhadap beberapa hal, antara lain ketidakpastian mengenai pagu utang (debt ceiling) AS dan berlanjutnya disrupsi pada rantai pasokan global.

Kegagalan badan legislatif AS dalam menyepakati kenaikan pagu utang AS akan menyebabkan penghentian kegiatan operasional Pemerintah AS secara parsial. Hal tersebut tentu saja akan berdampak negatif pada perekonomian global yang saat ini masih dalam tahap pemulihan. Disrupsi pada rantai pasokan global juga semakin memperkeruh keadaan dimana waktu yang diperlukan untuk memperoleh bahan baku menjadi lebih lama dan biaya pengiriman menjadi lebih tinggi sejalan dengan kelangkaan container. Akibatnya, aktivitas produksi menjadi terganggu dan biaya produksi membengkak.

Upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi

Perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global tentu saja akan berdampak pada small open economy seperti Indonesia. Sentimen negatif yang berkembang pada pasar keuangan global seringkali menyebabkan tekanan pada perekonomian dalam negeri. Potensi keluarnya arus modal ke luar negeri dalam jumlah besar dan waktu yang singkat merupakan ancaman pada stabilitas makroekonomi Indonesia. Pengalaman krisis keuangan global tahun 2008 dan taper tantrum tahun 2013 masih lekat di ingatan. Nilai tukar rupiah saat itu mengalami pelemahan yang signifikan dan laju pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan.

Sebagai otoritas moneter yang turut bertanggung jawab menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut. Bank Indonesia telah menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif dengan menurunkan suku bunga acuan dan menjaga likuiditas yang longgar untuk mendorong suku bunga kredit perbankan lebih rendah sehingga diharapkan dapat mendorong roda perekonomian.

Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan pembiayaan kepada sektor usaha terutama pada sektor-sektor prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Bank Indonesia juga senantiasa memperkuat kerangka kerja sama Local Currency Settlement (LCS) dengan negara mitra dagang Indonesia seperti Malaysia, Thailand, Tiongkok, dan Jepang. LCS merupakan mekanisme penyelesaian transaksi bilateral antara dua negara yang dilakukan dalam mata uang masing-masing negara tersebut sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap US Dollar. Dengan demikian, volatilitas nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar diperkirakan dapat lebih terjaga dan volume perdagangan kedua negara diharapkan dapat meningkat.

Stabilitas makroekonomi Indonesia sejauh ini tetap terjaga dengan baik sebagaimana tercermin dari berbagai indikator ekonomi. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan sebesar 3.9% pada tahun 2021 dan 5.9% pada tahun 2022. Adapun cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 144.8 miliar pada bulan Agustus 2021 yang merupakan level tertinggi sepanjang sejarah. Nilai tukar Rupiah juga cenderung stabil di kisaran Rp.13,895-14,615 per US Dollar sejak awal tahun 2021.

Pengalaman berulang kali menghadapi krisis tentu menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi melalui perumusan kebijakan moneter yang bersifat forward looking. Selain itu, Bank Indonesia dan lembaga terkait lainnya juga berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi antar lembaga sehingga bauran kebijakan ekonomi secara keseluruhan dapat terorkestrasi dengan baik.(*)

 

CATATAN:

Ini merupakan salah satu dari 11 karya peserta terpilih dari 76 karya peserta Workshop Penulisan Artikel Populer yang masuk. Workshop ini merupakan sesi ke tiga dari rangkaian pelatihan yang dipercayakan Departemen Komunikasi Bank Indonesia kepada Sekolah Jurnalistik Media Indonesia (SJMI).

Pada pelatihan yang dilaksanakan secara daring, 23-24 September 2021 lalu, diikuti oleh 100 peserta dari Kantor Perwakilan Wilayah se-Indonesia serta Luar Negeri selain peserta perwakilan dari Kantor Pusat.

Workshop hari pertama diisi narasumber dari Media Indonesia (Teguh Nirwahyudi) serta dua narasumber dari Bank Indonesia (Kristianus Pramudito dan Puji Astuti). Pada hari kedua berisi kegiatan evaluasi tulisan dari para peserta.

 

Baca Juga

Dok pribadi

Reaktualisasi Sumpah Pemuda untuk Bela Negara

👤Andi Muh Darlis, Widyaiswara Pusdiklat Bela Negara Kemhan RI 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 10:20 WIB
Semangat kepeloporan mulai tertanam kuat untuk mengikuti langkah Jepang membebaskan diri dari dominasi asing....
dok.pribadi

Menimbang Peluang dan Tantangan Kepemimpinan Muda

👤Romadhon JASN, PJ Ketua Umum PB HMI 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 08:25 WIB
SUMPAH pemuda adalah "ikrar suci," sebagai komitmen kebangsaan para pemuda untuk membebaskan negeri ini dari jerat imperealisme...
MI/Seno

Mengintegrasi Riset

👤Cecep Darmawan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Pendidikan Indonesia dan Sekjen Asosiasi Ilmuwan Administrasi Negara (AsIAN) 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 05:00 WIB
PRESIDEN Jokowi telah melantik Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Negara, Rabu...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya