Antisipasi Banjir, Pemprov DKI Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan tetap menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi bencana. Upaya ini akan difokuskan jika intensitas curah hujan diprediksi menembus angka di atas 200 milimeter (mm) per hari.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan ketat terhadap data cuaca yang disuplai oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Yang jelas Pemerintah DKI Jakarta mengantisipasi segala kemungkinan. Karena data dari BMKG itu setiap hari kita terima. Kami nggak perlu lagi menyampaikan bahwa perlu dilakukan,” ujar Pramono di Jakarta Selatan, Jumat (20/2).
Fokus Wilayah Penyangga
Pramono menjelaskan, keputusan pelaksanaan OMC sangat bergantung pada ambang batas curah hujan. Jika pantauan menunjukkan angka di bawah 200 mm, operasi tersebut tidak akan dilakukan. Namun, koordinasi lintas wilayah tetap menjadi prioritas.
Pemprov DKI Jakarta diketahui turut berkontribusi dalam pelaksanaan OMC di wilayah penyangga, termasuk Depok, Tangerang, dan sekitarnya. Langkah ini diambil mengingat posisi Jakarta yang sangat terdampak oleh kondisi cuaca di wilayah sekitar (hulu).
Selain itu, Pemprov Jakarta menjalin sinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperluas jangkauan modifikasi cuaca jika diperlukan.
Efektivitas Penurunan Hujan
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Isnawa Adji, memaparkan data efektivitas OMC yang telah berjalan selama ini. Hasil evaluasi menunjukkan adanya dampak signifikan terhadap pengendalian debit air di Ibu Kota.
“Berdasarkan hasil evaluasi data curah hujan, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca sejak 30 Januari hingga hari ini terindikasi mampu menurunkan curah hujan sebesar 23,85 persen,” ungkap Isnawa.
Isnawa menambahkan, strategi ini merupakan bagian dari komitmen Pemprov DKI untuk meminimalisasi risiko banjir dan titik genangan yang sering mengganggu mobilitas warga saat puncak musim hujan. (Ant/P-2)