Jumat 21 Mei 2021, 13:56 WIB

Migrasi BPA Galon Isi Ulang Telah Melewati Batas Toleransi

Mediaindonesia | Humaniora
Migrasi BPA Galon Isi Ulang Telah Melewati Batas Toleransi

Antara
Galon isi ulang

 

KETUA Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL)  Roso Daras prihatin, karena hasil penelitian laboratorium menunjukkan migrasi Bisphenol A (BPA) calon isi ulang ternyata melewati batas toleransi.

Menurut Roso Daras, pada bulan Maret lalu, JPKL mengirimkan sample berupa beberapa galon guna ulang yang kemasannya mengandung BPA, yang di dapat dari mata rantai distribusi AMDK galon guna ulang  ke Tuv Nord Laboratory Service, untuk dianalisa migrasi bisphenol A.

Analisa migrasi BPA dilakukan selama 25 hari di Tuv Nord Laboratory Service, dengan mengikuti analisa parameter BPA Metode SNI 7626-1:2017. Penggunaan Metode SNI 7626-1:2017 ini adalah Standard Nasional  Indonesia, Cara Uji Migrasi Zat Kontak Pangan Dari Kemasan Pangan - Bagian 1: Plastik Karbonat (PC), Migrasi Bisfenol A (BPA).

"Kami telah menuruti permintaan BPOM. Karena kami mempunyai keterbatasan dalam hal penelitian, maka kami dari JPKL meminta Tuv Nord Laboratory Service untuk melakukan analisa terhadap migrasi bisphenol A pada galon guna ulang polikarbonat 19 liter," ungkap Roso Daras.

Hasilnya sungguh mengejutkan, ungkap Roso, sebab migrasi BPAnya berkisar antara 2 hingga 4 ppm. Padahal batas toleransi yang diijinkan BPOM adalah 0,6 ppm /bpj. "Ini yang menganalisa migrasi BPA adalah laboratorium berskala internasional yang kredibel dan independen," ujarnya.

Baca juga: Hoaks BPA Galon Guna Ulang Resahkan Warga NU

Setelah melakukan penelitian dan menerima hasil analisa terbaru dari Tuv Nord Laboratory Service, JPKL segera berkirim surat ke BPOM untuk melaporkan hasil penelitian migrasi BPA tersebut.

Selain hasil analisa migrasi BPA yang dilakukan oleh Tuv Nord Laboratory Service, JPKL juga menyampaikan hasil penelitian migrasi BPA dan kajiannya ke BPOM dari referensi peraturan terkait BPA dari beberapa negara, berbagai riset dari peneliti dunia dan Indonesia,  yang menyatakan bahwa kemasan plastik yang mengandung BPA berbahaya dan telah dilarang penggunaannya di negara maju.

Dengan disampaikan hasil analisa lab migrasi BPA, penelitian dan kajian peraturan di beberapa negara serta peneliti bahaya BPA ke BPOM. JPKL berharap BPOM mau mereview dan merevisi peraturan mengenai informasi BPA yang telah berlaku, dan mau memberi label peringatan konsumen pada kemasan galon guna ulang polikarbonat 19 liter yang mengandung BPA.

"Sebab siapa lagi kalau bukan BPOM?.  Kami sangat mendukung BPOM untuk menjaga kesehatan masyarakat Indonesia,  dan dukungan itu dilengkapi dengan  hasil analisa dan kajian yang akurat. Setidaknya analisa laboratorium dilakukan oleh pihak yang sangat kompeten," papar Roso Daras.

Roso Daras percaya, dengan hasil penelitian dan kajian tersebut,  BPOM akan mendengarkan temuan JPKL dan permintaan konsumen. Sebab menurut Roso Daras, tim BPOM terdiri dari orang - orang yang peduli akan kesehatan masyarakat,  bukan melindungi pihak yang menyerukan bahaya BPA adalah HOAX dan membelokan fakta bahwa BPA aman tidak bahaya bagi bayi, balita dan ibu hamil demi keuntungan semata dengan mengesampingkan kesehatan masyarakat Indonesia.

"Karena dari hasil analisa yang dilakukan Tuv Nord, Hasilnya jauh melewati batas toleransi yaitu migrasinya berkisar antara 2 hingga 4 ppm diatas ambang batas yang ditetapkan oleh BPOM yaitu 0,6 ppm. Kalau saja hasilnya, misal cuma 0,5 ppm , JPKL akan mengatakan apa adanya. Ini batas toleransi yang dilewati sudah sangat jauh, dan ini berbahaya" pungkas Roso Daras.

Pada pertemuan JPKL dan BPOM,  4 Februari 2021 lalu, pihak JPKL mengajukan usulan agar BPOM mencantumkan label peringatan konsumen pada kemasan galon guna ulang yang mengandung BPA, agar tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

Pertimbangannya adalah, hasil penelitian dari berbagai negara maju menyatakan Bisphenol A berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil karena menurut hasil riset peneliti internasional dan nasional, paparan BPA dapat mempengaruhi berat badan lahir, perkembangan hormonal, perilaku, autisme, kerusakan sel- sel saraf  otak secara permanen dan resiko kanker di kemudian hari.(OL-4)

Baca Juga

Antara

Lansia yang Sudah Vaksin Lengkap, Diminta Segera Booster

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 18:10 WIB
Pasalnya, lansia merupakan kelompok yang rentan terinfeksi covid-19, khususnya subvarian Omikron. Jika sudah mendapatkan vaksin...
MI/Susanto

61,81% Jemaah Haji Indonesia Memiliki Risiko Tinggi

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 16:40 WIB
Menurut PPIH Arab Saudi bidang kesehatan bahwa jemaah haji Indonesia per 25 Juni 2022 yang memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan...
MI/Susanto

Jemaah Haji Indonesia yang Wafat Menjadi 12 Orang

👤 M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 16:25 WIB
Sementara jemaah haji sakit sebanyak 520 orang, sebanyak 446 orang rawat jalan, 60 orang dirawat di klinik kesehatan haji Indonesia, dan 14...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News