Longsor Sibio-bio, Tujuh Warga Hilang dan Penanganan Dipertanyakan
BENCANA tanah longsor yang melanda Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, pada 25 November sekitar pukul 11.00 WIB menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Hingga kini, tujuh warga dilaporkan hilang dan penanganan pascabencana dinilai belum maksimal.
Desa Sibio-bio yang dihuni sekitar 200 kepala keluarga mengandalkan akses utama berupa jembatan gantung yang menghubungkan Muara Sibuntuon dengan desa tersebut. Kondisi geografis ini membuat mobilitas warga cukup terbatas, terutama saat terjadi bencana.
Tujuh warga yang dilaporkan hilang masing-masing Mitaria Telan Banua (36), Johanes Sehati Laoly (14), Jesen Jaluhu (40), Yuliadi Telan Banua (42), Radina Mendrofa (58), Olifia Zebua (18), dan Yostoni Laoly (44).
Opernius Laoly, suami dari Mitaria Telan Banua sekaligus ayah dari Johanes Sehati Laoly, Jumat (20/2) mengaku hingga kini masih menunggu kepastian nasib anggota keluarganya. Ia kini tinggal bersama tiga anaknya, sementara istri dan anak ketiganya belum diketahui keberadaannya sejak kejadian.
“Anak saya tinggal bersama saya tiga orang, sedangkan istri dan anak saya yang nomor tiga sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Obadia Zebua (44) yang kehilangan istrinya, Yuliadi Telan Banua (42). Ia menyebut pencarian telah dilakukan secara swadaya bersama masyarakat, namun belum membuahkan hasil.
Keluarga korban menilai sejak hari kejadian hingga saat ini belum ada langkah maksimal dari pemerintah dalam upaya pencarian korban longsor. Mereka menegaskan korban yang hilang merupakan korban longsor, bukan banjir.
Pada 12 Februari, pihak kecamatan sempat melakukan pencarian, namun upaya tersebut mendapat penolakan warga yang kecewa terhadap lambannya penanganan.
Kondisi para korban semakin memprihatinkan karena selain kehilangan anggota keluarga, mereka juga kehilangan rumah tinggal akibat bencana. Hingga kini, penanganan dan kepastian nasib korban masih menjadi pertanyaan bagi masyarakat.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik dalam pencarian korban maupun pemulihan kondisi masyarakat terdampak.
Kepala Desa Sibio-bio, Dami Anus Jendrato, saat dikonfirmasi Jumat (20/2) melalui pesan WhatsApp terkait kondisi tersebut, telah diajukan sejumlah pertanyaan mengenai tanggung jawab pemerintah desa, proses pencarian korban, serta pengalokasian Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh jawaban resmi dari Kepala Desa Sibio-bio. (H-3)