Jumat 25 November 2022, 05:00 WIB

Malaysia Songsong Reformasi

Administrator | Editorial
Malaysia Songsong Reformasi

MI/Duta
.

MALAYSIA mengakhiri kebuntuan pembentukan pemerintahan dengan penunjukan Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri baru, kemarin. Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al Sultan Abdullah menetapkan penunjukan itu setelah UMNO yang merupakan bagian terbesar koalisi Barisan Nasional menyiratkan mendukung Anwar.

Barisan Nasional merupakan peraih suara terbanyak ketiga dalam pemilu yang digelar Sabtu (19/11). Koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin Anwar meraih suara terbanyak dan Perikatan Nasional (PN) yang mengusung Muhyiddin Yassin menempati posisi kedua.

Anwar pun resmi menjadi Perdana Menteri ke-10 Malaysia setelah diambil sumpah pada sore di hari yang sama. Ini memberi sedikit kelegaan bagi Malaysia, terlihat dari reaksi bursa saham setempat yang melesat setelah pengumuman penunjukan Anwar.

Negeri jiran itu sempat tersandera hasil pemilu menggantung akibat tidak satu pun partai meraih suara yang memenuhi ambang batas pembentukan pemerintahan. Raja lantas menawarkan pemerintahan persatuan kepada Pakatan Harapan dan Perikatan Nasional selaku dua partai pemenang pemilu. Namun, kubu Muhyiddin menolak.

Gagalnya penyatuan keduanya menimbulkan potensi hambatan dalam pelaksanaan pemerintahan baru Malaysia. Manuver-manuver dari kubu oposisi bisa membuat berbagai kebijakan terganjal. Di sisi lain, pemerintahan Anwar Ibrahim dihadapkan pada persoalan kelesuan ekonomi dan ketegangan antaretnik.

Penunjukan Anwar sebagai perdana menteri dan penolakan Muhyiddin untuk bergabung dalam pemerintahan persatuan bisa dibilang merepresentasikan dua kubu yang bertentangan. Di satu pihak ada kelompok reformis/nasionalis dan di pihak lain ada blok Islam Melayu. Itu sebabnya ada kekhawatiran panasnya hubungan antara etnik Melayu yang mayoritas beragama Islam dan etnik non-Melayu akan sulit teredam.

Kendati begitu, kepemimpinan Anwar memberikan harapan kemajuan dan reformasi politik bagi Malaysia. Anwar dikenal sebagai sosok yang prodemokrasi dan mendukung keterbukaan.

Ia juga pengagum gaya pemerintahan Jokowi dan pernah menyatakan akan menirunya bila terpilih menjadi perdana menteri. Bila pernyataannya benar-benar direalisasikan, Anwar tentu bisa pula menerapkan politik merangkul seperti yang dijalankan Jokowi.

Keputusan Jokowi untuk memasukkan mantan rivalnya, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, ke kabinet, bukan hanya memperkuat dukungan dari parlemen. Jokowi sekaligus menunjukkan bahwa persaingan yang menimbulkan keterbelahan di masyarakat bisa berakhir dengan kolaborasi. Tidak ada lawan yang abadi. Seusai pemilu, semua harus bekerja sama membangun negeri.

Praktik-praktik politik yang merangkul menghilangkan permusuhan menjadi fondasi stabilitas politik. Ini bukan hanya menguntungkan bagi negara yang bersangkutan, tetapi juga untuk kestabilan situasi regional. Di ASEAN, masih banyak kerja sama yang mesti dilakukan untuk kemajuan kawasan. Hal itu akan sulit terealisasi bila negara anggota dirongrong gejolak politik dalam negeri.

Politik yang menyatukan memang ada kelemahannya, yakni risiko tumpulnya sikap kritis parlemen terhadap jalannya pemerintahan. Di situ, publik dapat berperan sebagai pelapis dalam pengawasan. Bila masih belum memuaskan, rakyat bisa mengoreksi melalui pemilu berikutnya.

Baca Juga

MI/Duta

Pantang Menyerah Melawan Terorisme

👤Administrator 🕔Kamis 08 Desember 2022, 05:00 WIB
AKSI terorisme kembali terjadi. Kemarin, seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di Polsek Astanaanyar, Kecamatan Astanaanyar,...
MI/Seno

Menyongsong Paradigma Pemidanaan Modern

👤Administrator 🕔Rabu 07 Desember 2022, 05:00 WIB
RANCANGAN Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) akhirnya disetujui Dewan Perwakilan Rakyat untuk menjadi...
MI/Seno

Menutup Celah Koruptor Berulang

👤Administrator 🕔Selasa 06 Desember 2022, 05:00 WIB
DALAM perang melawan korupsi, memberi efek jera ialah hal...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya