Hilangnya Danau Raksasa di Tibet Diduga Aktifkan Patahan Purba


Penulis: Abi Rama - 20 February 2026, 10:53 WIB
China Highlights

HILANGNYA danau-danau besar di Tibet bagian selatan, Tiongkok diduga menjadi salah satu pemicu gempa bumi di wilayah tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa berkurangnya beban air dalam jumlah besar dapat membuat kerak Bumi terangkat dan mengaktifkan kembali patahan lama yang sebelumnya tidak aktif.

Studi yang dipublikasikan pada 17 Januari di jurnal Geophysical Research Letters serta dilansir dari Live Science itu menambah bukti bahwa perubahan di permukaan Bumi, termasuk perubahan iklim dapat memengaruhi aktivitas geologi jauh di bawah tanah.

Danau Raksasa yang Menyusut

Sekitar 115.000 tahun lalu, Tibet selatan memiliki danau-danau raksasa, beberapa di antaranya membentang lebih dari 200 kilometer. Kini, ukurannya jauh lebih kecil. Salah satu contohnya adalah Nam Co Lake (Namtso), yang saat ini panjangnya sekitar 75 kilometer.

Tim peneliti yang dipimpin Chunrui Li dari Akademi Ilmu Geologi Tiongkok menduga bahwa penyusutan air danau dalam skala besar berdampak langsung pada kondisi geologi setempat. 

Danau-danau besar memberikan tekanan berat pada kerak Bumi. Ketika airnya berkurang, beban itu ikut hilang sehingga kerak perlahan terangkat. Fenomena ini seperti kapal yang naik ke permukaan saat muatannya dibongkar.

Berdasarkan analisis garis pantai purba dan pemodelan komputer, penyusutan air di Nam Co antara 115.000 hingga 30.000 tahun lalu menyebabkan pergeseran sekitar 15 meter pada patahan di sekitarnya. 

Sementara itu, danau-danau sekitar 100 kilometer di selatan wilayah tersebut kehilangan air lebih banyak lagi, dengan pergerakan patahan diperkirakan mencapai 70 meter.

Patahan Terus Bergerak Tiap Tahun

Secara rata-rata, patahan di kawasan itu bergerak sekitar 0,2 hingga 1,6 milimeter per tahun. Angka ini memang lebih kecil dibandingkan pergerakan San Andreas Fault di Amerika Serikat yang mencapai sekitar 20 milimeter per tahun. 

Namun, temuan ini penting karena menunjukkan bahwa proses di permukaan Bumi juga dapat memengaruhi aktivitas patahan, bukan hanya proses di kedalaman.

Wilayah Tibet sendiri memang aktif secara geologi akibat tumbukan antara Lempeng India dan Eurasia yang telah berlangsung sekitar 50 juta tahun. Tumbukan ini membuat tekanan menumpuk di kerak Bumi dan menciptakan banyak patahan purba yang siap bergerak kembali.

Para ahli menekankan bahwa perubahan beban air bukanlah penyebab utama gempa, melainkan faktor yang memengaruhi cara tekanan tektonik dilepaskan. 

Proses di Permukaan Berdampak pada Kondisi dalam Bumi

Matthew Fox dari University College London menambahkan bahwa proses di permukaan ternyata dapat memberi pengaruh kuat terhadap kondisi di dalam Bumi. Para geolog kini semakin menyadari pentingnya memahami keterkaitan antara proses di permukaan dan proses di kedalaman untuk menjelaskan evolusi bentang alam maupun wilayah tektonik.

Fenomena serupa juga pernah terjadi pada masa puncak zaman es terakhir sekitar 20.000 tahun lalu. Saat itu, lapisan es raksasa menekan sebagian besar Amerika Utara dan Eurasia. Ketika es mencair sekitar 10.000 tahun lalu, kerak Bumi yang sebelumnya tertekan mulai terangkat kembali dan hingga kini masih terus mengalami proses tersebut.

Beberapa peneliti bahkan menduga pencairan es ini berkontribusi pada gempa besar di Lembah Sungai Mississippi pada 1811–1812  yang terjadi jauh dari batas lempeng tektonik.

Temuan ini tidak berarti setiap danau yang mengering pasti akan memicu gempa. Gempa hanya mungkin terjadi di wilayah yang sudah memiliki akumulasi tekanan akibat aktivitas tektonik.

Namun demikian, studi ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim dan proses permukaan lainnya dapat memengaruhi kondisi tekanan di kerak Bumi. Karena itu, faktor-faktor tersebut dinilai perlu diperhitungkan dalam penilaian risiko gempa di masa depan. (Z-1)