Ketua Umum PBNU Temui Dubes AS Bahas Eskalasi Perang di Timur Tengah


Penulis: Rahmatul Fajri - 02 April 2026, 13:10 WIB
Antara

KETUA Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf melakukan pertemuan dengan Kuasa Usaha ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat, Peter M. Haymond, di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026). Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian diplomasi maraton PBNU untuk mendorong deeskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran.

Didampingi Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla dan Wasekjen PBNU M. Najib Azca, Gus Yahya menggali pandangan Washington terkait situasi terkini di zona konflik serta langkah perdamaian yang memungkinkan untuk ditempuh.

“Perang merupakan bencana kemanusiaan, kita harus memilih dialog dan diplomasi sebagai upaya penyelesaian konflik antarpihak," kata Gus Yahya dalam pertemuan tersebut.

Dalam diskusi tersebut, Peter Haymond mengungkapkan alasan di balik dukungan Amerika Serikat terhadap langkah militer Israel. Menurutnya, terdapat ancaman keamanan serius dari Iran terhadap Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan tersebut.

Haymond mengkhawatirkan jika langkah ofensif tidak diambil, senjata berbahaya, termasuk nuklir yang dikembangkan pemerintah Iran berpotensi jatuh ke tangan kelompok ekstremis atau teroris. Meski demikian, ia mengklaim pemerintah AS tetap berupaya mencari jalan keluar untuk menghentikan perang.

"Namun demikian, pemerintah AS juga ingin memastikan adanya jaminan keamanan bagi negaranya dan para sekutu utamanya, termasuk negara-negara Islam di Timur Tengah dan Israel," ungkap Haymond.

Soroti Pengiriman Pasukan Besar-besaran

Gus Yahya secara kritis mempertanyakan kontradiksi kebijakan AS yang mengaku mengupayakan damai, namun justru mengirimkan tentara dalam jumlah besar ke Timur Tengah. Langkah tersebut dinilai publik sebagai persiapan serangan darat besar-besaran ke wilayah Iran.

Menanggapi hal itu, Haymond menyebut pengerahan pasukan tersebut hanyalah langkah antisipatif. Ia berdalih hal itu disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika jalur diplomatik menemui kegagalan.

Lebih lanjut, Gus Yahya menegaskan posisi umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama, yang sangat menyesalkan terjadinya perang. Ia menyoroti banyaknya korban jiwa serta dampak buruk ekonomi-sosial yang dirasakan secara global.

Diplomasi ke Kedubes AS ini merupakan titik ketiga dalam rangkaian safari perdamaian PBNU, setelah sebelumnya Gus Yahya menemui Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi pada 27 Maret dan Duta Besar Arab Saudi Syekh Faisal Abdullah Al-Amudi pada 31 Maret lalu. (Faj/I-1)