Kegembiraan Mudik

Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis, 30 Mei 2019, 05:00 WIB Editorial MI

MUDIK Lebaran, begitu kita menyebutnya, sejatinya ialah ritual tradisi yang teramat menggembirakan. Mudik bermakna pulang ke kampung halaman untuk merayakan kegembiraan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. Mudik juga punya makna sosial sangat dalam sebagai sarana untuk saling bersilaturahim dan saling berbagi.

Namun praktik penyelenggaraannya memang tidak sederhana, bahkan sarat dengan kompleksitas masalah. Terlebih sejak arus urbanisasi di Indonesia tak cukup mampu direm dalam dua atau tiga dekade terakhir. Kini, setiap menjelang Lebaran, puluhan juta rakyat berbondong-bondong meninggalkan kota-kota tempat mereka tinggal untuk kembali sejenak ke kampung halaman.

Sebagai fenomena migrasi, tradisi mudik Lebaran di Tanah Air mungkin hanya kalah secara jumlah oleh mudik Hari Raya Imlek di Tiongkok (Chunyun) dan Depavali atau Festival Cahaya di India. Dengan gelombang kepulangan yang begitu besar tentu dapat dibayangkan betapa rumit dan sulitnya memastikan agar arus mudik berjalan lancar dan aman.

Demikian pula dengan mudik Lebaran tahun ini. Apalagi, jumlah pemudik diprediksi akan meningkat 20%-30% dari jumlah tahun lalu yang mencapai 32 juta jiwa. Suka tidak suka, di sinilah kemampuan pemerintah diuji dan dipertaruhkan. Jika mudik lancar, pemerintah akan mendapat pujian.

Sebaliknya, jika mudik macet parah, pemerintah sangat mungkin akan menjadi sasaran kritik.

Dan 'ujian' itu bakal dimulai hari ini sesuai dengan perkiraan puncak arus mudik Lebaran 2019 yang akan terjadi 30 Mei hingga 2 Juni. Namun jika melihat perkembangan terkini, tampaknya kita memiliki harapan besar bahwa pemerintah akan mampu menunaikan ujian itu dengan hasil yang lebih baik ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Itu bukan hanya karena sudah tersambungnya jalan tol Trans Jawa dan rampungnya sebagian ruas tol Trans Sumatra yang tentu akan meningkatkan kelancaran arus mudik via jalur darat. Melainkan juga karena persiapan penyelenggaraan mudik yang lebih terencana berkat kerja sama apik antara Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, dan Korps Lalu Lintas Polri.

Untuk mengurai kepadatan di tol Trans Jawa misalnya, akan diberlakukan sistem satu arah mulai Km 70 Cikampek hingga Km 263 Brebes Barat dan sistem lawan arus (contra flow) mulai Km 29 hingga Km 61. Rekayasa lalu lintas itu diterapkan mulai hari ini, Kamis (30/5) hingga Minggu (2/6) pada pukul 09.00-21.00.

Tak cuma itu, pemerintah juga memberikan diskon tarif seluruh ruas tol sebesar 15% pada 27 Mei - 29 Mei. Lalu, tempat istirahat (rest area) ditambah serta pembatasan kendaraan barang pada 30 Mei higga 2 Juni. Di sisi lain, akibat fenomena tiket pesawat yang mahal, pemerintah pun sudah menyiapkan tambahan armada kapal laut untuk mengangkut pemudik, terutama menuju luar Jawa.

Meski demikian, bila belajar dari pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya, pemerintah tampaknya mesti betul-betul memberikan perhatian pada titik-titik tempat peristirahatan (rest area) yang tetap saja sering menjadi biang kemacetan meskipun pada saat yang sama jalan tolnya lancar.

Yang tak boleh dilupakan juga ialah soal keamanan dan keselamatan.

Selain kelancaran, inti dari sebuah perjalanan mudik sejatinya ialah keselamatan. Karena itu, siapa pun mestinya mau bekerja keras untuk mengupayakan keselamatan perjalanan tersebut. Termasuk, tentu saja para pemudik yang dituntut untuk mampu berlaku cerdas dan bijak dalam melakukan perjalanan.

Ketika di satu sisi pemerintah sudah menyiapkan banyak sarana, prasarana, berikut semua rekayasanya, dan di lain sisi pemudik secara cerdas memanfaatkannya, di titik itulah sesungguhnya akan hadir mudik yang menggembirakan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More