Jalan Salib di Labuan Bajo: Simbol Pablo dan Seruan Pertobatan Ekologis


Penulis:  Marianus Marselus - 03 April 2026, 12:40 WIB
MI/Marianus

PROSESI Jalan Salib di Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat Agung (3/4), berlangsung khusyuk dan sarat makna. Tahun ini, umat tidak hanya diajak mengenang sengsara Kristus, tetapi juga merenungkan panggilan pertobatan ekologis melalui kehadiran simbol Pablo yang diarak sepanjang rute prosesi.

Pablo menjadi elemen visual yang mencuri perhatian umat. Simbol tersebut dihadirkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Roh Kudus Labuan Bajo sebagai representasi luka bumi akibat kerusakan lingkungan. Dalam prosesi yang menempuh jarak sekitar dua kilometer dengan berjalan kaki, umat mengikuti setiap perhentian Jalan Salib dengan penuh penghayatan, sembari membawa intensi doa bagi keselamatan ciptaan.

Sepanjang perjalanan, suasana hening dan reflektif terasa kuat. Umat dari berbagai kalangan berjalan beriringan, mengenang penderitaan Yesus sekaligus mengaitkannya dengan realitas krisis ekologis yang semakin nyata. Kehadiran Pablo menjadi pengingat bahwa dosa manusia terhadap alam juga merupakan bagian dari salib yang harus dipikul bersama.

Prosesi ini menjadi bentuk konkret keterlibatan kaum muda dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan. OMK tidak hanya berperan sebagai penggerak kegiatan, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mengajak umat untuk membangun kesadaran baru tentang pentingnya menjaga keutuhan ciptaan.

Pesan Moral dalam Surat Gembala

Pesan pertobatan ekologis yang diusung dalam Jalan Salib ini sejalan dengan semangat Surat Gembala Keuskupan Labuan Bajo yang menekankan urgensi merawat bumi sebagai rumah bersama. Dalam surat tersebut, umat diajak untuk melihat kerusakan lingkungan sebagai persoalan moral dan spiritual, bukan semata-mata isu teknis.

Uskup Labuan Bajo dalam Surat Gembalanya menegaskan bahwa krisis ekologis tidak bisa dipisahkan dari krisis iman dan cara pandang manusia terhadap ciptaan. Ia menekankan pentingnya perubahan gaya hidup sebagai bentuk pertobatan yang nyata.

"Kerusakan lingkungan adalah cermin dari relasi manusia yang retak dengan Tuhan, sesama, dan alam. Pertobatan ekologis bukan pilihan tambahan, melainkan panggilan iman yang mendesak," tegas Uskup Labuan Bajo, Prof. Mgr. Maximus Regus, Jumat (3/4).

Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab merawat bumi harus dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dilakukan secara konsisten dan kolektif.

"Kita dipanggil untuk mengubah cara hidup yang eksploitatif menjadi cara hidup yang menghargai dan merawat. Setiap tindakan kecil, bila dilakukan bersama, akan menjadi gerakan besar yang menyelamatkan rumah bersama kita," lanjutnya.

Surat Gembala juga menggarisbawahi pentingnya peran umat Katolik dalam menjadi teladan di tengah masyarakat. Kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada seremoni keagamaan, tetapi harus menjadi bagian dari praktik hidup sehari-hari.

Dengan memadukan refleksi iman dan isu ekologis, Jalan Salib di Labuan Bajo tahun ini menghadirkan dimensi baru dalam perayaan Jumat Agung. Umat diajak untuk tidak hanya memaknai penderitaan Kristus secara spiritual, tetapi juga menerjemahkannya dalam tanggung jawab konkret terhadap bumi.

Prosesi yang berlangsung sederhana tetapi penuh makna ini menjadi penegasan bahwa iman dan kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan. Pertobatan sejati tidak hanya menyentuh relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama dan seluruh ciptaan. (I-2)