Megawati Kirim Surat Duka ke Pemerintah Iran atas Wafatnya Ayatullah Khamenei
PRESIDEN ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengirimkan surat duka cita resmi kepada pemerintah Republik Islam Iran atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatllah Khamenei. Surat tersebut menjadi simbol solidaritas Indonesia terhadap situasi duka yang menyelimuti Iran.
Surat belasungkawa tersebut diserahkan oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, didampingi Ketua DPP Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah, kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Jakarta, Selasa (3/3) sore.
Poin-Poin Utama Surat Duka Megawati
Dalam naskah suratnya, Megawati menyampaikan beberapa poin krusial terkait wafatnya Ali Khamenei dan situasi geopolitik saat ini:
- Duka Mendalam: Megawati menyatakan rasa terkejut dan simpati yang tulus atas nama pribadi, keluarga besar Bung Karno, serta keluarga besar PDI Perjuangan.
- Kecaman Agresi: Menegaskan sikap menolak keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian dunia.
- Visi Perdamaian: Menekankan bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan pada hukum internasional.
- Kenangan Diplomasi: Mengenang pertemuan hangat dengan Ayatollah Ali Khamenei pada tahun 2004 di Teheran yang memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
"Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno serta mewakili bangsa dan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, saya menyampaikan simpati dan solidaritas kami yang tulus bagi keluarga, pemerintah, dan seluruh rakyat Iran," tulis Megawati dalam suratnya.
Hubungan Historis Indonesia-Iran
Hasto Kristiyanto menjelaskan bahwa langkah Megawati ini didasari oleh kedekatan historis dan ideologis antara Indonesia dan Iran yang telah terjalin sejak era Presiden Soekarno. Semangat anti-kolonialisme dan solidaritas negara-negara dunia ketiga menjadi fondasi kuat hubungan kedua bangsa.
Wafatnya Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 telah memicu gelombang duka internasional. Pemerintah Iran sendiri telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sang pemimpin tertinggi yang telah menjabat sejak tahun 1989 tersebut. (E-4)