Apa Itu Andilan Kebo? Mengenal Tradisi Patungan Daging Lebaran Khas Betawi.


Penulis: Akmal Fauzi - 19 March 2026, 14:45 WIB
ANTARA FOTO/Arnas Padda

DI tengah modernitas Jakarta, tradisi leluhur masyarakat Betawi bernama "Andilan Kebo" terbukti masih terjaga. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut tradisi ini bukan sekadar ritual memotong hewan, melainkan pengingat pentingnya menjaga identitas budaya dan semangat gotong royong di kota metropolitan.

“Dengan semangat kebersamaan melalui 'Andilan Kebo' ini, saya jujur agak terkejut. Ternyata di Jakarta masih ada kegiatan seperti ini. Saya jadi ingat masa kecil saya di Kemayoran, ketika masyarakat saling berbagi sesuai kemampuan,” kata Rano di Jakarta, Kamis (19/3).

Filosofi Patungan dan Keadilan

"Andilan Kebo" secara harfiah berarti patungan untuk membeli hewan ternak (kerbau atau sapi) yang kemudian hasilnya dibagikan kepada warga. Uniknya, besaran kontribusi tidak dipatok rata, melainkan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing warga. Hal inilah yang dinilai mencerminkan nilai keadilan yang nyata.

Meski mulai langka, tradisi ini terpantau masih dijalankan oleh masyarakat Betawi di beberapa wilayah, seperti Kedoya (Jakarta Barat) dan Pondok Ranggon (Jakarta Timur).

Prosesi Menjelang Lebaran

Dikutip dari Harian Media Indonesia edisi 3 Agustus 2013, tradisi ini biasanya dilakukan dua hari sebelum Idul Fitri. Uang iuran dikumpulkan secara bertahap melalui pertemuan warga atau pengajian, mulai dari iuran mingguan hingga bulanan.

Setelah dana terkumpul, warga akan membeli seekor kerbau, biasanya sebulan sebelum puasa, untuk kemudian dipelihara agar kondisinya sehat dan gemuk saat hari pemotongan tiba.

"Waktu pemotongan kerbau pada 90-an, kebetulan saya pernah mimpin acara motong kebo andilan. Kulit biasanya untuk tukang potong dan bagian kepala untuk saya," aku Umar Adria, seorang sesepuh di wilayah Kedoya, Jakarta Barat.

Makna Kepala Kerbau dan Kebersamaan

Dalam budaya Betawi, bagian kepala kerbau memiliki simbolisme tinggi. Dahulu, bagian ini diperuntukkan bagi sosok yang paling dihormati atau tuan tanah. Namun, saat ini penentuannya dilakukan melalui musyawarah.

"Dulu, Kebon Jeruk, Daan Mogot, dan Pejompongan masih berupa kampung-kampung sehingga banyak komunitas Betawi. Sosok yang dituakan biasanya para haji. Kalau di luar Betawi seperti kepala adat," ujar Umar menjelaskan pergeseran sosial di Jakarta.

Setelah pemotongan selesai, seluruh elemen warga berbagi peran. Kaum pria membersihkan daging, anak muda menyiapkan perlengkapan, sementara kaum ibu mengolah daging menjadi masakan khas seperti semur dan pindang daging.

"Kalau sudah begitu, wah sangat terasa kebersamaannya," sambung Umar. Melalui tradisi ini, masyarakat Betawi tidak hanya berbagi hidangan lezat di hari raya, tetapi juga merawat rasa syukur kepada Tuhan serta mempererat tali persaudaraan antar-tetangga.

(Ant/P-4)