Lawan "Chocflation", Startup Singapura Ciptakan Bubuk Cokelat Tanpa Biji Kakao
FENOMENA "chocflation" atau inflasi cokelat kini tengah menyisakan rasa pahit bagi para pencinta cokelat di seluruh dunia. Setelah harga kakao mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada 2024 akibat kekeringan di Afrika Barat, merek-merek besar seperti Lindt dan Hershey terpaksa menaikkan harga hingga dua digit.
Di tengah ketidakpastian pasar ini, sebuah startup teknologi pangan asal Singapura, Prefer, menawarkan solusi inovatif: bubuk cokelat tanpa biji kakao.
"Sederhananya, kami mampu menciptakan rasa dan bahan cokelat tanpa menggunakan biji kakao," ujar Jake Berber, salah satu pendiri Prefer yang didirikan pada 2022.
Inovasi dari Fermentasi Serealia
Produk unggulan mereka, PreferChoc, diproduksi melalui proses fermentasi dan pemanggangan biji-bijian serta serealia. Meski Berber belum merinci seluruh bahannya karena masih dalam tahap pengembangan, ia mengungkapkan bahwa bahan utamanya mirip dengan produk kopi tanpa biji mereka, yakni beras dan buncis (chickpeas).
Berber menjelaskan target utama Prefer adalah menjadi pemasok bagi produsen cokelat besar. Dengan mencampur PreferChoc dan bubuk kakao tradisional pada tingkat 30-50%, Berber mengklaim rasa produk akhir tidak akan berubah, namun biaya produksi bisa ditekan secara signifikan.
"Kami yakin dapat membantu produsen cokelat mengurangi biaya bubuk kakao mereka hingga 50%," tegas Berber. Rencananya, PreferChoc akan diluncurkan secara komersial pada tahun 2026.
Lebih Ramah Lingkungan
Selain soal harga, inovasi ini juga membawa misi keberlanjutan. Produksi cokelat hitam tradisional diketahui memiliki jejak karbon yang besar dan sering kali memicu deforestasi di wilayah seperti Pantai Gading dan Ghana.
Analisis independen menunjukkan bahwa metode produksi Prefer menghasilkan emisi gas karbon sembilan kali lebih rendah dibandingkan kopi tradisional. Mirte Gosker, Managing Director Asia Pasifik di Good Food Institute (GFI), melihat sektor pangan berbasis fermentasi ini sebagai peluang besar.
"Bioreaktor yang digunakan sangat efisien tempat. Saat fasilitas ini ditingkatkan skalanya, fermentasi dapat menghasilkan berton-ton biomassa setiap jam dengan sumber daya alam yang lebih sedikit," jelas Gosker.
Tantangan Investasi dan Skala Produksi
Meski Prefer telah mengumpulkan investasi sebesar US$7 juta, perusahaan ini belum mencetak laba. Tahun ini, mereka berencana mencari pendanaan tambahan untuk membangun pabrik guna meningkatkan skala produksi.
Berber menekankan kehadirannya bukan untuk melawan industri cokelat konvensional, melainkan bekerja sama demi menekan harga bagi konsumen.
"Konsumen tidak meminta alternatif kopi atau cokelat, mereka mengeluh soal harga yang semakin mahal," kata Berber. "Solusinya adalah menciptakan produk hibrida yang rasanya sama, namun harganya lebih terjangkau."
Ke depannya, Prefer juga berencana merambah ke bahan lain yang mengalami gangguan rantai pasokan, seperti vanila dan kacang hazel. (CNN/Z-2)