Peringkat Utang Naik Daya Saing Meningkat

Penulis: Media Indonesia Pada: Sabtu 01 Juni 2019, 05:00 WIB Editorial MI

TINGKAT kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia, semakin lama semakin meningkat. Tingkat kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa ke depan, perekonomian Indonesia dipersepsikan akan tumbuh sesuai dengan ekspektasi positif di tengah perekonomian global, yang sejatinya tidak begitu kondusif.

Naiknya peringkat surat utang Indonesia seperti yang dirilis lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P), dapat kita lihat dalam konteks seperti itu.  Standard & Poors,  Jumat (31/5),  menaikkan peringkat surat utang Indonesia dari 'BBB-' menjadi 'BBB.

Bukan hanya itu, lembaga pemeringkat global yang berbasis di New York, AS tersebut juga meningkatkan rating utang sovereign jangka pendek dari 'A-2' ke 'A-3'.

Adapun alasan penaikan peringkat utang Indonesia tersebut, menurut lembaga tersebut ialah karena Indonesia dinilai mampu menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang kokoh didukung oleh kebijakan fiskal yang pruden.

Standard & Poors secara khusus memproyeksikan bahwa kondisi ini bakal terus berlanjut dengan terpilihnya kembali Joko Widodo sebagai presiden Indonesia untuk periode 2019-2024.

Dalam laporannya, S&P menuliskan bahwa perekonomian Indonesia berhasil tumbuh lebih cepat daripada negara-negara lain di tingkat pendapatan yang sama.

Pertumbuhan riil per kapita Produk Domestik Bruto Indonesia tercatat mencapai 4,1%  dalam rata-rata tertimbang selama 10 tahun terakhir. Sedangkan negara lain dengan tingkat pendapatan yang sama rata-rata hanya tumbuh 2,2%.

Peningkatan kepercayaan atas Indonesia juga diperoleh bukan hanya dari peningkatan peringkat surat utang, namun juga dari peningkatan daya saing.

International Institute for Management Development (IMD), sebuah lembaga pendidikan manajemen yang bermarkas di Lausanne, Swiss merilis survei mengenai peringkat daya saing sejumlah negara.

Dalam siaran pers yang dirilis Kamis (30/5), IMD menilai efisiensi Indonesia di sektor pemerintahan, pembangunan infrastruktur, dan kondisi bisnis yang meningkat menjadi kunci perbaikan daya saing Indonesia. Atas perbaikan itu, daya saing Indonesia meloncat 11 peringkat, dari posisi 43 pada tahun lalu menjadi 32 pada tahun ini.

IMD juga menyebutkan bahwa kenaikan peringkat Indonesia merupakan yang tertinggi di kawasan Asia. Berbagai pencapaian yang telah diraih oleh perekonomian Indonesia tersebut tentu harus kita syukuri sekaligus apresiasi.

Karena, pengakuan yang diberikan oleh berbagai lembaga internasional tersebut menunjukkan betapa kebijakan yang disusun oleh pemerintah dalam menciptakan iklim perekonomian yang kondusif ternyata berjalan efektif dan membawa hasil yang posiitif.

Dalam kaitan itu, maka sekali lagi kita mengapresiasi kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo khususnya dalam mengelola laju pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi eksternal yang menantang dalam beberapa tahun terakhir yang ternyata menggembirakan.

Peningkatan peringkat utang dan daya saing Indonesia seperti yang diberikan oleh Standard & Poors dan IMD di sisi lain juga menunjukkan betapa berbagai kritik dan serangan dari kaum oposisi yang terus diarahkan untuk mendelegitimasi Pememrintahan Joko Widodo tidak berdasar.

Karena, kepercayaan khususnya dari kaum investor, yang merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi, terhadap Indonesia bukannya semakin menurun, justru sebaliknya semakin meningkat, berkebalikan dengan apa yang selama ini dikampanyekan oleh kalangan oposisi.

Karena itu, memasuki periode kedua Pemerintahan mendatang, kita mendorong agar Pemerintah terus semakin percaya diri. Artinya, arah kebijakan perekonomian yang selama ini dianut dan diimplementasikan oleh Pemerintah sudah tepat dan perlu untuk diteruskan dalam periode kedua Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Akan tetapi, kita juga mengingatkan agar momentum terpilihnya kembali Jokowi, yang menghasilkan momentum positif di kalangan investor perlu terus dijaga.

Hal itu penting untuk memastikan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan yang masih akan sangat bergantung pada tingkat konsumsi domestik dan jumlah investasi yang digelontorkan di bidang investasi dan sumber daya manusia dapat terus mendapatkan dukungan.

Karena tanpa dukungan tersebut, yang kesemuanya itu menciptakan momentum positif, maka keberlanjutan iklim untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dapat terkendala. Inilah tugas yang telah menunggu Pemerintahan Jokowi pada periode kedua. Kita percaya hal itu sudah berada dalam cakupan visi dan misi pembanguunan ekonomi Jokowi periode kedua.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More