Penelitian Terbaru: Jupiter Ternyata Lebih Kecil dari Perkiraan, ini Penjelasannya
JUPITER selama ini dikenal sebagai planet terbesar di Tata Surya. Namun, pengukuran terbaru menunjukkan bahwa ukuran planet raksasa gas tersebut ternyata tidak sebesar yang selama ini tercantum diperkirakan.
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting dari misi panjang wahana antariksa Juno.
Hasil pengukuran ulang menggunakan wahana antariksa Juno milik NASA mengungkap bahwa diameter Jupiter sedikit lebih kecil, baik di bagian ekuator maupun di kutub. Meski selisihnya hanya beberapa kilometer, temuan ini dinilai sangat penting bagi dunia astronomi.
“Buku pelajaran perlu diperbarui,” kata Yohai Kaspi dari Weizmann Institute, Israel, seperti dikutip dari Space.com.
Ia menegaskan bahwa Jupiter tidak mengalami perubahan ukuran, melainkan metode pengukurannya kini jauh lebih akurat.
Perbedaan Jarak Sebelum dan Sesudah Diukur Ulang
Selama ini, Jupiter tercatat memiliki diameter sekitar 142.984 kilometer di ekuator dan 133.708 kilometer dari kutub ke kutub. Bentuknya yang mengembung di bagian tengah dan pepat di kutub disebabkan oleh rotasinya yang sangat cepat, yakni kurang dari 10 jam per putaran.
Namun, data terbaru dari Juno menunjukkan bahwa diameter ekuator Jupiter sekitar 8 kilometer lebih kecil, sementara jarak dari kutub ke kutub berkurang sekitar 24 kilometer dibandingkan angka sebelumnya.
Perbedaan ini terjadi karena keterbatasan data lama. Pengukuran sebelumnya hanya mengandalkan enam titik data dari misi Pioneer 10 dan 11 serta Voyager 1 dan 2. Sebaliknya, Juno berhasil menambahkan 26 titik pengukuran baru sejak mengorbit Jupiter pada 2016.
Teori Perhitungan Baru
Sejak perpanjangan misi pada 2021, Juno menempuh lintasan berbeda yang memungkinkannya melintas di belakang Jupiter dari sudut pandang Bumi. Posisi ini sangat krusial karena memungkinkan ilmuwan mengukur pembiasan sinyal radio saat melewati atmosfer Jupiter.
Ketika sinyal radio Juno dibelokkan oleh atmosfer atas Jupiter atau terhalang oleh tubuh planet sebelum muncul kembali, para peneliti dapat menghitung ukuran Jupiter dengan tingkat presisi tinggi. Dari data tersebut, ilmuwan juga menyusun peta rinci suhu dan kerapatan atmosfer Jupiter.
“Kami melacak bagaimana sinyal radio berubah saat melewati atmosfer Jupiter, lalu menerjemahkannya menjadi gambaran paling jelas sejauh ini tentang bentuk dan ukuran planet tersebut,” ujar Maria Smirnova dari Weizmann Institute.
Meski selisih ukurannya tampak kecil, dampaknya sangat besar bagi pemodelan ilmiah. Eli Galanti, peneliti utama studi ini, menyebut perubahan beberapa kilometer saja sudah cukup untuk membuat model interior Jupiter jauh lebih sesuai dengan data gravitasi dan atmosfer.
“Perubahan kecil pada jari-jari Jupiter memungkinkan model internal planet ini bekerja jauh lebih baik,” kata Galanti.
Karena Jupiter menjadi acuan utama dalam memahami planet raksasa gas, revisi ukuran ini tidak hanya penting bagi studi Jupiter, tetapi juga bagi pemahaman planet-planet serupa di luar Tata Surya. Semakin akurat data Jupiter, semakin baik pula astronom memahami eksoplanet raksasa yang mengorbit bintang lain.
Sumber: NASA